Jumat, 05 Juni 2009

ANUGERAH LINGKUNGAN HIDUP 2009

sumber: www. menlh.go.id

PERS RELEASE: ANUGERAH LINGKUNGAN HIDUP 2009 (Hotel Borobudur, 5 Juni 2009)

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2009 ini mengambil tema “Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim”.  Melalui tema ini diharapkan dapat meyakinkan kita akan perlunya meningkatkan kepedulian dan peran aktif semua pihak untuk secara bersama menyelamatkan bumi dari berbagai permasalahan lingkungan termasuk perubahan iklim. 

Kebersamaan semua pihak merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan yang dapat terwujud manakala pelaku pembangunan memiliki wawasan kebangsaan dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat semacam itulah yang kiranya telah menjiwai sebagian besar para pejuang lingkungan yang telah menerima penghargaan lingkungan hidup 2009 dari Bapak Presiden RI tadi padi di Istana Negara. Adapun penghargaan lingkungan hidup yang diberikan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2009 adalah penghargaan Kalpataru, Adipura, Adiwiyata Mandiri dan Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah Terbaik dengan tolok ukur utama penghargaan itu adalah karya nyata di bidang lingkungan yang bermanfaat dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. 

I. Kalpataru

Dewan Pertimbangan Kalpataru dipimpin oleh Sdr. Prof. Dr. Didin Sastrapadja.  Penghargaan ini diberikan kepada individu maupun kelompok masyarakat yang telah berjuang demi pelestarian lingkungan. Pemenang Kalpataru 2009 sebagai berikut:

A.  Kategori Perintis Lingkungan

1. Sdr. Timotius Hindom yang beralamat di Kampung Wurkendik, Distrik Fakfak Barat, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Warga pedalaman ini, bersama masyarakat sekitar telah menjadi peramu dan peladang yang secara konsisten selama 20 tahun membangun 50 Ha wanatani dengan tumbuhan pala sebagai tanaman utama. Hal ini memotivasi warga lain untuk menghijaukan lahan kritis seluas 800 Ha.

2.   Sdr. Viktor Emanuel Raiyon dari Desa Reroroja, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terjangan tsunami yang melanda Kabupaten Sikka tahun 1992 telah mendorongnya berhasil menghutankan pantai utara Maumere menjadi hutan bakau seluas 55 Ha yang mampu menahan laju ombak dan mencegah abrasi pantai yang menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, kepiting, biawak, kera dan burung.

3.  Sdr. Anyie Apuy (Kepala Adat Besar Hulu Bahau) dari Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur. Berhasil menjaga hutan lindung Tana’ Ulen seluas 11.000 Ha yang dilindungi dan dikelola berdasarkan aturan adat secara turun temurun dan hasilnya mampu mempertahankan dominasi tutupan hijau di Kabupaten Malinau. 

4.   Sdr. Alexander Ketaren dari Jalan Kamboja No. 10, RT 001 RW 014, Kelurahan Tanjung Rejo, Kota Medan. Berhasil membangun hutan kota dengan menanam jutaan bibit di lahan miliknya seluas 580 Ha di pinggiran kota metropolitan Medan. 

5.   Sdr. Kasmir Gindo Sutan dari Jorong Tengah XX, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Aktif menginisiasi Wali Nagari dan membangun jaringan kerjasama antar nagari yang melibatkan 12 nagari dan menjaga 1000 Ha hutan ulayat Patah Gigi yang penting bagi kelangsungan Danau Singkarak dan PLTA Singkarak.

B.   Kategori Pengabdi Lingkungan

1. Sdr. Kadis, SP (Petugas Lapangan) dari Kelurahan Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten   Lombok  Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selama 30 tahun telah berhasil memotivasi 46 kelompok tani untuk menghijaukan setiap lahan kritis milik anggota seluas ± 1.525 Ha

2.   Sdr. Ir. Djoni (penggerak lingkungan) dari Jalan Raden Saleh No. 20A RT 001 RW 002, Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Berhasil memotivasi masyarakat untuk pembuatan pupuk organik dari urin kambing, penggunaan daun tithonia sebagai bahan penyubur tanah, pembentukan kelompok tani dan penyuluhan lingkungan, pendirian Institut Pertanain Organik, pemrakarsa pertanian tanpa asap serta pengembangan informasi lingkungan.

3.   Sdr. Makaampo Ratundulage Madonsa dari Jalan Malahasa, Lingkungan IV, Kecamatan Tahuna Induk, Kabupaten Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Berhasil menyelamatkan sumber mata air dengan tanam sulam bakau yang dilakukan secara kontinyu serta menyebarkan ribuan bibit bakau kepada masyarakat yang jauh di sebelah utara Sulawesi Utara.

C.  Kategori Penyelamat Lingkungan

1.   Lembaga Adat Dayak Wehea dari Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Para pemangku adat berhasil melestarikan hutan lindung adat seluas 38.000 Ha yang menjadi habitat yang aman bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan langka dangan cara menerapkan hukum adat.

2.   Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung dari Desa Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Berhasil menjaga hutan Rimbo Tujuh Danau seluas 1000 Ha dengan hukum adat sehingga berhasil menjaga kelestarian hutan dan satwa di dalamnya (hutan disulam dengan berbagai jenis tumbuhan kehutanan).

D.  Kategori Pembina Lingkungan:

1.   Sdr. Irwansyah Idrus dari Jalan Petojo Binatu VI No.3, RT.04 RW08, Kelurahan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kotamadya Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Berhasil menggerakkan masyarakat dalam merubah perilaku hidup bersih dan sehat dengan perbaikan sanitasi dengan membangun MCK ramah lingkungan dan membuat gerakan 3R (reuse, reduce, recyle) sampah menjadi barang ekonomis dan membuat serta memanfaatkan gas metana dari septicktank komunal untuk dapur umum sehingga dapat mengurangi pencemaran air tanah dan emisi gas rumah kaca.

2.   Sdr. H. Imdaad Hamid dari Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur telah berhasil menyelamatkan satwa langka dan hutan lindung Sungai Wain seluas 9.782 Ha, menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Kota Balikpapan, dengan melestarikan DAS Manggar seluas 4.994 Ha serta merehabilitasi 600 Ha lahan kiritis dengan pembangunan 20 lokasi hutan kota dengan luas 7.612 Ha.  

II. Program Adipura

Implementasi Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang secara konsisten terus dilakukan dengan berbagai upaya ke seluruh pihak untuk meningkatkan kepedulian berbagai lapisan masyarakat. Berkaitan dengan itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah memberikan penilaian kebersihan dan keteduhan kota melalui Program Adipura. Program ini memberikan pengaruh yang signifikan pada peningkatan kinerja pengelolaan lingkungan di beberapa kota menjadi kota yang lebih bersih, teduh dan nyaman. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kota yang menerima penghargaan Adipura dari tahun 2008 sebanyak 94 kota (25.1%) menjadi 126 kota (33.7%).  .

III. Program Adiwiyata

Program ini untuk membangun kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia yang peduli lingkungan hidup. Untuk itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup bersama Departemen Pendidikan Nasional melakukan upaya pengintegrasian aspek lingkungan dalam kebijakan pendidikan di jalur pendidikan formal.

Dewan Pertimbangan Penghargaan Adiwiyata Tahun 2009 yang diketuai oleh Sdr. Prof. Dr. H. Arief Rahman, M.Pd. telah menetapkan Sekolah Adiwiyata Mandiri atau Program Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan yang selama tiga tahun berturut-turut konsisten menjadi Sekolah Adiwiyata adalah:  

  1. SDN KAMPUNG DALEM I, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
  2. SDN PAKUJAJAR CBM, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
  3. SD CITRA ALAM CIGANJUR, Kotamadya Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
  4. SDN UNGARAN I, Kota Yogyakarta, DI. Yogyakarta.
  5. SMPN 1 KEDAMEAN, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
  6. SMP NEGERI 4, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
  7. SMPN 2, Kota Ciamis, Jawa Barat.
  8. SMAN 1 MANDIRANCAN, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
  9. SMAN 1 GONDANG, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
  10. SMAN 4, Kabupaten Pandeglang, Banten.

IV. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia

Data dan informasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menetapkan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup menerbitkan Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008 yang berisi kumpulan data dan informasi masalah-masalah lingkungan yang terjadi pada tahun 2008 beserta analisisnya. Laporan tersebut juga merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan tata kepemerintahan yang baik (good governance) karena sifatnya yang terbuka untuk publik. 

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada tahun 2008 sebanyak 18 provinsi dan 162 kabupaten/kota telah menerbitkan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dan untuk lebih memotivasi pemerintah daerah dalam membuat SLHD.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup memberikan Sertifikat Penghargaan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah kepada daerah berdasarkan kelengkapan data dan ketajaman analisisnya, yaitu kepada:

1.  Provinsi: (a) Provinsi Sumatera Barat, (b) Provinsi Sumatera Utara dan (c) Provinsi Sumatera Selatan

2.   Kota/ Kaputen: (a) Kota Padang,Sumatera Barat; (b) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat; (c) Kabupaten Kampar, Riau; (d) Kota Malang, Jawa Timur; (e) Kota Tangerang, Banten; (f) Kota Batu, Jawa Timur; (g) Kabupaten Buleleng, Bali; (h) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; (i) Kabupaten Badung, Bali; (j) Kota Balikpapan, Kalimantan Timur; (k) Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur; (l) Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimatan Selatan; (m) Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan; (n) Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara dan (o) Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.


Diharapkan “Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008” dapat menjadi acuan bagi para pengambil keputusan untuk lebih memperhatikan aspek lingkungan hidup dalam pembangunan lingkungan hidup di wilayahnya masing-masing.

Info:
Sdr. Dida Gardera (Humas KNLH)
Telp : 8517184 atau 081510520081

ANUGERAH LINGKUNGAN HIDUP 2009

sumber: www. menlh.go.id

PERS RELEASE: ANUGERAH LINGKUNGAN HIDUP 2009 (Hotel Borobudur, 5 Juni 2009)

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2009 ini mengambil tema “Bersama Selamatkan Bumi dari Perubahan Iklim”.  Melalui tema ini diharapkan dapat meyakinkan kita akan perlunya meningkatkan kepedulian dan peran aktif semua pihak untuk secara bersama menyelamatkan bumi dari berbagai permasalahan lingkungan termasuk perubahan iklim. 

Kebersamaan semua pihak merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan yang dapat terwujud manakala pelaku pembangunan memiliki wawasan kebangsaan dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat semacam itulah yang kiranya telah menjiwai sebagian besar para pejuang lingkungan yang telah menerima penghargaan lingkungan hidup 2009 dari Bapak Presiden RI tadi padi di Istana Negara. Adapun penghargaan lingkungan hidup yang diberikan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2009 adalah penghargaan Kalpataru, Adipura, Adiwiyata Mandiri dan Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah Terbaik dengan tolok ukur utama penghargaan itu adalah karya nyata di bidang lingkungan yang bermanfaat dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. 

I. Kalpataru

Dewan Pertimbangan Kalpataru dipimpin oleh Sdr. Prof. Dr. Didin Sastrapadja.  Penghargaan ini diberikan kepada individu maupun kelompok masyarakat yang telah berjuang demi pelestarian lingkungan. Pemenang Kalpataru 2009 sebagai berikut:

A.  Kategori Perintis Lingkungan

1. Sdr. Timotius Hindom yang beralamat di Kampung Wurkendik, Distrik Fakfak Barat, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Warga pedalaman ini, bersama masyarakat sekitar telah menjadi peramu dan peladang yang secara konsisten selama 20 tahun membangun 50 Ha wanatani dengan tumbuhan pala sebagai tanaman utama. Hal ini memotivasi warga lain untuk menghijaukan lahan kritis seluas 800 Ha.

2.   Sdr. Viktor Emanuel Raiyon dari Desa Reroroja, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terjangan tsunami yang melanda Kabupaten Sikka tahun 1992 telah mendorongnya berhasil menghutankan pantai utara Maumere menjadi hutan bakau seluas 55 Ha yang mampu menahan laju ombak dan mencegah abrasi pantai yang menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, kepiting, biawak, kera dan burung.

3.  Sdr. Anyie Apuy (Kepala Adat Besar Hulu Bahau) dari Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Timur. Berhasil menjaga hutan lindung Tana’ Ulen seluas 11.000 Ha yang dilindungi dan dikelola berdasarkan aturan adat secara turun temurun dan hasilnya mampu mempertahankan dominasi tutupan hijau di Kabupaten Malinau. 

4.   Sdr. Alexander Ketaren dari Jalan Kamboja No. 10, RT 001 RW 014, Kelurahan Tanjung Rejo, Kota Medan. Berhasil membangun hutan kota dengan menanam jutaan bibit di lahan miliknya seluas 580 Ha di pinggiran kota metropolitan Medan. 

5.   Sdr. Kasmir Gindo Sutan dari Jorong Tengah XX, Nagari Padang Laweh, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Aktif menginisiasi Wali Nagari dan membangun jaringan kerjasama antar nagari yang melibatkan 12 nagari dan menjaga 1000 Ha hutan ulayat Patah Gigi yang penting bagi kelangsungan Danau Singkarak dan PLTA Singkarak.

B.   Kategori Pengabdi Lingkungan

1. Sdr. Kadis, SP (Petugas Lapangan) dari Kelurahan Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten   Lombok  Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selama 30 tahun telah berhasil memotivasi 46 kelompok tani untuk menghijaukan setiap lahan kritis milik anggota seluas ± 1.525 Ha

2.   Sdr. Ir. Djoni (penggerak lingkungan) dari Jalan Raden Saleh No. 20A RT 001 RW 002, Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Berhasil memotivasi masyarakat untuk pembuatan pupuk organik dari urin kambing, penggunaan daun tithonia sebagai bahan penyubur tanah, pembentukan kelompok tani dan penyuluhan lingkungan, pendirian Institut Pertanain Organik, pemrakarsa pertanian tanpa asap serta pengembangan informasi lingkungan.

3.   Sdr. Makaampo Ratundulage Madonsa dari Jalan Malahasa, Lingkungan IV, Kecamatan Tahuna Induk, Kabupaten Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Berhasil menyelamatkan sumber mata air dengan tanam sulam bakau yang dilakukan secara kontinyu serta menyebarkan ribuan bibit bakau kepada masyarakat yang jauh di sebelah utara Sulawesi Utara.

C.  Kategori Penyelamat Lingkungan

1.   Lembaga Adat Dayak Wehea dari Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Para pemangku adat berhasil melestarikan hutan lindung adat seluas 38.000 Ha yang menjadi habitat yang aman bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan langka dangan cara menerapkan hukum adat.

2.   Ninik Mamak Negeri Enam Tanjung dari Desa Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Berhasil menjaga hutan Rimbo Tujuh Danau seluas 1000 Ha dengan hukum adat sehingga berhasil menjaga kelestarian hutan dan satwa di dalamnya (hutan disulam dengan berbagai jenis tumbuhan kehutanan).

D.  Kategori Pembina Lingkungan:

1.   Sdr. Irwansyah Idrus dari Jalan Petojo Binatu VI No.3, RT.04 RW08, Kelurahan Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kotamadya Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Berhasil menggerakkan masyarakat dalam merubah perilaku hidup bersih dan sehat dengan perbaikan sanitasi dengan membangun MCK ramah lingkungan dan membuat gerakan 3R (reuse, reduce, recyle) sampah menjadi barang ekonomis dan membuat serta memanfaatkan gas metana dari septicktank komunal untuk dapur umum sehingga dapat mengurangi pencemaran air tanah dan emisi gas rumah kaca.

2.   Sdr. H. Imdaad Hamid dari Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur telah berhasil menyelamatkan satwa langka dan hutan lindung Sungai Wain seluas 9.782 Ha, menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Kota Balikpapan, dengan melestarikan DAS Manggar seluas 4.994 Ha serta merehabilitasi 600 Ha lahan kiritis dengan pembangunan 20 lokasi hutan kota dengan luas 7.612 Ha.  

II. Program Adipura

Implementasi Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang secara konsisten terus dilakukan dengan berbagai upaya ke seluruh pihak untuk meningkatkan kepedulian berbagai lapisan masyarakat. Berkaitan dengan itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah memberikan penilaian kebersihan dan keteduhan kota melalui Program Adipura. Program ini memberikan pengaruh yang signifikan pada peningkatan kinerja pengelolaan lingkungan di beberapa kota menjadi kota yang lebih bersih, teduh dan nyaman. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kota yang menerima penghargaan Adipura dari tahun 2008 sebanyak 94 kota (25.1%) menjadi 126 kota (33.7%).  .

III. Program Adiwiyata

Program ini untuk membangun kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia yang peduli lingkungan hidup. Untuk itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup bersama Departemen Pendidikan Nasional melakukan upaya pengintegrasian aspek lingkungan dalam kebijakan pendidikan di jalur pendidikan formal.

Dewan Pertimbangan Penghargaan Adiwiyata Tahun 2009 yang diketuai oleh Sdr. Prof. Dr. H. Arief Rahman, M.Pd. telah menetapkan Sekolah Adiwiyata Mandiri atau Program Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan yang selama tiga tahun berturut-turut konsisten menjadi Sekolah Adiwiyata adalah:  

  1. SDN KAMPUNG DALEM I, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
  2. SDN PAKUJAJAR CBM, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
  3. SD CITRA ALAM CIGANJUR, Kotamadya Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
  4. SDN UNGARAN I, Kota Yogyakarta, DI. Yogyakarta.
  5. SMPN 1 KEDAMEAN, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
  6. SMP NEGERI 4, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
  7. SMPN 2, Kota Ciamis, Jawa Barat.
  8. SMAN 1 MANDIRANCAN, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
  9. SMAN 1 GONDANG, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
  10. SMAN 4, Kabupaten Pandeglang, Banten.

IV. Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia

Data dan informasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menetapkan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk itu Kementerian Negara Lingkungan Hidup menerbitkan Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008 yang berisi kumpulan data dan informasi masalah-masalah lingkungan yang terjadi pada tahun 2008 beserta analisisnya. Laporan tersebut juga merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan tata kepemerintahan yang baik (good governance) karena sifatnya yang terbuka untuk publik. 

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada tahun 2008 sebanyak 18 provinsi dan 162 kabupaten/kota telah menerbitkan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dan untuk lebih memotivasi pemerintah daerah dalam membuat SLHD.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup memberikan Sertifikat Penghargaan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah kepada daerah berdasarkan kelengkapan data dan ketajaman analisisnya, yaitu kepada:

1.  Provinsi: (a) Provinsi Sumatera Barat, (b) Provinsi Sumatera Utara dan (c) Provinsi Sumatera Selatan

2.   Kota/ Kaputen: (a) Kota Padang,Sumatera Barat; (b) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat; (c) Kabupaten Kampar, Riau; (d) Kota Malang, Jawa Timur; (e) Kota Tangerang, Banten; (f) Kota Batu, Jawa Timur; (g) Kabupaten Buleleng, Bali; (h) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; (i) Kabupaten Badung, Bali; (j) Kota Balikpapan, Kalimantan Timur; (k) Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur; (l) Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimatan Selatan; (m) Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan; (n) Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara dan (o) Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.


Diharapkan “Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008” dapat menjadi acuan bagi para pengambil keputusan untuk lebih memperhatikan aspek lingkungan hidup dalam pembangunan lingkungan hidup di wilayahnya masing-masing.

Info:
Sdr. Dida Gardera (Humas KNLH)
Telp : 8517184 atau 081510520081

Selasa, 02 Juni 2009

Pre-Wrap Up Meeting of COREMAP II ADB Review Mission

 

 

 

hari ini (2 Juni 2009),  bertempat di ruang rapat NPIU CRITC LIPI. dilaksanakan pembahasan Draft Memorandum of Understanding (MoU)  yang merupakan rekomendasi kegiatan ADB Review Mission COREMAP II dibahas. pembahasan ini sebagai langkah awal yang akan ditindaklanjuti dengan pembahasan final MoU Besok di tempat yang sama. sedikitnya ada 36 point yang dibahas, mulai dari PENDAHULUAN (tujuan review mission, kegiatan field trip (mission ke mentawai), tujuan umum dan pembiayaan program), TEMUAN-TEMUAN PENTING dan ISSUE (progress program, status implementasi program (kelembagaan dan CBM), issue 2009 dan proposal perpanjangan program, loan utilization, spesial account, kontrak dan disbursement,  dana pendamping, project management dan koordinasi, pelaporan, monitoringd an evaluasi, procurement procedure, project consultant/NGOs/penyuluh, follow up MTR review mission (oct-nov 2008), rencana kerja 2009, complian terhadap loan covenant, dan tsunami asistance) sampai REKOMENDASI DAN HAL-HAL URGENT YANG PERLU DITINDAKLANJUTI.

pembahasan ini berlangsung mulai pukul 10.00 wib hingga 17.00 WIB, namun secara keseluruhan belum selesai dibahas. hal-hal urgent akan dilanjutkan pembahasannya pada esok hari.

MoU hasil review mission ini diharapkan dapat disepakati dan ditandatangani pada tanggal 3 juni 2009, oleh pihak PMO COREMAP II, NPIU LIPI, BAPPENAS dan ADB.  ADB review mission tersebut dilaksanakan mulai tanggal 18 mei hingga 5 juni 2009. Tim ADB terdiri dari Mr. Mohammed Nasimul Islam (mission leader) and Homer Taylor. sji

Pre-Wrap Up Meeting of COREMAP II ADB Review Mission

 

 

 

hari ini (2 Juni 2009),  bertempat di ruang rapat NPIU CRITC LIPI. dilaksanakan pembahasan Draft Memorandum of Understanding (MoU)  yang merupakan rekomendasi kegiatan ADB Review Mission COREMAP II dibahas. pembahasan ini sebagai langkah awal yang akan ditindaklanjuti dengan pembahasan final MoU Besok di tempat yang sama. sedikitnya ada 36 point yang dibahas, mulai dari PENDAHULUAN (tujuan review mission, kegiatan field trip (mission ke mentawai), tujuan umum dan pembiayaan program), TEMUAN-TEMUAN PENTING dan ISSUE (progress program, status implementasi program (kelembagaan dan CBM), issue 2009 dan proposal perpanjangan program, loan utilization, spesial account, kontrak dan disbursement,  dana pendamping, project management dan koordinasi, pelaporan, monitoringd an evaluasi, procurement procedure, project consultant/NGOs/penyuluh, follow up MTR review mission (oct-nov 2008), rencana kerja 2009, complian terhadap loan covenant, dan tsunami asistance) sampai REKOMENDASI DAN HAL-HAL URGENT YANG PERLU DITINDAKLANJUTI.

pembahasan ini berlangsung mulai pukul 10.00 wib hingga 17.00 WIB, namun secara keseluruhan belum selesai dibahas. hal-hal urgent akan dilanjutkan pembahasannya pada esok hari.

MoU hasil review mission ini diharapkan dapat disepakati dan ditandatangani pada tanggal 3 juni 2009, oleh pihak PMO COREMAP II, NPIU LIPI, BAPPENAS dan ADB.  ADB review mission tersebut dilaksanakan mulai tanggal 18 mei hingga 5 juni 2009. Tim ADB terdiri dari Mr. Mohammed Nasimul Islam (mission leader) and Homer Taylor. sji

Kamis, 28 Mei 2009

bagi penggemar BOLA - Barcelona (2) vs Manchester United (0)

ngopi dari sebuah situs multiply, -->

Akhirnya Mantan Punggawa Arsenal meraih Tropi Champion meski dengan Kostum Barca, sedikit terobati atas kekalahan Arsenal dari MU

link berikut adalah informasi video untuk gol... silahkan bagi para penggemar bola untuk menikmatinya 

http://sikathabis.multiply.com/video/item/565/barcelona_vs_MU_2-0_etoo_10_messi_70

 

bagi penggemar BOLA - Barcelona (2) vs Manchester United (0)

ngopi dari sebuah situs multiply, -->

Akhirnya Mantan Punggawa Arsenal meraih Tropi Champion meski dengan Kostum Barca, sedikit terobati atas kekalahan Arsenal dari MU

link berikut adalah informasi video untuk gol... silahkan bagi para penggemar bola untuk menikmatinya 

http://sikathabis.multiply.com/video/item/565/barcelona_vs_MU_2-0_etoo_10_messi_70

 

Rabu, 27 Mei 2009

The Culinary Riches of Kudus

source: http://www.thejakartaglobe.com/home/the-culinary-riches-of-kudus/277325

Tash Roslin

Pak Selamet preparing his famous sate Kerbau. (Photo: Tash Roslin, JG)

Pak Selamet preparing his famous sate Kerbau. (Photo: Tash Roslin, JG)

The Culinary Riches of Kudus

Pak Selamet

Pak Selamet's Sate Kerbau. (Photo: Tash Roslin, JG)

Most Indonesians know Kudus, a midsized town in Central Java, for its two native products: kretek (clove) cigarettes and the famous soto (soup) Kudus, which can be found throughout the country. This town, however, has a plethora of culinary traditions that are almost exclusively known only by residents. Lining Kudus’s streets, beside billboards and banners advertising kretek cigarettes, are ordinary eateries and food hawkers that preserve and practice these legacies of taste, which are largely unknown to outsiders.

Kudus is less than 50 kilometers east of Semarang, about an hour’s ride by bus. The town itself is not so large as to make exploring on foot impossible, but you can uncover its culinary secrets via other means as well, one of the most popular being the becak (three-wheeled rickshaw).

However, those with no Javanese language skills may have a hard, if not amusing time, trying to understand what the becak drivers have to say, as they all talk in a quaint Javanese patois and their command of Indonesian is often limited. That does not appear to stop them from talking once you are in your seat, however, almost as if they are trying to keep you occupied during the trip. This may well be a good thing if you are intent on learning the local vernacular to follow the tales of the town they weave. And with such a hot climate in Kudus, moving around by becak so that you can feel the air breezing past is really worthwhile.

Breakfast is the most important meal of the day, at least for the residents of Kudus. Morning is the time when the town’s variety of foods is at its greatest, so you would be best to wake up and start your gastronomic expedition early. That way you will also get the chance to enjoy a first breakfast before 8 a.m. and then a second one a couple of hours later.

Lentog , which is a combination of lontong (long rice cake) and slices of jackfruit in runny coconut milk sauce, is characteristic of Kudus and very popular for breakfast. Said to originate in the Tanjung area, this dish is now sold in several other locations as well, including near the Kudus Sports Hall (GOR Kudus).

Another good meal to start a day of feasting is opor ayam Sunggingan Pak Suroso, which is tender chicken and small slices of tofu in a coconut milk. The dish originated in a place called Sunggungan and can now be found now in the Ploso area.

A lot is already known about soto kudus, including how this soup incorporates elements of Chinese cooking (the use of fried garlic and koya powder as condiments) into the original Javanese-style soto. That said, soto kudus Bu Jatmi on Jalan Wahid Hasyim is considered a classic by the people of Kudus.

Typical soto eateries often offer a choice of chicken or buffalo , but Bu Jatmi only serves chicken.

But like in many other places, there are plenty of accompaniments for the soto and rice, like fried tofu and tempe, quail egg satay, perkedel kentang (potato pancake) and the all-time favorite rempeyek (Javanese crackers.)

The best foods in Kudus are sold out before noon, especially the town’s most beloved sate kerbo nusantara by Pak Min Jastro. Sate kerbo — buffalo meat on skewers served with peanut sauce, ketchup and sambal — is relatively easy to find, but this one, on Pertokoan Agus Salim, is legendary. Pak Min Jastro usually opens for business at eight in the morning and closes as early as 11, after serving throngs of starving customers. If you are late, you can find alternatives on Jalan Panjunan.

Among a line of aquarium fish sellers, you will see a large but inconspicuous banner: Sate Kerbau Pak Selamet. Wearing the satay vendors’ casual uniform — black peci (a rimless hat) and plain white top — Pak Selamet will tell you stories of his 30-something years in the satay business as he fans your order on the grill.

When it comes to lunch or dinner, a visit to Warung Sop Buntut Ibu Uky is a must. Open from noon until night, this eatery on Jalan Ahmad Yani serves a variety of dishes, from pecel kudus (fresh vegetables in peanut sauce) and soto kudus to the zesty pindang kerbo (buffalo meat in keluwak sauce) and its specialty, sop buntut kerbo (oxtail soup). The warung is owned and operated by Ibu Uky, who is an amiable woman who knows how to talk about food as well as how to cook it.

All of Ibu Uky’s dishes have something in common: her generosity with spices and garlic. One particular dish on the menu is a must: the garang asem ayam . Here, slivers of chicken, along with the small bones, young tomatoes, belimbing sayur and cuts of large chillies, are submerged in hot, spicy santan broth and wrapped in banana leaves. The fabulousness of this dish (and eating it in Kudus’s already sweltering temperature) may leave you drowning in your own sweat, but you can always ask for an extra portion of rice.

If you are familiar at all with Javanese cooking, you must have noticed by now that buffalo meat is often used as a substitute for beef. Buffalo meat is a bit leaner than beef, but also has a more meaty texture.

In Kudus, the tradition of eating buffalo that is said to have been around for more than half a millennium, born out of religious tolerance.

Legend has it that Sunan Kudus, one of nine prominent men who spread Islam around Java, prohibited the slaying of cows by Muslims during Idul Adha as a gesture of respect for Hindus. Before Sunan arrived, Kudus had been a center of Hinduism in Central Java, and to Hindus, cows are sacred.

In the evenings food hawkers become scarcer and scarcer in Kudus as the night deepens. As the streets empty out it is interesting to see the santris, young people who study at Islamic boarding schools, or pesantren , flood out into the streets on their bicycles. You may even wish to take this quiet opportunity to walk off a day of gastronomic discovery.