Senin, 12 Januari 2009

Mengapa ISRAEL TIDAK MUNGKIN MENANG ?

sumber: milis

 

Ass.Wr.Wb.

 

Sejumlah media AS mengakui bila Israel akan sulit menaklukan Hamas. Berikut tulisan di Kompas, dan silakan simak di majalah TIME http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1870314,00.html dan NEWSWEK http://http://www.newsweek.com/id/177840. Newsweek mengutip sumber yang dekat dengan PM Israel Ehud Olmert meyebut, ada dua tujuan mengapa Olmert menyerang Gaza: 1) menghentikan roket-roket Hamas ke wilayahnya dan memaksanya untuk gencatan senjata; 2) ambisi penuh risiko Olmert yaitu menggerus total Hamas. Serbuan roket udara yang diikuti serangan artileri darat dan infanteri, harapan Olmert adalah memberi peluang pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang berasal dari partai nasionalis Palestina, Fatah, untuk mengontrol Gaza yang dikuasai Hamas, sehingga menurutnya, akan memudahkan menggiring negosiasi Palestina melalui Fatah. Dengan hancurnya Hamas, Olmert percaya bahwa itu adalah peluang bagi Israel dan warga Palestina dapat melunak untuk kembali ke rencana negosiasi dengan Abbas seperti 2007 lalu.

 

“Mimpi kali ye..” (Wishful thinking? Problably) ujar Newsweek. Penulisnya mengurai mengapa Olmert gagal, dan “proses damai” tak berarti apa2. Motivasi pribadi Olmert di Gaza lebih banyak karena kebutuhan dalam negeri ketimbang kebijakan luar negerinya, sebutnya. Di dalam negeri Olmert melemah dan menghadapi tuntutan korupsi, dan dengan serangan ini dia berharap sekaligus dapat membersihkan noda warisannya.

 

Majalah The Economist http://www.economist.com/opinion/displaystory.cfm?story_id=12899483 juga senada. Menurutnya, bahkan bila Israel “menang” di Gaza, perang ratusan tahun tidak dapat mendiamkan warga Palestina dengan kekuatan brutal. Menurut Economist, Hamas akan tetap survive, dan dengan berbagai kerusakannya akibat serangan itu menyebabkan sebagian besar warga Arab akan kian setuju bahwa Israel harus enyah di Timur Tengah.

 

Seperti halnya serangan ke Lebanon pada waktu lalu yang dikatakan gagal, serbuan kali ini pun hanya akan semakin memperhitam wajah Israel di dunia dan sebaliknya memenangkan para musuhnya secara moral. Para pengamat memperkirakan, dengan dua serangan itu, Lebanon 2007 dan Gaza sekarang, yang keduanya di era Olmert, memantaskannya untuk diadili di kursi pesakitan pengadilan penjahat perang, bersama rekannya, George Bush! (yang menyerang Irak dan mendukung Olmert).

 

Wassalam

 

Mengapa Israel Tak Mungkin Menang
Kompas, Minggu, 11 Januari 2009
Perang Israel melawan Hamas telah menjadi semakin berisiko. Israel tetap menggempur Jalur Gaza kendati Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan Resolusi Nomor 1860 yang menyerukan gencatan senjata. Bagaimana konflik di Jalur Gaza itu akan berakhir?

Majalah Time menurunkan laporan mengenai mengapa Israel tidak bisa memenangi pertempuran itu.

Faktanya, apa yang didapat Israel tampaknya semakin kecil dibandingkan dengan ongkos yang semakin besar. Ketika melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada 27 Desember 2008, ”cita-cita” Israel adalah melihat para komandan Hamas keluar dari bungker-bungker di bawah tanah dengan tangan terangkat ke atas.

Sayangnya, yang didapat Israel pada akhirnya justru tidak memuaskan. Akhir yang realistis paling-paling hanya gencatan senjata yang menyisakan Hamas yang terluka tetapi tetap hidup dan mampu bangkit kembali. Israel pun hanya bisa sementara waktu aman dari gangguan.

Serangan membabi buta ke Jalur Gaza hanya akan menurunkan kemampuan Hamas untuk menembakkan roket ke Israel. Namun, serangan itu tidak akan bisa memadamkan semangat ideologi Hamas.

Kalaupun ada keuntungan bagi Israel, jika benar-benar bisa menghentikan tembakan roket Hamas, adalah bagi para politisi yang akan maju pemilu nasional, bulan depan, seperti Menteri Luar Negeri Tzipi Livni atau Menteri Pertahanan Ehud Barak. Tidak lebih.

Barangkali, yang lebih mengancam Israel saat ini bukanlah tembakan roket itu sendiri, melainkan kekuatan untuk menggertak (power of detterence) Israel yang mulai diragukan.

Semula kekuatan penggertak itulah yang menjadi kunci bagi Israel untuk menjaga lawan-lawannya tetap berada di sudut yang jauh. Kekuatan itu mulai terkikis tahun 2006 saat Hezbollah di Lebanon selatan mampu bertahan dari gempuran Israel.

Seperti halnya Hezbollah, Hamas akan menyatakan dirinya menang. Hamas menunjukkan diri mampu bertahan menghadapi gempuran langsung dari kekuatan militer yang jauh lebih besar.

Justru Israel berisiko kehilangan sekutu-sekutu Arab, yang semula telah melunak dan bersedia mengakui Israel. Bagaimana mungkin kini mereka mau bekerja sama dengan Israel saat mendapati saudara-saudara Arab mereka dibantai di Jalur Gaza.

Tidak kalah

Satu hal yang perlu diakui para pemimpin Israel adalah Hamas tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan militer. Pelajaran dari serangan terhadap Hezbollah tentu tidak mudah dilupakan Israel.

Israel harus merangkul Hamas secara politik. Itu artinya, Israel harus bersedia berurusan dengan semacam pemerintahan persatuan yang meliputi Hamas di dalamnya.

Apalagi Israel juga harus menghadapi kenyataan bahwa negara yang dicita-citakannya, negara Yahudi yang terbentang dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania, tidak akan terwujud tanpa berdirinya negara Palestina yang merdeka.

Israel harus berhitung dengan populasi Yahudi di negaranya yang suatu saat bisa kalah jumlah oleh bangsa Arab di tanah itu. Israel, yang mendefinisikan diri melalui kepercayaannya, yaitu Yahudi, tentu tidak ingin melihat kaumnya menjadi minoritas di tanah mereka sendiri.

Mantan PM Israel yang paling keras sekalipun, Ariel Sharon, takut akan hal ini. ”Jika kita ingin melestarikan Yahudi dan demokrasinya, kita harus melepaskan sebagian tanah air kita,” katanya.

Kompromi menyakitkan

Artikel di majalah Newsweek edisi 12 Januari 2009 menyebutkan, ada empat persoalan utama yang perlu segera diselesaikan, yaitu soal wilayah, keamanan, status Jerusalem, dan pengungsi Palestina. Mengurai persoalan dan mencari solusi menang-menang harus dimulai kembali dari keempat persoalan pokok itu yang kini malah terabaikan sejak tahun 2000.

Kompromi yang menyakitkan bagi kedua pihak harus ditempuh jika perdamaian abadi ingin diwujudkan. Fakta bahwa Ehud Olmert bersedia bernegosiasi, Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga bersedia berunding, menggarisbawahi hubungan keduanya. Yakni, hanya ada satu jalan menuju perdamaian, kedua pihak mengetahui jalan itu, tetapi keduanya tidak bersedia untuk menjalaninya.

”Waktu tidak lagi berada di pihak Israel,” demikian Newsweek.

Sejauh ini, pertumpahan darah di Gaza tidak banyak mengubah perimbangan. Hamas kehilangan banyak secara fisik, tetapi dia memenangi simpati. Namun, bukan tidak mungkin warga Gaza juga mempertanyakan, untuk apa semua penderitaan yang mereka alami.

Majalah The Economist edisi 3-9 Januari 2009 menyebutkan, ada konsesi yang diperoleh warga Gaza, seperti pelonggaran blokade oleh Israel yang telah membuat mereka menderita secara ekonomi. Gerbang perbatasan dengan Mesir pun kemungkinan akan dibuka.

Selama 60 tahun, konflik mendera tanpa ada akhir. Dewan Keamanan PBB sekalipun tidak digubris. Kekerasan akan menjadi lingkaran yang tidak terputus di wilayah itu selama tidak ada ruang bagi kompromi dan ketulusan. (fro)
 
Simak pula majalah TIME: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1870314,00.html
NEWSWEEK: , http://www.newsweek.com/id/177840
The Economist http://www.economist.com/opinion/displaystory.cfm?story_id=12899483

Mengapa ISRAEL TIDAK MUNGKIN MENANG ?

sumber: milis

 

Ass.Wr.Wb.

 

Sejumlah media AS mengakui bila Israel akan sulit menaklukan Hamas. Berikut tulisan di Kompas, dan silakan simak di majalah TIME http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1870314,00.html dan NEWSWEK http://http://www.newsweek.com/id/177840. Newsweek mengutip sumber yang dekat dengan PM Israel Ehud Olmert meyebut, ada dua tujuan mengapa Olmert menyerang Gaza: 1) menghentikan roket-roket Hamas ke wilayahnya dan memaksanya untuk gencatan senjata; 2) ambisi penuh risiko Olmert yaitu menggerus total Hamas. Serbuan roket udara yang diikuti serangan artileri darat dan infanteri, harapan Olmert adalah memberi peluang pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang berasal dari partai nasionalis Palestina, Fatah, untuk mengontrol Gaza yang dikuasai Hamas, sehingga menurutnya, akan memudahkan menggiring negosiasi Palestina melalui Fatah. Dengan hancurnya Hamas, Olmert percaya bahwa itu adalah peluang bagi Israel dan warga Palestina dapat melunak untuk kembali ke rencana negosiasi dengan Abbas seperti 2007 lalu.

 

“Mimpi kali ye..” (Wishful thinking? Problably) ujar Newsweek. Penulisnya mengurai mengapa Olmert gagal, dan “proses damai” tak berarti apa2. Motivasi pribadi Olmert di Gaza lebih banyak karena kebutuhan dalam negeri ketimbang kebijakan luar negerinya, sebutnya. Di dalam negeri Olmert melemah dan menghadapi tuntutan korupsi, dan dengan serangan ini dia berharap sekaligus dapat membersihkan noda warisannya.

 

Majalah The Economist http://www.economist.com/opinion/displaystory.cfm?story_id=12899483 juga senada. Menurutnya, bahkan bila Israel “menang” di Gaza, perang ratusan tahun tidak dapat mendiamkan warga Palestina dengan kekuatan brutal. Menurut Economist, Hamas akan tetap survive, dan dengan berbagai kerusakannya akibat serangan itu menyebabkan sebagian besar warga Arab akan kian setuju bahwa Israel harus enyah di Timur Tengah.

 

Seperti halnya serangan ke Lebanon pada waktu lalu yang dikatakan gagal, serbuan kali ini pun hanya akan semakin memperhitam wajah Israel di dunia dan sebaliknya memenangkan para musuhnya secara moral. Para pengamat memperkirakan, dengan dua serangan itu, Lebanon 2007 dan Gaza sekarang, yang keduanya di era Olmert, memantaskannya untuk diadili di kursi pesakitan pengadilan penjahat perang, bersama rekannya, George Bush! (yang menyerang Irak dan mendukung Olmert).

 

Wassalam

 

Mengapa Israel Tak Mungkin Menang
Kompas, Minggu, 11 Januari 2009
Perang Israel melawan Hamas telah menjadi semakin berisiko. Israel tetap menggempur Jalur Gaza kendati Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan Resolusi Nomor 1860 yang menyerukan gencatan senjata. Bagaimana konflik di Jalur Gaza itu akan berakhir?

Majalah Time menurunkan laporan mengenai mengapa Israel tidak bisa memenangi pertempuran itu.

Faktanya, apa yang didapat Israel tampaknya semakin kecil dibandingkan dengan ongkos yang semakin besar. Ketika melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada 27 Desember 2008, ”cita-cita” Israel adalah melihat para komandan Hamas keluar dari bungker-bungker di bawah tanah dengan tangan terangkat ke atas.

Sayangnya, yang didapat Israel pada akhirnya justru tidak memuaskan. Akhir yang realistis paling-paling hanya gencatan senjata yang menyisakan Hamas yang terluka tetapi tetap hidup dan mampu bangkit kembali. Israel pun hanya bisa sementara waktu aman dari gangguan.

Serangan membabi buta ke Jalur Gaza hanya akan menurunkan kemampuan Hamas untuk menembakkan roket ke Israel. Namun, serangan itu tidak akan bisa memadamkan semangat ideologi Hamas.

Kalaupun ada keuntungan bagi Israel, jika benar-benar bisa menghentikan tembakan roket Hamas, adalah bagi para politisi yang akan maju pemilu nasional, bulan depan, seperti Menteri Luar Negeri Tzipi Livni atau Menteri Pertahanan Ehud Barak. Tidak lebih.

Barangkali, yang lebih mengancam Israel saat ini bukanlah tembakan roket itu sendiri, melainkan kekuatan untuk menggertak (power of detterence) Israel yang mulai diragukan.

Semula kekuatan penggertak itulah yang menjadi kunci bagi Israel untuk menjaga lawan-lawannya tetap berada di sudut yang jauh. Kekuatan itu mulai terkikis tahun 2006 saat Hezbollah di Lebanon selatan mampu bertahan dari gempuran Israel.

Seperti halnya Hezbollah, Hamas akan menyatakan dirinya menang. Hamas menunjukkan diri mampu bertahan menghadapi gempuran langsung dari kekuatan militer yang jauh lebih besar.

Justru Israel berisiko kehilangan sekutu-sekutu Arab, yang semula telah melunak dan bersedia mengakui Israel. Bagaimana mungkin kini mereka mau bekerja sama dengan Israel saat mendapati saudara-saudara Arab mereka dibantai di Jalur Gaza.

Tidak kalah

Satu hal yang perlu diakui para pemimpin Israel adalah Hamas tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan militer. Pelajaran dari serangan terhadap Hezbollah tentu tidak mudah dilupakan Israel.

Israel harus merangkul Hamas secara politik. Itu artinya, Israel harus bersedia berurusan dengan semacam pemerintahan persatuan yang meliputi Hamas di dalamnya.

Apalagi Israel juga harus menghadapi kenyataan bahwa negara yang dicita-citakannya, negara Yahudi yang terbentang dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania, tidak akan terwujud tanpa berdirinya negara Palestina yang merdeka.

Israel harus berhitung dengan populasi Yahudi di negaranya yang suatu saat bisa kalah jumlah oleh bangsa Arab di tanah itu. Israel, yang mendefinisikan diri melalui kepercayaannya, yaitu Yahudi, tentu tidak ingin melihat kaumnya menjadi minoritas di tanah mereka sendiri.

Mantan PM Israel yang paling keras sekalipun, Ariel Sharon, takut akan hal ini. ”Jika kita ingin melestarikan Yahudi dan demokrasinya, kita harus melepaskan sebagian tanah air kita,” katanya.

Kompromi menyakitkan

Artikel di majalah Newsweek edisi 12 Januari 2009 menyebutkan, ada empat persoalan utama yang perlu segera diselesaikan, yaitu soal wilayah, keamanan, status Jerusalem, dan pengungsi Palestina. Mengurai persoalan dan mencari solusi menang-menang harus dimulai kembali dari keempat persoalan pokok itu yang kini malah terabaikan sejak tahun 2000.

Kompromi yang menyakitkan bagi kedua pihak harus ditempuh jika perdamaian abadi ingin diwujudkan. Fakta bahwa Ehud Olmert bersedia bernegosiasi, Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga bersedia berunding, menggarisbawahi hubungan keduanya. Yakni, hanya ada satu jalan menuju perdamaian, kedua pihak mengetahui jalan itu, tetapi keduanya tidak bersedia untuk menjalaninya.

”Waktu tidak lagi berada di pihak Israel,” demikian Newsweek.

Sejauh ini, pertumpahan darah di Gaza tidak banyak mengubah perimbangan. Hamas kehilangan banyak secara fisik, tetapi dia memenangi simpati. Namun, bukan tidak mungkin warga Gaza juga mempertanyakan, untuk apa semua penderitaan yang mereka alami.

Majalah The Economist edisi 3-9 Januari 2009 menyebutkan, ada konsesi yang diperoleh warga Gaza, seperti pelonggaran blokade oleh Israel yang telah membuat mereka menderita secara ekonomi. Gerbang perbatasan dengan Mesir pun kemungkinan akan dibuka.

Selama 60 tahun, konflik mendera tanpa ada akhir. Dewan Keamanan PBB sekalipun tidak digubris. Kekerasan akan menjadi lingkaran yang tidak terputus di wilayah itu selama tidak ada ruang bagi kompromi dan ketulusan. (fro)
 
Simak pula majalah TIME: http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1870314,00.html
NEWSWEEK: , http://www.newsweek.com/id/177840
The Economist http://www.economist.com/opinion/displaystory.cfm?story_id=12899483

AKAR KONFLIK PALESTINA-ISRAEL

sumber: http://kelompokdiskusi.multiply.com/journal/item/3772/Special_Akar_Konflik_Palestina-Israel_fw

by: arul

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara dengan
TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember
lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama puluhan tahun. Dalam
ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan Israel kali ini merupakan
kejadian paling buruk sejak 60 tahun terakhir (sejak Israel berdiri tahun
1948). Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa
berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk
keras serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan
serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan cadangan
sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud Barak, yaitu
menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan bangsa
lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. Disana terbentang
benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad shallallah 'alaihi
wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi,
konflik antara Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik antara Musa dengan
Fir'aun, bahkan konflik antara Yusuf 'alaihissalam dengan
saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta'ala
dengan iblis laknatullah 'alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah Anda
akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman modern yang penuh
kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri
adalah bangsa "terkuat di dunia", dalam arti: merekalah satu-satunya ras
manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah Ta'ala.

Sejarah Kebangkitan Yahudi

Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali
catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan menemukan
bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh. Jika tidak
demikian, maka kita hanya akan "konsumen terbaik" berita-berita media massa
seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai sejak era Perang
Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, Intifadhah akhir 80-an,
tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh
Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll.. sampai serangan Israel saat ini.
Dan rata-rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para
pelakunya saja.

Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia, dengan
memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta'ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim 'alaihissalam. Ibrahim
memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq 'alaihimassalam. Ismail nanti menurunkan
keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq mempunyai anak Ya'qub
'alaihissalam. Nah, Ya'qub inilah yang kemudian disebut Israil, sehingga
anak-anak Ya'qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju kepada
anak-anak Ya'qub. Mereka adalah Yusuf 'alaihissalam, Benyamin, dan 11
saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya dengan matahari,
bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi Yusuf sedang bersujud
kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan "angka keramat" bagi Yahudi sampai
saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari karakter 13 ini.


[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu: sifat
keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari garis Yusuf
'alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari sifat saudara-saudara
Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah tampak bakat-bakat kelicikan,
dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu sebatas potensi, bukan
kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat Ya'qub, seluruh anak-anaknya
tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani
Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun
setelah kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti
agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka
seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf 'alaihissalam
bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf membantu
bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir di wilayah
Kan'an. Disana Ya'qub dan anak-keturunannya mulai membangun kehidupan.
Mereka memilih tinggal di Kan'an sebab dekat dengan Mesir yang makmur,
sedang di tempat asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan
Ya'qub sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan
bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya'qub lama-lama menjadi buruk. Alih-alih
Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan
Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh Ya'qub dan Yusuf,
nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal itu bisa terjadi
karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas bangsa Mesir.
Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada
Yusuf, kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan saja
karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan karakter sebuah
bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun mereka tertindas oleh
sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi anugerah berupa bakat-bakat
kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di bawah sistem
perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa.
Oleh karena itu Allah Ta'ala mendatangkan Musa dan Harun 'alaihimassalam
untuk menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan
Fir'aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari
penindasan Fir'aun. Dalam Al Qur'an: Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun,
sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib
atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari
Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku." (Al A'raaf:
104-105). Musa tidak pernah diperintahkan untuk memerangi Fir'aun, tetapi
membawa Bani Israil tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan
Palestina). [Perlu dicatat juga, Fir'aun (Pharaoh) adalah gelar raja-raja
Mesir, bukan nama seseorang. Sedangkan Fir'aun yang tenggelam di Laut Merah
bukanlah Fir'aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut
janggutnya oleh Musa. Fir'aun dalam Al Qur'an lebih mencerminkan tabiat
kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir'aun dan bala
tentaranya tenggelam di Laut Merah. Lalu mereka menetap di Ardhul Muqaddas
(Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di dalamnya. (Al
Maa'idah: 20-26). Ini adalah peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era
Ya'qub dan Yusuf di wilayah Kan'aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil
sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak
henti-hentinya menguji kesabaran Musa 'alaihissalam. Betapa banyak
kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri,
Musa dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di
Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa agar
membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu; mereka
mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas; mereka hendak
membunuh Harun 'alaihissalam karena selalu menasehati mereka; mereka hampir
tidak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena
terlalu banyak bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta
bawang, menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa,
sehingga Nabi shallallah 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Semoga Allah
merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang
menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar." (HR. Bukhari-Muslim). Sangat
mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan Musa 'alaihissalam. Di
dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi untuk menghadapi konspirasi global
seperti saat ini. Orang-orang Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai
Musa, padahal di era nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka
sia-siakan. Musa itu lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada
Yahudi laknatullah itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan kristalisasi
dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak perilaku
saudara-saudara Yusuf 'alaihissalam, masa perbudakan di Mesir, kedurhakaan
mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan Nabi-nabi
lainnya 'alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di hadapan Nabi
shallallah 'alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan sebuah
ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: "Lalu ditimpahkanlah
kepada mereka (kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka
mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak.
Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui
batas." (Al Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah Kerajaan
Nabi Sulaiman 'alaihissalam di Palestina. Beliau adalah putra Nabi Dawud
'alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud adalah seorang pejuang
yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di Palestina. (Oleh karena itu bangsa
Barat mengenal kisah "David and Goliath"). Beliau ikut dalam pasukan Bani
Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel
'alaihissalam. Al Qur'an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.


[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya yang
sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, sebagai harta
terpendam "King Solomon". Sampai saat ini kekayaan itu masih menjadi
misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi di balik permukaan
bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan Bani Israil semakin
merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari
Kerajaan Byzantium (Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa'
ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar ke
berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak
benua India , dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah
DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat keamanan di Eropa,
mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk menghasut Romawi agar
memusuhi Isa 'alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah
sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih 'alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke
Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi.
Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang akan datang
setelah Musa dan Isa 'alaihimassalam. Mereka ingin "memaksakan" agar
Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar
mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan
Sulaiman. Namun setelah mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak
mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al
Qur'an disebutkan: "Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab
dari sisi Allah (Al Qur'an) yang membenarkan keberadaan apa yang ada di sisi
mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon (kedatangan Nabi)
agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah datang (Kenabian
dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya.. Maka laknat
Allah atas orang-orang kafir itu (Yahudi)." (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh ke
tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail 'alaihissalam. Itu pun turun di
Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi telah
habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus Musa 'alaihissalam ini.
Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama budaya Arab,
berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anaknya dengan istilah Arab, bukan
istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara
kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus,
sebagian mendukung Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al
Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur'an dijelaskan sangat banyak
kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah. Bahkan
tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa 'alaihissalam diturunkan.
Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya adalah: "Tidaklah aku
diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan Bani Israil."
Meskipun Isa adalah bagian dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat
muram wajah kaum Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil
(bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa
juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil. Isa
dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani Israil
sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi setelah Kenabian
terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
shallallah 'alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku jahat kaum
Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi tercabut akar-akarnya dari
Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, seperti
kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di
Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi shallallah 'alaihi wa
sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah
Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa
ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa, seperti Spanyol,
Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik. Mereka
tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi.
Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan
etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan
mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka
membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk
persembahan. Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang
di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk
mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai
tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke bawah. Ritual
semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara
tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol melarang Yahudi
tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam soal
ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke
negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu itu
rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru ditemukan
oleh Columbus . Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika merdeka dari tangan
Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu Benyamin Franklin
mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi
seperti bangsa "vampire" yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat
sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang
Yahudi di Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan
Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun
silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika saat ini adalah
akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli sejarah,
yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian ini terpisah
jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallah 'alaihi wa
sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah
telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah
masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam
yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama
mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi
pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Tentu saja, Yahudi
berusaha "bersikap sopan". Di seluruh dunia tidak ada yang memperlakukan
mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam. Disini Yahudi tidak mungkin
akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi
waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk
oleh Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani,
Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi berlaku
baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan segala
konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah Islam justru
dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia,
seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan beberapa
jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

(a) Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat Turki
Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi kekafiran secara
langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme August Comte. Dengan
falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan kehilangan sifat furqan akidah
Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan saja. Tujuan dari gerakan ini
adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu
pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan
Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang
terkutuk.

(b) Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia Islam.
Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah Islamiyyah. Kaum
Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang egois sesuai etnik dan
wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap berdiri, mustahil "Kerajaan
Yahudi" dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit. Kalau Anda saksikan
bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, masing-masing saling
konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu
Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan
negara-negara Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka
hasil-hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota setia Freemasonry.
(Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan pemikiran
keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat sifat
Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.

(c) Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham
demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri Islam.
Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-peluang
kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara terbanyak,
sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya.

(d) Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk
agen-agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya
negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di balik
pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika
mendukung penuh Israel . Dalam diplomasi internasional, isu Holocaust
dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang
dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar
ambisi-ambisinya.

(e) Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa , membuat
satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia,
memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai
Hollywood , dunia akademis, dunia riset, fashion, dan sebagainya. Termasuk
dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai
SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme). Inilah kenyataan yang
kemudian disebut sebagai: "Yahudi menggenggam dunia!" Bahkan negara sekuat
Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama
yang sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak jaman
Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa
sallam. Yahudi sangat membutuhkan "Kerajaan Bani Israil" untuk mengalahkan
orang-orang kafir. Mereka sebenarnya beriman kepada Allah, dalam arti mereka
percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan
musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas
di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka
mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka
lakukan? Mereka hendak mendirikan "Kerajaan Bani Israil" dengan kekuatan
tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu berhasil, tahun 1948
lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin sebagai orang kafir.
Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, sehingga disebut
kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada
tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia . Mengapa dipilih
tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan perhitungan yang sangat
cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang dekat dengan
sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan sekitarnya. Namun
resikonya, disini akan menghadapi banyak tantangan dari negara-negara
tetangganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus
mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya
di negara-negara Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik
berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena
memang "Kerajaan Bani Israil" merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak
ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang
membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank,
dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak
agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari,
siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang
kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan , Syria , Turki, dll. banyak
orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi. Bahkan
di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar , Bahrain , dll. banyak dijumpai
kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil konspirasi Yahudi
untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai , Abu Dhabi , dan
lainnya tidak kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama Samawi
(ajaran Ya'qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa
'alaihimussalam). Mereka adalah orang-orang yang sangat arogan dengan
etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan terhadap etnis mereka
sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim dalam soal
etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah,
marah ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh
ke tangan bangsa Arab. Mereka menulis "kitab suci" tandingan bagi Taurat
(Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di
muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris "darah biru" Nabi-nabi,
merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah langsung oleh
Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain. Yahudi
benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah mendebat
Allah Ta'ala: "Ana khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min
thiin" (aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia
Engkau ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di
dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar jika
simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa satanic. Contoh,
logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini the red devil. Dan ada
ribuan logo atau lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk "Kerajaan Bani
Israil" seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya membangun negara
seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak, strategi canggih, serta SDM
handal. Tidak sulit bagi Yahudi membangun negara di sebuah sudut dunia.
Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan modal lebih buruk dari Israel
. Negara seperti Bosnia , Chechnya , Kamboja , Myanmar , Timor Leste, dan
lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa
Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik
Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur
Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus menegakkan
"Kerajaan Bani Israil" di Palestina, mengapa mereka harus juga menghancurkan
peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak cukup menempuh cara-cara
politik atau militer, tanpa harus menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan
yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel ditempuh bukan hanya dengan
menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran
peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang
selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World
Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan lainnya?
Hingga ke anak-anak balita pun, banyak "diracuni" oleh kartun-kartun Walt
Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat mempercayai
khabar Al Qur'an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat Al Qur'an, tetapi
anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al Qur'an. Yahudi sangat
mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa' berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua
(kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai
kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah
ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan
Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu
kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan
jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan
apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan
orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam
Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali
pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
( Surat Al Israa': 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman
dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-berai.
Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi kuat dan bisa
mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat sekarang ini, ketika
"Yahudi menggenggam dunia". Dan nanti di puncak kezhalimannya, Israel akan
dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu dihancurkan.
Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung saat Yahudi
dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu
itu Yahudi belum memiliki wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri
orang. Adapun saat ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat
sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani "jadwal sejarah" sebagaimana disebutkan Al
Qur'an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk
merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana kenyataan saat ini.
Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6
juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di dunia. Yahudi tidak
merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel , bahkan tidak cukup dengan
menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan
segala kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin melawan
Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab dan Ummat Islam
sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka ingin melawan Allah
Ta'ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Yahudi adalah satu-satunya
ras manusia yang berani menghina Allah dengan ucapan mereka: "Tangan Allah
terbelenggu." Kemudian mereka dikutuk oleh Allah karena perkataannya itu.
(Al Maa'idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, "Sesungguhnya Allah
itu fakir dan kami kaya raya." (Ali Imran: 131). Disini ada dendam sejarah
yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur'an, tetapi sekaligus menentang
eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis yang mengimani
Allah, tetapi mendurhakai-Nya. Untuk merealisasikan maksudnya, Yahudi
mengangkat simbol "Messiah", yang pada hakikatnya adalah dajjal laknatullah.
Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah terbesar bagi orang-orang
beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina. Ia
adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah mereka.
Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku tertentu.
Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan watak durjana luar
biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu "telah disiapkan" untuk menjadi
cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran, mengapa A Qur'an
banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di
Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari
negeri-negeri Islam). Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi
adalah memahami sifat-sifat mereka dalam Al Qur'an (khususnya Surat Al
Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan
serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!

Wallahu a'lam bisshawaab.

4 Muharram 1430 H.

AKAR KONFLIK PALESTINA-ISRAEL

sumber: http://kelompokdiskusi.multiply.com/journal/item/3772/Special_Akar_Konflik_Palestina-Israel_fw

by: arul

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara dengan
TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember
lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama puluhan tahun. Dalam
ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan Israel kali ini merupakan
kejadian paling buruk sejak 60 tahun terakhir (sejak Israel berdiri tahun
1948). Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa
berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk
keras serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan
serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan cadangan
sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud Barak, yaitu
menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan bangsa
lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. Disana terbentang
benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad shallallah 'alaihi
wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi,
konflik antara Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik antara Musa dengan
Fir'aun, bahkan konflik antara Yusuf 'alaihissalam dengan
saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta'ala
dengan iblis laknatullah 'alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah Anda
akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman modern yang penuh
kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri
adalah bangsa "terkuat di dunia", dalam arti: merekalah satu-satunya ras
manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah Ta'ala.

Sejarah Kebangkitan Yahudi

Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali
catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan menemukan
bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh. Jika tidak
demikian, maka kita hanya akan "konsumen terbaik" berita-berita media massa
seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai sejak era Perang
Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, Intifadhah akhir 80-an,
tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh
Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll.. sampai serangan Israel saat ini.
Dan rata-rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para
pelakunya saja.

Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia, dengan
memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta'ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim 'alaihissalam. Ibrahim
memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq 'alaihimassalam. Ismail nanti menurunkan
keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq mempunyai anak Ya'qub
'alaihissalam. Nah, Ya'qub inilah yang kemudian disebut Israil, sehingga
anak-anak Ya'qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju kepada
anak-anak Ya'qub. Mereka adalah Yusuf 'alaihissalam, Benyamin, dan 11
saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya dengan matahari,
bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi Yusuf sedang bersujud
kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan "angka keramat" bagi Yahudi sampai
saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari karakter 13 ini.


[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu: sifat
keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari garis Yusuf
'alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari sifat saudara-saudara
Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah tampak bakat-bakat kelicikan,
dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu sebatas potensi, bukan
kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat Ya'qub, seluruh anak-anaknya
tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani
Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun
setelah kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti
agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka
seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf 'alaihissalam
bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf membantu
bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir di wilayah
Kan'an. Disana Ya'qub dan anak-keturunannya mulai membangun kehidupan.
Mereka memilih tinggal di Kan'an sebab dekat dengan Mesir yang makmur,
sedang di tempat asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan
Ya'qub sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan
bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya'qub lama-lama menjadi buruk. Alih-alih
Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan
Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh Ya'qub dan Yusuf,
nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal itu bisa terjadi
karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas bangsa Mesir.
Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada
Yusuf, kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan saja
karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan karakter sebuah
bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun mereka tertindas oleh
sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi anugerah berupa bakat-bakat
kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di bawah sistem
perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa.
Oleh karena itu Allah Ta'ala mendatangkan Musa dan Harun 'alaihimassalam
untuk menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan
Fir'aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari
penindasan Fir'aun. Dalam Al Qur'an: Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun,
sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib
atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari
Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku." (Al A'raaf:
104-105). Musa tidak pernah diperintahkan untuk memerangi Fir'aun, tetapi
membawa Bani Israil tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan
Palestina). [Perlu dicatat juga, Fir'aun (Pharaoh) adalah gelar raja-raja
Mesir, bukan nama seseorang. Sedangkan Fir'aun yang tenggelam di Laut Merah
bukanlah Fir'aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut
janggutnya oleh Musa. Fir'aun dalam Al Qur'an lebih mencerminkan tabiat
kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir'aun dan bala
tentaranya tenggelam di Laut Merah. Lalu mereka menetap di Ardhul Muqaddas
(Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di dalamnya. (Al
Maa'idah: 20-26). Ini adalah peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era
Ya'qub dan Yusuf di wilayah Kan'aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil
sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak
henti-hentinya menguji kesabaran Musa 'alaihissalam. Betapa banyak
kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri,
Musa dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di
Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa agar
membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu; mereka
mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas; mereka hendak
membunuh Harun 'alaihissalam karena selalu menasehati mereka; mereka hampir
tidak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena
terlalu banyak bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta
bawang, menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa,
sehingga Nabi shallallah 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Semoga Allah
merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang
menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar." (HR. Bukhari-Muslim). Sangat
mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan Musa 'alaihissalam. Di
dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi untuk menghadapi konspirasi global
seperti saat ini. Orang-orang Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai
Musa, padahal di era nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka
sia-siakan. Musa itu lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada
Yahudi laknatullah itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan kristalisasi
dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak perilaku
saudara-saudara Yusuf 'alaihissalam, masa perbudakan di Mesir, kedurhakaan
mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan Nabi-nabi
lainnya 'alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di hadapan Nabi
shallallah 'alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan sebuah
ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: "Lalu ditimpahkanlah
kepada mereka (kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka
mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak.
Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui
batas." (Al Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah Kerajaan
Nabi Sulaiman 'alaihissalam di Palestina. Beliau adalah putra Nabi Dawud
'alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud adalah seorang pejuang
yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di Palestina. (Oleh karena itu bangsa
Barat mengenal kisah "David and Goliath"). Beliau ikut dalam pasukan Bani
Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel
'alaihissalam. Al Qur'an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.


[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya yang
sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, sebagai harta
terpendam "King Solomon". Sampai saat ini kekayaan itu masih menjadi
misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi di balik permukaan
bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan Bani Israil semakin
merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari
Kerajaan Byzantium (Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa'
ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar ke
berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak
benua India , dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah
DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat keamanan di Eropa,
mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk menghasut Romawi agar
memusuhi Isa 'alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah
sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih 'alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke
Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi.
Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang akan datang
setelah Musa dan Isa 'alaihimassalam. Mereka ingin "memaksakan" agar
Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar
mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan
Sulaiman. Namun setelah mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak
mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al
Qur'an disebutkan: "Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab
dari sisi Allah (Al Qur'an) yang membenarkan keberadaan apa yang ada di sisi
mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon (kedatangan Nabi)
agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah datang (Kenabian
dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya.. Maka laknat
Allah atas orang-orang kafir itu (Yahudi)." (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh ke
tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail 'alaihissalam. Itu pun turun di
Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi telah
habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus Musa 'alaihissalam ini.
Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama budaya Arab,
berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anaknya dengan istilah Arab, bukan
istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara
kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus,
sebagian mendukung Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al
Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur'an dijelaskan sangat banyak
kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah. Bahkan
tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa 'alaihissalam diturunkan.
Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya adalah: "Tidaklah aku
diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan Bani Israil."
Meskipun Isa adalah bagian dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat
muram wajah kaum Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil
(bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa
juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil. Isa
dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani Israil
sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi setelah Kenabian
terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
shallallah 'alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku jahat kaum
Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi tercabut akar-akarnya dari
Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, seperti
kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di
Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi shallallah 'alaihi wa
sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah
Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa
ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa, seperti Spanyol,
Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik. Mereka
tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi.
Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan
etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan
mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka
membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk
persembahan. Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang
di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk
mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai
tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke bawah. Ritual
semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara
tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol melarang Yahudi
tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam soal
ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke
negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu itu
rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru ditemukan
oleh Columbus . Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika merdeka dari tangan
Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu Benyamin Franklin
mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi
seperti bangsa "vampire" yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat
sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang
Yahudi di Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan
Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun
silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika saat ini adalah
akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli sejarah,
yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian ini terpisah
jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallah 'alaihi wa
sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah
telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah
masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam
yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama
mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi
pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Tentu saja, Yahudi
berusaha "bersikap sopan". Di seluruh dunia tidak ada yang memperlakukan
mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam. Disini Yahudi tidak mungkin
akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi
waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk
oleh Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani,
Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi berlaku
baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan segala
konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah Islam justru
dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia,
seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan beberapa
jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

(a) Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat Turki
Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi kekafiran secara
langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme August Comte. Dengan
falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan kehilangan sifat furqan akidah
Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan saja. Tujuan dari gerakan ini
adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu
pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan
Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang
terkutuk.

(b) Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia Islam.
Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah Islamiyyah. Kaum
Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang egois sesuai etnik dan
wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap berdiri, mustahil "Kerajaan
Yahudi" dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit. Kalau Anda saksikan
bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, masing-masing saling
konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu
Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan
negara-negara Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka
hasil-hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota setia Freemasonry.
(Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan pemikiran
keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat sifat
Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.

(c) Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham
demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri Islam.
Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-peluang
kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara terbanyak,
sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya.

(d) Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk
agen-agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya
negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di balik
pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika
mendukung penuh Israel . Dalam diplomasi internasional, isu Holocaust
dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang
dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar
ambisi-ambisinya.

(e) Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa , membuat
satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia,
memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai
Hollywood , dunia akademis, dunia riset, fashion, dan sebagainya. Termasuk
dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai
SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme). Inilah kenyataan yang
kemudian disebut sebagai: "Yahudi menggenggam dunia!" Bahkan negara sekuat
Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama
yang sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak jaman
Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa
sallam. Yahudi sangat membutuhkan "Kerajaan Bani Israil" untuk mengalahkan
orang-orang kafir. Mereka sebenarnya beriman kepada Allah, dalam arti mereka
percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan
musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas
di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka
mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka
lakukan? Mereka hendak mendirikan "Kerajaan Bani Israil" dengan kekuatan
tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu berhasil, tahun 1948
lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin sebagai orang kafir.
Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, sehingga disebut
kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada
tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia . Mengapa dipilih
tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan perhitungan yang sangat
cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang dekat dengan
sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan sekitarnya. Namun
resikonya, disini akan menghadapi banyak tantangan dari negara-negara
tetangganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus
mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya
di negara-negara Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik
berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena
memang "Kerajaan Bani Israil" merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak
ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang
membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank,
dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak
agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari,
siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang
kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan , Syria , Turki, dll. banyak
orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi. Bahkan
di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar , Bahrain , dll. banyak dijumpai
kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil konspirasi Yahudi
untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai , Abu Dhabi , dan
lainnya tidak kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama Samawi
(ajaran Ya'qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa
'alaihimussalam). Mereka adalah orang-orang yang sangat arogan dengan
etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan terhadap etnis mereka
sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim dalam soal
etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah,
marah ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh
ke tangan bangsa Arab. Mereka menulis "kitab suci" tandingan bagi Taurat
(Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di
muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris "darah biru" Nabi-nabi,
merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah langsung oleh
Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain. Yahudi
benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah mendebat
Allah Ta'ala: "Ana khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min
thiin" (aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia
Engkau ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di
dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar jika
simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa satanic. Contoh,
logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini the red devil. Dan ada
ribuan logo atau lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk "Kerajaan Bani
Israil" seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya membangun negara
seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak, strategi canggih, serta SDM
handal. Tidak sulit bagi Yahudi membangun negara di sebuah sudut dunia.
Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan modal lebih buruk dari Israel
. Negara seperti Bosnia , Chechnya , Kamboja , Myanmar , Timor Leste, dan
lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa
Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik
Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur
Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus menegakkan
"Kerajaan Bani Israil" di Palestina, mengapa mereka harus juga menghancurkan
peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak cukup menempuh cara-cara
politik atau militer, tanpa harus menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan
yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel ditempuh bukan hanya dengan
menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran
peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang
selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World
Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan lainnya?
Hingga ke anak-anak balita pun, banyak "diracuni" oleh kartun-kartun Walt
Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat mempercayai
khabar Al Qur'an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat Al Qur'an, tetapi
anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al Qur'an. Yahudi sangat
mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa' berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan
menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua
(kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai
kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah
ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan
Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu
kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan
jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan
apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan
orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam
Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali
pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
( Surat Al Israa': 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman
dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-berai.
Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi kuat dan bisa
mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat sekarang ini, ketika
"Yahudi menggenggam dunia". Dan nanti di puncak kezhalimannya, Israel akan
dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu dihancurkan.
Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung saat Yahudi
dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu
itu Yahudi belum memiliki wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri
orang. Adapun saat ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat
sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani "jadwal sejarah" sebagaimana disebutkan Al
Qur'an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk
merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana kenyataan saat ini.
Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6
juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di dunia. Yahudi tidak
merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel , bahkan tidak cukup dengan
menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan
segala kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin melawan
Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab dan Ummat Islam
sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka ingin melawan Allah
Ta'ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Yahudi adalah satu-satunya
ras manusia yang berani menghina Allah dengan ucapan mereka: "Tangan Allah
terbelenggu." Kemudian mereka dikutuk oleh Allah karena perkataannya itu.
(Al Maa'idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, "Sesungguhnya Allah
itu fakir dan kami kaya raya." (Ali Imran: 131). Disini ada dendam sejarah
yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur'an, tetapi sekaligus menentang
eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis yang mengimani
Allah, tetapi mendurhakai-Nya. Untuk merealisasikan maksudnya, Yahudi
mengangkat simbol "Messiah", yang pada hakikatnya adalah dajjal laknatullah.
Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah terbesar bagi orang-orang
beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina. Ia
adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah mereka.
Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku tertentu.
Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan watak durjana luar
biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu "telah disiapkan" untuk menjadi
cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran, mengapa A Qur'an
banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di
Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari
negeri-negeri Islam). Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi
adalah memahami sifat-sifat mereka dalam Al Qur'an (khususnya Surat Al
Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan
serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!

Wallahu a'lam bisshawaab.

4 Muharram 1430 H.

MENANTI AJAL ISRAEL

sumber: millis

MENANTI AJAL ISRAEL

Oleh: Fauzan Al-Anshari
(Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam – 085710889302)

Ifititah

Untuk memahami karakter bangsa Yahudi (Israel) secara umum dapat kita
ketahui dari firman Allah swt:

• وَقَضَيْنَآ إِلَى بَنِى إِسْرَآئِيْلَ فِى الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِى

اْلأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْـلـُنَّ عُلُُوًّا كَبِيْـرًا. {الإسرآء : 4}

"Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan meyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” [QS. al-Isra’: 4]

Kerusakan pertama telah terjadi dan Yahudi pun dikutuk hingga tak memiliki tanah air sampai akhirnya mencaplok bumi suci Palestina sebagai bagian dari skenario langit untuk membasmi bangsa itu secara keseluruhan akibat kesombongan mereka.

Hal itu telah diisyaratkan dalam firman-Nya:

• وَقُـلْنَا مِنْ بَعْـدِهِ لِبَنِى إِسْرَآئِيْـلَ اسُكُنُوا اْلأََرْضَ

فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ اْلآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًـا {الإسرآء: 104}

“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada bani Israil: Tinggallah di muka bumi, maka apabila datang janji terakhir niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur”. [QS. al–Isra’: 104]

Kebiadaban Israel yang Cuma berjumlah 7 jutaan jiwa itu memang menjadi
pertanda akan segera berakhirnya zaman ini. Bayangkan, jumlah umat Islam sedunia 1,5 milyaran, namun tak sanggup menghentikan kebrutalan Israel di Palestina. Bahkan kita melihat dengan mata kepala sendiri lewat televisi

bagaimana Israel dengan pongahnya memborbardir Gaza, seolah kita membiarkan Israel membantai muslim Palestina. Tak berkutik sedikit pun, kecuali demo dan bantuan kemanusiaan. Padahal yang dibutuhkan adalah bahasa besi sebagaimana bahasa itu digunakan Israel menjajah Palestina. Bukan bahasa diplomasi lagi.

Bahasa itu sudah usang. Suka atau tidak, peperangan total melawan Israel akan terjadi sebagai episode akhir zaman.

• لاَ

تَـقُـوْمُ الـسَّـاعَـةُ حَـتَّى يُـقَـاتِـلَ اْلـمُـسْـلِـمُـوْنَ

اْلـيَـهُـوْدَ فَـيَـقْـتُـلُـهُـمُ اْلـمُسْـلِـمُـوْنَ حَـتَّى يَـخْـتَـبِـئَ

اْلـيَهُـوْدِيُّ وَرَاءَ اْلحَـجَـرِ وَ الـشَّـجَـرِ، فَـيَقُـوْلُ اْلحَـجَـرُ

وَ الشَّجَـرُ : يَـا مُـسْـلِـمُ يَـا عَـبْـدَ اللهِ ! هَـذَا يَـهُـوْدِيٌّ

خَـلْـفِى فَـتَـعَـالَ فَـاقْـتُـلْـهُ، إِلاَّ اْلـغَـرْقَـدَ فَـإِنَّـهُ مِـنْ

شَـجَـرِ اْلـيَـهُـــوْدِ .

"Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Alloh, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”. (HR.Bukhori- Muslim)


Fakta Kebiadaban Yahudi

Mari kita buktikan kebiadaban yahudi sepanjang sejarah kemanusiaan yang diketahui dan terdokumentasi secara akurat, seperti dalam Al-Qur’an, hadits, manuskrip, maupun catatan sejarah dunia. Kejahatan yahudi dimulai sejak 12 keturunan Nabi Ya’kub dari sejumlah istri mencelakai Yusuf. Ke-12 anak Ya’kub as adalah Ru’bin, Syam’un, Yusakir, Zabulun, Dan, Nafqali, Jamid, ‘Askir, Yusuf, Benyamin, Yahuda, dan Lawi. Kemudian ke-12 keturunan tersebut berkembang menjadi 12 suku sampai hari ini. Makar jahat mereka yang pertama terjadi pada zaman Nabi Ya’qub as. Mereka berkeinginan menyingkirkan saudaranya sendiri, Yusuf as yang berakhlaq mulia supaya mereka lebih dicintai bapaknya. (QS.Yusuf: 7-18)

Kejahatan paling mengerikan adalah kegemaran mereka membunuh para Nabi dan Rasul. Mereka telah membunuh Nabi Yahya as secara kejam yaitu memenggal lehernya dan kepalanya diletakkan di nampan emas. Nabi Zakaria as juga dibunuh secara keji, yaitu dengan digergaji tubuhnya. Kedua pembunuhan ini terjadi pada masa pemerintahan raja Herodes. Mereka juga gemar membunuh orang-orang sholeh lainnya.

• إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيِّيْنَ

بِغَيْرِ حَقٍٍّ، وَيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِالْقِسْطِ مِنَ

النَّاسِ، فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيْـمٍ.{آل عمران: 21}

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Alloh dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih“. [QS. Ali Imran: 21]

Nabi Isa AS. pun tidak luput dari rencana busuk mereka untuk membunuhnya, akan tetapi Alloh SWT menyelamatkannya.

• وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ

اللهِ، وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ، وَإِنَّ

الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِى شَكٍِّ مِنْهُ، مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ

إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَما قَتَلُوْهُ يَقِيْنًـا. {النسآء: 157}

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih Isa ibnu Maryam Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh dan salib itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan
tentang (yang dibunuh) itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu Isa”. [QS. An-Nisa’: 157]

Kejahatan raja Zu Nuwas adalah seorang raja Yahudi Najran di Yaman yang sangat fanatik, tidak ingin ada agama lain di daerah kekuasaannya. Alkisah ada sekelompok pengikut Nabi Isa as yang setia (Nasrani), ketahuan oleh mata-mata kerajaan. Lalu mereka dipaksa murtad dan masuk Yahudi, siapa tidak mau akan dibakar hidup-hidup. Raja Zu Nuwas memerintahkan pasukannya untuk menggali parit dan menyiapkan kayu dan bahan bakar, yang akan digunakan untuk membakar umat Nasrani pengikut Nabi Isa as yang setia dan tidak mau murtad.

Kejadian ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an:

• قُتِلَ أَصْحَابُ اْلأُخْدُوْدِ، النَّاِر ذَاتِ الْوَقُوْدِ، إِذْ هُمْ

عَلَيْهَا قُعُـوْدٌ. وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَـلُوْنَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ شُهُوْدٌ.

وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ إِِلآَّ أَنْ يُؤْمِنُوْا بِاللهِ الْعَزِيْزِ

الْحَمِيِْد.

{البروج : 4–8}

“Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Alloh SWT Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. [QS. al-Buruj: 4 – 8].

Di Romawi pada masa kaisar Markus Urulius, seorang rabbi Yahudi berhasil menghasutnya untuk memusuhi agama Nasrani dan pemeluknya. Akhirnya dibuatlah keputusan untuk membunuh semua prajurit yang beragama Nasrani. Hasutan rabbi Yahudi tersebut dilanjutkan dengan menakut-nakuti kaisar, bahwa orang-orang Nasrani mengidap penyakit menular yang membahayakan rakyat. Oleh karena itu kaisar mengeluarkan perintah untuk membunuh semua penduduk Roma yang beragama Nasrani.

Puncak kejahatan Yahudi pada episode pertama pada periode Rasulullah SAW di Madinah. Sebagaimana diketahui bahwa Nabi saw sebagai penguasa Madinah melakukan perjanjian damai kepada tiga suku Yahudi, yakni Bani Nadhir, Bani Qainuqa, dan Bani Quraizhah. Akhirnya ketiganya diusir dari Madinah karena melakukan pengkhianatan sebagaimana sudah menjadi kebiasaan mereka mengkhianati semua perjanjian dengan manusia sampai hari ini.

Kejahatan mereka direkam dalam sejarah Islam.

Yahudi Bani Qainuqa' adalah Yahudi pertama yang mengingkari janjinya dengan Rasulullah, pemicunya adalah diganggunya wanita muslimah yang datang ke pasar mereka. Ia duduk di depan salah seorang pengrajin perhiasaan, mereka merayunya agar membuka cadar yang dipakainya namun ia menolak. Lalu si pengrajin menarik ujung baju si wanita dan mengikatkannya ke punggung wanita tadi, ketika berdiri terbukalah auratnya, lalu mereka menertawakannya. Sang wanita pun berteriak minta tolong. Seorang lelaki muslim mendengar lalu menerjang si pengrajin dan membunuhnya. Melihat kejadian itu orang-orang Yahudi mengerumuninya, dan beramai-ramai membunuh lelaki muslim tersebut. Mendengar berita kematian lelaki itu, maka keluarganya yang muslim menuntut pertanggungjawaban orang-orang Yahudi. Maka Rasulullah datang bersama para sahabat mengepung mereka selama 15 malam. Atas perintah beliau mereka diberi hukuman untuk meninggalkan Madinah.

Yahudi Bani Nadhir melakukan pengkhianatan yang kedua. Suatu saat Rasulullah pergi ke perkampungan Yahudi bani Nadhir untuk meminta bantuan mereka atas diyat (denda) dua orang muslim yang terbunuh dari Bani Amir, yang melakukan pembunuhan adalah Amr bin Umayyah Ad-Dhimari.

Permintaan itu diajukan karena sudah adanya ikatan perjanjian persahabatan antara Rasulullah dengan mereka. Ketika beliau datang mengutarakan maksud kedatangannya, mereka berkata: “Baik wahai Abu Qasim! kami akan membantumu dengan apa yang engkau inginkan.” Pada saat Rasulullah duduk bersandar di dinding rumah mereka, kemudian mereka saling berbisik, kata mereka: “Kalian tidak pernah mendapati lelaki itu dalam keadaan seperti sekarang ini, ini kesempatan buat kita. Karena itu hendaklah salah seorang dari kita naik ke atas rumah dan menjatuhkan batu karang ke arahnya”, dan untuk tugas ini diserahkan kepada Amr bin Jahsy bin Ka’ab. Lantas ia naik ke atas rumah guna melaksanakan rencana pembunuhan ini, tetapi Allah melindungi Rasul-Nya dari makar orang-orang Yahudi tersebut dengan mengirimkan berita lewat Malaikat Jibril tentang rencana jahat itu. Kemudian Rasulullah bergegas pulang ke Madinah, dan memberitahukan kepada para sahabatnya tentang usaha makar tersebut. Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap pergi memerangi mereka.

Ketika orang Yahudi Bani Nadhir mengetahui kedatangan pasukan Rasulullah, mereka cepat pergi berlindung di balik benteng. Pasukan Islam mengepung perkampungan mereka selama 6 malam, beliau memerintahkan untuk menebang pohon kurma mereka dan membakarnya. Kemudian Allah memasukkan rasa gentar dan takut di hati mereka, sehingga mereka memohon izin kepada Rasulullah untuk keluar dari Madinah dan mengampuni nyawa mereka. Mereka juga meminta izin untuk membawa harta seberat yang mampu dipikul unta-unta mereka kecuali persenjataan, dan Rasulullah pun mengizinkannya.

• هُوَ الَّذِى أَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ

دِيَارِهِمْ لأِّوَّلِ الْحَشْرِ، مَا ظَنَنَتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوْآ

أَنًَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُوْنُهُمْ مِنَ اللهِ، فَأَتَاهُمُ اللهُ مِنْ حَيْثُ

لاَ يَحْتَسِبُوْا وَقَذَفَ فِى قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ

بِأَيْدِيْهِمْ وَأَيْدِى الْمُؤْمِنِيْنَ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى

اْلأَبْصَارِ.{الحشر: 2}

“Dialah yag mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kami tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari siksaan Allah, maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang mereka tidak sangka. Dan Allah menancapkan ketakutan di dalam hati mereka, dan memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran wahai orang yang mempunyai pandangan”. [QS. al-Hasyr: 2]

Yahudi Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan yang ketiga, Yahudi Bani Nadhir yang telah terusir karena kesalahan mereka sendiri terus mendendam. Bersama Yahudi Quraizhah memilih beberapa tokohnya yaitu Salam bin Abi Haqiq, Hayyi bin Akhthab dan Kinanah bin Abi Haqiq pergi bersama menghasut orang-orang Quraisy, Ghathafan dan beberapa suku musyrik besar lainnya. Mereka berkonspirasi untuk membentuk pasukan Koalisi (al-Ahzab), antara pasukan musyrik dan pasukan Yahudi. Akhirnya terbentuklah pasukan Koalisi (al-Ahzab);

Suku Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan ibnu Harb, suku Gathafan di bawah pimpinan Uyainah ibnu Hushn, suku bani Murrah di bawah pimpinan Harits ibnu Auf dan suku-suku yang lain, sementara pasukan Yahudi bani Quraizhah akan menusuk dari belakang. Peperangan Al-Ahzab itu betul-betul mambuat khawatir dan sesak dada kaum muslimin yang terkepung, apalagi tingkah golongan munafiqin yang membuat goyah pasukan Islam. Berkat kesabaran kaum muslimin, maka Alloh SWT mengirim pasukan Malaikat dengan mendatangkan serangan berupa angin taufan dan guntur yang memporak-porandakan pasukan koalisi (Al-Ahzab). Mereka kocar-kacir, dan pulang ke tempat masing-masing dengan membawa kekalahan.

Tinggallah Yahudi Bani Quraizhah, lalu Rasulullah A mengumumkan kepada pasukan Islam: Bagi mereka yang mau mendengar dan taat agar jangan shalat ashar kecuali di wilayah perkampungan Bani Quraizhah. Kaum muslimin langsung bergerak menuju perkampungan Yahudi Bani Quraizah, dan mengepung mereka selama 25 malam. Orang-orang Yahudi tersebut benar-benar dicekam rasa ketakutan, lalu memohon kepada Rasulullah A agar memberikan izin kepada mereka untuk keluar, sebagaimana yang beliau lakukan kepada Yahudi Bani Nadhir. Beliau menolak permohonan mereka, kecuali mereka keluar dan taat pada keputusan beliau. Kemudian Rasululah menyerahkan keputusan atas mereka kepada Sa’ad ibnu Mu’adz pemimpin suku Aus.

Keputusan telah ditetapkan yaitu: laki-laki dewasanya dieksekusi, harta dirampas, anak-anak dan wanita menjadi tawanan. Hukuman terhadap pengkhianatan Bani Quraizhah lebih berat dari pada Bani Qainuqa' dan Bani
Nadzir, karena dampak dari pengkhianatan mereka hampir saja merontokkan moral kaum muslimin dan membahayakan nyawa mereka semua.

• يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ

جَآئَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَأََرْسَلْـنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَجُنُوْدًا لَمْ

تَرَوْهَا، وَكَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا. إِذْ جَآءُوْكُمْ مِنْ

فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَإِذْ زَاغَتِ اْلأَبْصَارُوَبَلَغَتِ

الُقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللهِ الظُّنُوْنَا. هُنَالِكَ

ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَ زُلْزِلُوْا زِلْزِالاً شَدِيْدًا

{الأحزاب : 9–11}

“Hai orang-orang yang beriman ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu, ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Alloh Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. Yaitu ketika datang (musuh) dari atas dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Alloh dengan bermacam-macam purbasangka disitulah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat”. (QS. Al-Ahzab: 9-11)

Ajal Israel

Sejak Israel terlunta-lunta di seluruh penjuru dunia tanpa memiliki tanah air, maka janji Alloh kedua akan segera terrealisir, karena di manapun mereka berada selalu membuat keonaran, sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya: ”Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya, dan mereka di muka bumi selalu membuat kerusakan, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Maidah:12)

Akhirnya mereka pun memicu perang dunia I dan II, bahkan yang terakhir nanti (PD III) melalui berbagai rekayasa adu domba. Mereka pun menunggangi Inggris untuk memenangkan peperangan. Akhirnya mereka meminta balas jasa atas bantuan mereka pada PD I melalui Perdana Menteri Inggris Balfaur dengan mencetuskan Deklarasi Balfaur pada 2 November 1917 untuk menyediakan tanah bagi Yahudi di Palestina. Kemudian setelah Yahudi berhasil meruntuhkan kekhilafahan Turki Utsmani melalui anteknya, Mustafa Kemal Pasha, pada 13 Maret 1924, maka pada 14 Mei 1948 Yahudi berhasil menduduki tanah Palestina dan diproklamirkan berdirinya Negara Israel oleh David Ben Gurion.

Jumlah warga Yahudi di Yerusalem pada waktu itu 649.932 jiwa, namun per 24 September 2008 jumlah mereka mencapai 7.337.000 jiwa. Adapun tujuan berdirinya Negara Israel di bumi Palestina adalah:

1. Menciptakan faktor disintegrasi di wilayah sekitarnya, baik geologis, politis maupun sosial.

2. Menyebarluaskan kerusakan dan kekacauan dengan menggunakan berbagai alasan, sekalipun tidak masuk akal dan bahkan merupakan rekayasa mereka sendiri.

3. Tidak memberi peluang sedikit pun bagi berdirinya pemerintahan yang ditegakkan atas dasar syareat Islam dan terwujudnya persatuan Arab, baik sebagian maupun keseluruhan.

4. Menciptakan pusat-pusat imperialisme di dunia Arab, dan pada saat yang
sama merealisasikan kepentingan- kepentingan Zionisme Internasional yang hakiki, sebagai pijakan untuk menyebarkan kekacauan di seluruh dunia.

5. Mengupayakan agar raja yang akan datang bagi Zionis dan bangsa Yahudi adalah benar-benar al-Masih (sebutan ini mungkin sebagai tipuan untuk Nasrani agar bisa diajak koalisi untuk menghancurkan umat Islam).

6. Membasmi pemikiran kekhalifaan Islam dan terus menggoyahkan keyakinan-keyakinan kaum muslim tentang bakal munculnya al-Mahdi as. yang akan mengembalikan kejayaan masa kenabian dan Khulafaur Rasyidin, yang disertai berbagai variasi program guna menghubungkan hal yang mendukung revitalisasi pemikiran itu.

7. Bila berhasil membasmi pemikiran tersebut, maka mereka segera akan menang terhadap umat Islam. Umat Islam akan tetap dalam kejumudan lamanya, sehingga mereka tidak mempunyai persiapan sama sekali dalam menyambut kedatangan al-Mahdi alaihissalam.

8. Di samping itu mereka berusaha menimbulkan kesesatan-kesesatan guna menyebarluaskan kekacauan, sehingga para pemimpin dan penguasa muslim menjadi kehilangan harapan tentang pemikiran akan datangnya al-Mahdi as. Hasil yang akan diambil adalah: kalau para pemimpinnya saja sudah seperti itu, bagaimana lagi dengan orang awamnya.

Namun mereka tidak sadar, bahwa berkumpulnya mereka di Palestina dalam keadaan bercampur aduk (lafiifa) setelah sebelumnya terdiaspora di seluruh penjuru dunia, adalah akan segera berlaku janji Allah swt yang terakhir untuk membinasakan mereka tanpa tersisa sedikit pun. Bahkan Raja mereka, Dajjal si Mata Picak pun akan dibunuh oleh Nabi Isa as.

Berakhirnya riwayat bangsa Yahudi atau Bani Israel juga banyak dinubuatkan di dalam al-Kitab, seperti:


1. Israel adalah Pohon Anggur, Hosea 10: 1, “Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala".

2. Inggris induk dari berdirinya Negara Israel, Yehezkil 19: 10-14, “Ibumu seperti pohon anggur dalam kebun anggur, yang tertanam dekat air, berbuah dan bercabang karena air yang berlimpah-limpah. Padanya tumbuh suatu cabang yang kuat yang menjadi tongkat kerajaan, ia menjulang tinggi di antara cabang-cabangnya yang rapat dan menjadi kentara karena tingginya dan karena rantingnya yang banyak. Tetapi ia tercabut di dalam kemarahan dan dilemparkan ke bumi; angin timur membuatnya layu kering, buahnya disentakkan, cabang yang kuat menjadi layu kering, dan api menghabiskannya dan sekarang ia tertanam di padang gurun, di tanah yang kering dan haus akan air. Maka keluarlah api dari cabangnya yang memakan habis ranting dan buahnya sehingga tiada lagi padanya cabang yang kuat dan tiada tongkat kerajaan. Ini adalah ratapan dan sudah menjadi ratapan”.

3. Kehancuran para pendukung Yahudi, Yesaya 63: 1-6, “Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar? Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan: Mengapakah pakaianmu semerah itu dan bajumu seperti baju pengirik buah-buah anggur?

Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku: Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar, sebab hari pembalasan telah Kurencanakan, dan tahun penuntutan bela telah datang. Aku melayangkan pandangan-Ku: tidak ada yang menolong. Aku tertegun, tidak ada yang membantu, lalu tangan-Ku memberi Aku pertolongan, dan kehangatan amarah-Ku, itulah yang membantu Aku. Aku menginjak-injak bangsa-bangsa dalam murka-Ku.

Menghancurkan mereka dalam kehangatan amarah-Ku, dan membuat semburan darah mereka mengalir ke tanah”

4. Amerika akan hancur, Yesaya 4: 3-7, “Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? Maka sekarang Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu. Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak. Aku akan embuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh (tanaman) putri malu dan rumput. Aku akan memerintahkan awan-awan supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya. Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah bangsa Israel dan orang Yahudi, ialah tanaman-tanaman kegemarannya.

Dinantinya keadilan, tetapi hanya ada kezaliman, dinantinya kebenaran tetapi hanya ada keonaran”.


Ikhtitam

Jadi, kita memang sangat prihatin dengan kondisi Gaza seperti sekarang ini. Namun keadaan mereka nampaknya sudah ditakdirkan seperti itu. Bahkan keberadaan para pemuda yang berani berperang melawa Israel pun telah dinubuatkan oleh Nabi SAW sampai akhir zaman.

”Akan ada sekelompok orang di antara umatku yang senantiasa membela kebenaran, akan mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang menyelisihinya tidak akan membahayakannya melainkan hanya menimpakan cobaan hingga datangnya ketentuan Allah, dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu. Mereka (para shahabat) bertanya; Wahai Rasulullah, di manakah mereka? Rasulullah menjawab; Di Baitul maqdis, dan di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad)

Luas wilayah Palestina hasil perjanjian Sysks-Picot adalah 27.027 km2. Yang diduduki Israel th 1948= 20.770 km2 (77%). Sisa tanah Palestina (23%) juga diduduki Israel th 1967 yakni Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem (6257 km2). Kini wilayah Palestina tinggal 3.128,5 km2 (11,5%) yang terdiri dari dua wilayah, yakni Gaza (lk.400km2) dibuni sekitar 1,5 juta jiwa dan sisanya di Tepi Barat yang terpisah dengan Gaza, sehingga kedua wilayah tersebut bagaikan penjara raksasa. Sekitar 4,5 juta warga Palestina menjadi pengungsi di sejumlah Negara Arab lainnya.

Secara perhitungan fisik, nampaknya sulit bagi Hamas dan para pejuang lainnya memenangkan pertempuran melawan Israel, namun mereka tidak akan dikalahkan. Mereka memiliki daya tahan tempur yang tercatat dalam sejarah Islam. Mereka akan segera dibantu Imam Mahdi untuk menghancurkan Israel dalam waktu dekat ini, insya Alloh.

Ya Allah, tolonglah saudara kami muslim Palestina. Hancurkanlah Israel dan sekutunya. Segerakan Imam Mahdi turun membantu perjuangan membebaskan al-Aqsho dari cengkeraman Yahudi laknatullah.

Ya Allah, aku malu, karena aku hanya bisa menulis dan berdemo. Wahai akhi fillah, beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika milik kita yang suci dihina, dan tempat kita dihancurkan, dan kau tidak menjadi marah?

Jika sifat ksatria kita dibunuh, dan kehormatan kita diinjak-injak, dan dunia kita berakhir, dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika sumberdaya kita dirampas, dan institusi kita diruntuhkan, dan masjid-masjid kita dihancurkan, dan masjid al-Aqsa dan al-Quds kita tetap dirampas, dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Musuhku, atau musuhmu, menghina kehormatan, darahku dijadikan mainan oleh dia, dan kau jadi penonton permainan. Jika untuk Allah, untuk suatu yang suci, untuk Islam kau tidak marah, Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Aku melihat kengerian, Aku melihat darah mengucur. Wanita-wanita tua mengiringi anak-anak menjemput maut mereka. Aku telah melihat segala macam bentuk penindasan.

Dan kau tidak menjadi marah. Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Dan kau duduk seperti boneka bisu, perutmu memenuhi kantor. Kau habiskan malam banggakan angka-angka, dengan uang, curahkan dirimu kepada berkas-berkasnya.

Aku melihat kematian di atas kepala-kepala kami. Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi terus terang saja padaku, jangan malu-malu: kamu ada di Ummat yang mana?

Jika kau juga derita, apa yang kami derita, tidak menjadikan kamu ingin membalas, maka tidak usah repot. Karena kamu bukanlah kami, maupun bagian dari kami, bahkan kamu bukan bagian dari dunia manusia.