Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

Kawasan Konservasi Perairan Butuh Dukungan Lintas Sektor


Jakarta, 16/9 (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo menyampaikan harapannya agar Pemerintah Kabupaten Biak berkomitmen dan mendukung pelaksanaan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP). Hal tersebut disampaikan pada acara pelepasan tukik penyu, hari ini, Minggu (16/9) di Desa Pasi, Distrik Aimando, Padaido Atas, Biak, yang merupakan bagian dari wilayah Taman Wisata Perairan Padaido.

     Sharif mengapresiasi pencadangan kawasan konservasi perairan Daerah Kabupaten Biak, yang sekaligus memperluas wilayah konservasi di perairan kepulauan Padaido, Owi dan sekitarnya. Wilayah ini menyimpan potensi keindahan bawah air, berupa terumbu karang, berbagai jenis ikan, termasuk adanya situs bangkai-bangkai kapal laut, pesawat terbang, dan tank yang karam, warisan Perang Dunia kedua. Besi-besi tua itu kini menjadi tempat hidup terumbu karang yang menjadi tumpuan seluruh kehidupan laut.

     Selain daerah Padaido, Biak juga memiliki Pulau Yapen yang menjadi tempat menetas bagi empat jenis penyu (hijau, sisik, lekang dan belimbing). Keberlangsungan ekosistem pesisir yang kaya akan sumber daya hayati ini membutuhkan terumbu karang yang sehat. Tak salah jika sejak tahun 2005 hingga 2011, lebih dari Rp54 miliar anggaran COREMAP untuk pengelolaan terumbu karang dialokasikan di Biak Numfor, dan terealisasi tidak kurang dari Rp40 Miliar. Secara khusus, keberhasilan program COREMAP II mendapat apresiasi dari Bank Dunia dengan hasil yang Memuaskan/Satisfactory. Saat ini kelanjutan pelaksanaan COREMAP pada tahun 2013 sedang direncanakan.

     Melalui program tersebut, aktivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan dilakukan secara kolaboratif berbasis masyarakat. Selain itu program ini juga mencakup pengembangan berbagai mata pencaharian alternatif, monitoring berkala kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang, serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya secara lestari dan berkelanjutan. Kawasan konservasi perairan Indonesia saat ini telah mencapai 15,78 juta hektar dari target yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebesar 20 juta hektar pada tahun 2020.

     Sharif juga berharap agar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat menindaklanjuti dan mendukung upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan secara efektif melalui pemanfaatan wisata bahari yang berkelanjutan. Menurutnya kawasan konservasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti  penelitian, pelatihan, pendidikan lingkungan, bisnis, pariwisata, pemberdayaan ekonomi masyarakat, maupun pemanfaatan jasa lingkungan lainnya dengan tidak melupakan fungsi konservasi yang sesungguhnya.

     Konservasi saat ini telah menjadi fokus penting sebagai harmonisasi kepentingan ekonomi dan kelestarian sumberdaya dalam mendukung perikanan yang berkelanjutan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggagas melalui kebijakan Ekonomi Biru, menjadikan konservasi sebagai sarana untuk mendorong keberlanjutan stok ikan, menjamin ekosistem dan kesehatan lingkungan, mendorong pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya secara efektif dan berkelanjutan.

     Prinsip “Ekonomi Biru” dinilai dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia, karena dari lebih 70 persen laut dan pesisir yang dimiliki dapat mendukung pembangunan kelautan dan sumber daya perikanan berkelanjutan.  Sebagai gambaran Pada 2010, penduduk Indonesia sebesar 237 juta dan diperkirakan pada 2020 mencapai 255 juta. Potensi ekonomi laut Indonesia diperkirakan sekitar 1,2 triliun dolar AS per tahun, atau dapat dikatakan setara dengan 10 kali APBN negara pada 2012. Apalagi, tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah terkait Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC yang menitikberatkan pada ekonomi biru.

     Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Indra Sakti, SE, MM, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (HP.0818159705)

COPYRIGHT © 2012

Kawasan Konservasi Perairan Butuh Dukungan Lintas Sektor


Jakarta, 16/9 (ANTARA) - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo menyampaikan harapannya agar Pemerintah Kabupaten Biak berkomitmen dan mendukung pelaksanaan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP). Hal tersebut disampaikan pada acara pelepasan tukik penyu, hari ini, Minggu (16/9) di Desa Pasi, Distrik Aimando, Padaido Atas, Biak, yang merupakan bagian dari wilayah Taman Wisata Perairan Padaido.

     Sharif mengapresiasi pencadangan kawasan konservasi perairan Daerah Kabupaten Biak, yang sekaligus memperluas wilayah konservasi di perairan kepulauan Padaido, Owi dan sekitarnya. Wilayah ini menyimpan potensi keindahan bawah air, berupa terumbu karang, berbagai jenis ikan, termasuk adanya situs bangkai-bangkai kapal laut, pesawat terbang, dan tank yang karam, warisan Perang Dunia kedua. Besi-besi tua itu kini menjadi tempat hidup terumbu karang yang menjadi tumpuan seluruh kehidupan laut.

     Selain daerah Padaido, Biak juga memiliki Pulau Yapen yang menjadi tempat menetas bagi empat jenis penyu (hijau, sisik, lekang dan belimbing). Keberlangsungan ekosistem pesisir yang kaya akan sumber daya hayati ini membutuhkan terumbu karang yang sehat. Tak salah jika sejak tahun 2005 hingga 2011, lebih dari Rp54 miliar anggaran COREMAP untuk pengelolaan terumbu karang dialokasikan di Biak Numfor, dan terealisasi tidak kurang dari Rp40 Miliar. Secara khusus, keberhasilan program COREMAP II mendapat apresiasi dari Bank Dunia dengan hasil yang Memuaskan/Satisfactory. Saat ini kelanjutan pelaksanaan COREMAP pada tahun 2013 sedang direncanakan.

     Melalui program tersebut, aktivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan dilakukan secara kolaboratif berbasis masyarakat. Selain itu program ini juga mencakup pengembangan berbagai mata pencaharian alternatif, monitoring berkala kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang, serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya secara lestari dan berkelanjutan. Kawasan konservasi perairan Indonesia saat ini telah mencapai 15,78 juta hektar dari target yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebesar 20 juta hektar pada tahun 2020.

     Sharif juga berharap agar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat menindaklanjuti dan mendukung upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan secara efektif melalui pemanfaatan wisata bahari yang berkelanjutan. Menurutnya kawasan konservasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti  penelitian, pelatihan, pendidikan lingkungan, bisnis, pariwisata, pemberdayaan ekonomi masyarakat, maupun pemanfaatan jasa lingkungan lainnya dengan tidak melupakan fungsi konservasi yang sesungguhnya.

     Konservasi saat ini telah menjadi fokus penting sebagai harmonisasi kepentingan ekonomi dan kelestarian sumberdaya dalam mendukung perikanan yang berkelanjutan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggagas melalui kebijakan Ekonomi Biru, menjadikan konservasi sebagai sarana untuk mendorong keberlanjutan stok ikan, menjamin ekosistem dan kesehatan lingkungan, mendorong pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya secara efektif dan berkelanjutan.

     Prinsip “Ekonomi Biru” dinilai dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia, karena dari lebih 70 persen laut dan pesisir yang dimiliki dapat mendukung pembangunan kelautan dan sumber daya perikanan berkelanjutan.  Sebagai gambaran Pada 2010, penduduk Indonesia sebesar 237 juta dan diperkirakan pada 2020 mencapai 255 juta. Potensi ekonomi laut Indonesia diperkirakan sekitar 1,2 triliun dolar AS per tahun, atau dapat dikatakan setara dengan 10 kali APBN negara pada 2012. Apalagi, tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah terkait Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC yang menitikberatkan pada ekonomi biru.

     Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Indra Sakti, SE, MM, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (HP.0818159705)

COPYRIGHT © 2012

KKP AJAK MENPAREKRAF KELOLA PADAIDO UNTUK WISATA BAHARI

Padaido-Biak, 16 September 2012, Usai menghadiri puncak acara Sail Morotai, rombongan Menteri Kelautan dan Perikanan tiba di Kabupaten Biak, disambut oleh Bupati Biak beserta jajarannya. Konjungan ke Biak ini menjadi nostalgia untuk menikmati keindahan Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido. Ikut dalam robongan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Eka Pangestu. Marie dijadwalkan menengok resort wisata dan snorkeling menikmati keindahan pesona bawah laut kawasan konservasi TWP Padaido yang menyimpan sejarah perang dunia ke-dua ini. Kunjungan bersama ini diharapkan menciptakan sinergi program konservasi dan pariwisata untuk menorong pertumbuhan ekonomi di Biak Numfor.

16 September, Tepat pukul 05.30 pagi waktu papua, rombongan berangkat menuju Yapen, menikmati rimbunnya hutan tropis yang berdampingan dengan  keindahan ekosistem pesisir Inggrisau – Yapen. Pantai ini menjadi  tempat bagi 4 jenis penyu (hijau, sisik, lekang dan belimbing) menetaskan generasinya. Di tempat ini, Sharif menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kampung Sawendui, khususnya kepada Saireri Paradise Foundation (SPF), yang dibina Yoris Raweyai. Yayasan SPF ini telah menggerakkan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi penyelamatan penyu di Pantai Inggrisau.

Melihat rangkaian keunikan dan upaya yang telah dilakukan masyarakat ini, Sharif menghimbau Pemda Yapen untuk segera melakukan identifikasi potensi keunikan ekosistem wilayah pesisir dan laut Sawendui dan menetapkaanya sebagai Kawasan Konservasi. Kawasan ini dapat dirangkai dengan keindahan ekosistem hutan tropis pantai dengan atraksi cendrawasihnya yang sangat unik. Wilayah hutan ini satu rangkaian ekosistem dengan kawasan pesisir, jadi dapat dijadikan satu kawasan konservasi wilayah pesisir berbarengan dengan upaya konservasi penyu. “Ini cocok dijadikan Taman Pesisir” lanjut Sharif menjelaskan.

Setelah melepas tigaratus limapuluh-an anak penyu (tukik) ke samudera dan puas menikmati keindahan pesisir Yapen, rombongan kembali bergerak dengan perahu menuju Desa Pasi, Distrik Aimando – Padaido Atas, sebuah tempat yang Indah bagian dari wilayah Taman Wisata Perairan Padaido. Keindahan dan kedamaian kampung ini menambah kesan kedua Menteri dan rombongan. Sungguh luar biasa anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada masyarakat Papua ini.

Anugerah sumberdaya laut dan perikanan yang telah Tuhan berikan kepada kita, tentu tidak hanya untuk dinikmati saat ini saja, tetapi juga harus dipikirkan bagaimana keberlanjutannya bagi generasi mendatang untuk anak cucu. Salah satunya, potensi kawasan Taman Wisata Perairan Padaido - Biak, yang saat ini dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan diharapkan dapat mendukung keberlanjutan sumberdaya ikan dan dimanfaatkan untuk tujuan wisata bahari yang mensejahterakan masyarakat Biak secara berkelanjutan.

Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido merupakan kawasan konservasi perairan seluas 183.000 hektar yang ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan melalui nomor Kep.68/MEN/2009 pada tanggal 3 September 2009. Kawasan konservasi ini merupakan kawasan yang sebelumnya dikelola Kementerian Kehutanan dan kemudian diserahterimakan pengelolaannya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI melalui Berita Acara  Berita Acara Serah Terima Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam dari Departemen Kehutanan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan Nomor: BA. 01/Menhut-IV/2009 – BA. 108/MEN.KP/III/2009, tanggal 4 Maret 2009.

Keindahan Taman Wisata Perairan Padaido akan lebih tereksplorasi melalui kegiatan wisata selam maupun snorkelling. Ada banyak biota laut khas, diantaranya ada 95 spesies koral dan 155 spesies ikan, termasuk Ikan Pari Manta yang indah. Ikan pari manta ini populasinya kian menurun, disamping karena lamanya proses berkembangbiak (masa kehamilan selama 12 bulan), juga dikarenakan perburuan oleh manusia. Di Taman Wisata Perairan ini juga terdapat gua bawah laut yang menarik untuk dieksplorasi oleh wisatawan. Lokasi penyelaman yang tidak kalah indah terdapat di Pulau Wundi dan Pulau Urek.

Dari bawah laut, kita juga bisa sekaligus berwisata sejarah. Karena di Kepulauan Padaido terdapat lokasi jatuhnya pesawat pembom Catalina milik sekutu saat perang dunia ke-2. Sensasi menyelam semacam ini tentu saja tidak bisa kita rasakan di tempat lain. Selain indah di laut, kepulaua padaido juga memiliki keindahan dan kekhasan di darat dari perspektif budaya dan adat. Masyarakat kepulauan padaido memiliki budaya tradisional antara lain rumah adat yang disebut Rum Sram dan Rum Som, Tarian Yospan, dan adat perkawinan Sanepen. Rumsom merupakan rumah yang didiami ayah dan ibu senior dengan anak laki-laki yang sudah menikah. Sementara itu, Rumsrom adalah rumah bagi pemuda yang sudah saatnya menikah sehingga tidak boleh lagi tidur/tinggal bersama orangtuanya.. Sementara itu tarian Yospan adalah tarian penyambutan bagi para pendatang yang tiba di wilayah kepulauan Padaido

Pada kesempatan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan juga mengapresiasi pencadangan kawasan konservasi perairan Daerah Kabupaten Biak, yang sekaligus memperluas wilayah konservasi di perairan kepulauan Padaido, Owi dan sekitarnya. Wilayah ini menyimpan potensi keindahan bawah air, berupa terumbu karang, berbagai jenis ikan  termasuk adanya situs bangkai-bangkai kapal laut, pesawat terbang, dan tank yang karam, warisan perang dunia ke-2. Besi-besi tua itu kini menjadi tempat hidup terumbu karang yang menjadi tumpuan seluruh kehidupan laut.  “Kawasan-kawasan konservasi ini selanjutnya dapat dikelola secara kolaboratif antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat” himbau Sharif.

Sharif kembali menegaskan bahwa konservasi bukanlah upaya instan yang bisa kita nikmati saat ini juga, namun KKP sangat menyambut baik setiap langkah konservasi semacam ini yang pada muaranya nanti akan mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Konservasi saat ini telah menjadi fokus penting sebagai harmonisasi kepentingan ekonomi dan kelestarian sumberdaya dalam mendukung perikanan yang berkelanjutan. Upaya ini sekaligus menjadi perwujudan kebijakan Ekonomi Biru yang kita gagas.  Ekonomi Biru (Blue Economy) melalui upaya konservasi diyakini dapat mendorong keberlanjutan stok ikan, menjamin ekosistem dan kesehatan lingkungan, mendorong pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya secara efektif dan berkelanjutan. Apalagi, tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah terkait Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC yang menitikberatkan pada ekonomi biru. Seiring dengan itu, maka prinsip ekonomi biru  harus menjadi salah satu agenda utama yang akan dibahas oleh forum APEC. Titik penting yang diangkat adalah bahwa Indonesia serius akan membawa diskusi Ekonomi Biru pada tingkat bilateral dan multilateral.

Wujud nyata upaya konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, bagi kesejahetraan masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP), yang salah satu lokasinya di Kabupaten Biak Numfor ini. Melalui program ini, aktifitas pengelolaan kawasan konservasi perairan dilakukan secara kolaboratif berbasis masyarakat, berbagai mata pencaharian alternatif dikembangkan, monitoring kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang dilakukan secara berkala, serta meningkatkan  kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya secara lestari dan berkelanjutan. Banyak kegiatan yang telah dilaksanakan dan tidak sedikit kucuran dana yang telah dialirkan dalam rangka progarm ini dapat mendukung pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan yang efektif.

Sejak tahun 2005 hingga 2011, lebih dari 54 miliar (54.642.705.000) anggaran COREMAP dialokasikan di Biak Numfor, dan terrealisasi tidak kurang dari 40 Milyar (40.203.990.861). Secara khusus, keberhasilan program COREMAP II telah mendapat apresiasi dari Bank Dunia dengan hasil yang Memuaskan/Satisfactory.

Sharif menyatakan bahwa Program ini akan dilanjutkan, saat ini usulan program COREMAP-CTI sedang digodog dengan pihak donor.  Mudah-mudahan sudah dapat dimulai Oktober tahun 2013. Untuk itu “Saya minta komitmen dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Biak, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan agar dapat konsisten melanjutkan pelaksanaan program ini nantinya dengan baik dan bertanggungjawab” pinta Sharif.

Program COREMAP II memang telah berakhir tahun 2011 kemarin, dan secara khusus ada tambahan dukungan Pusat untuk penguatan pengelolaan kawasan konservasi di Taman Wisata Perairan Padaido, tidak kurang dari 2 Milyar. Berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukung pengelolaan, seperti pusat informasi, peralatan komunikasi, kapal pengawasan, alat selam dan monitoring sumberdaya, serta berbagai peralatan pendukung lain telah direalisasikan sejak tahun 2009 kawasan ini diserahkan dari Kementerian Kehutanan, salah satunya floating jetty di Desa Pasi ini, yang dapat digunakan Masyarakat setempat dalam membantu menjalankan aktifitasnya. Untuk penguatan kelembagaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini telah menempatkan SDM Pengelola Taman Wisata Perairan Padaido yang merupakan bagian dari BKKPN Kupang.

Dalam sambutannya, Menteri Kelautan dan Perikanan menuturkan bahwa beberapa waktu lalu, telah menggandeng sejumlah jurnalis untuk menyusun buku tentang wisata bahari, sebagai buah dari upaya konservasi termbu karang dan pengelolaan wilayah pesisir di lokasi-lokasi program COREMAP II, salah satunya di Kabupaten Biak ini, yang diberi judul: “NOSTALGIA BIAK”. Upaya ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi ini, serta keindahan alam dan kekayaan sumberdaya laut Biak Numfor dapat terekspose lebih luas lagi untuk mendongkrak wisata bahari.

Secara khusus, Sharif berharap kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menindaklanjuti dan mendukung upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan secara efektif melalui pemanfaatan wisata bahari yang berkelanjutan. Ajakan ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Eka Pangestu. Marie menambahkan bahwa upaya ini sejalan dengan programnya mengembangkan DESA WISATA.  “Kawasan konservasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti  penelitian, pelatihan, pendidikan lingkungan, bisnis, pariwisata, pemberdayaan ekonomi  masyarakat, maupun pemanfaatan jasa lingkungan lainnya secara dioptimal dengan tidak melupakan fungsi konservasi yang sesungguhnya” Imbuh Sharif.

Bersamaan dengan kegiatan pada hari ini juga, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyampaikan sejumlah bantuan antara lain berupa Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan tangkap sebanyak 14 paket senilai 1,4 Milyar. Bantuan penyelenggaraan pendidikan dan penyuluhan senilai Rp.1,394.500.000 dengan perincian : bantuan penyelenggaran pendidikan senilai Rp. 1,205.000.000,-(STP 4 orang, APSOR 13 orang dan SUPM 45 orang), serta bantuan penyelenggaraan penyuluhan sejumlah Rp. 189.500.000,-.  Keseluruhan bantuan yang diserahkan ke masyarakat sejumlah Rp. 2,605.000.000,-

Bantuan yang diserahkan secara simbolis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan ini merupakan bukti nyata bahwa Pemerintah sangat mendukung pengembangan dan pengelolaan perikanan dan kelautan di Kabupaten Biak. Bantuan ini diharapkan dapat lebih mendorong peningkatan produksi dan nilai tambah dari produk kelautan dan perikanan yang dihasilkan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta bersinergi dengan upaya konservasi sumberdaya ikan bagi kesejahteraan masyarakat”. Ujar Sharif dalam sambutannya.

Selain bantuan kepada masyarakat pada kesempatan ini juga akan diserahkan bantuan 1 unit kapal operasional bagi pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Padaido dengan nilai Rp. 1,200.000.000,-.  Kapal operasional ini diharapkan dapat memperkuat upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan TWP Padaido.

Sinergi Konservasi, Pariwisata dan Ekonomi yang didukung dengan keterpaduan berbagai pihak, yakni pemerintah/pemerintah daerah masyarakat, LSM (baik lokal maupun internasional), para tokoh masyarakat, masyarakat adat serta para usahawan untuk bekerjasama sekaligus meningkatkan komitmen untuk melindungi dan melestarikan sumberdaya ikan kita, untuk kemudian  dikelola secara lestari dan dimanfaatkan secara bertanggungjawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.. (kkji)

KKP AJAK MENPAREKRAF KELOLA PADAIDO UNTUK WISATA BAHARI

Padaido-Biak, 16 September 2012, Usai menghadiri puncak acara Sail Morotai, rombongan Menteri Kelautan dan Perikanan tiba di Kabupaten Biak, disambut oleh Bupati Biak beserta jajarannya. Konjungan ke Biak ini menjadi nostalgia untuk menikmati keindahan Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido. Ikut dalam robongan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Eka Pangestu. Marie dijadwalkan menengok resort wisata dan snorkeling menikmati keindahan pesona bawah laut kawasan konservasi TWP Padaido yang menyimpan sejarah perang dunia ke-dua ini. Kunjungan bersama ini diharapkan menciptakan sinergi program konservasi dan pariwisata untuk menorong pertumbuhan ekonomi di Biak Numfor.

16 September, Tepat pukul 05.30 pagi waktu papua, rombongan berangkat menuju Yapen, menikmati rimbunnya hutan tropis yang berdampingan dengan  keindahan ekosistem pesisir Inggrisau – Yapen. Pantai ini menjadi  tempat bagi 4 jenis penyu (hijau, sisik, lekang dan belimbing) menetaskan generasinya. Di tempat ini, Sharif menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Kampung Sawendui, khususnya kepada Saireri Paradise Foundation (SPF), yang dibina Yoris Raweyai. Yayasan SPF ini telah menggerakkan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi penyelamatan penyu di Pantai Inggrisau.

Melihat rangkaian keunikan dan upaya yang telah dilakukan masyarakat ini, Sharif menghimbau Pemda Yapen untuk segera melakukan identifikasi potensi keunikan ekosistem wilayah pesisir dan laut Sawendui dan menetapkaanya sebagai Kawasan Konservasi. Kawasan ini dapat dirangkai dengan keindahan ekosistem hutan tropis pantai dengan atraksi cendrawasihnya yang sangat unik. Wilayah hutan ini satu rangkaian ekosistem dengan kawasan pesisir, jadi dapat dijadikan satu kawasan konservasi wilayah pesisir berbarengan dengan upaya konservasi penyu. “Ini cocok dijadikan Taman Pesisir” lanjut Sharif menjelaskan.

Setelah melepas tigaratus limapuluh-an anak penyu (tukik) ke samudera dan puas menikmati keindahan pesisir Yapen, rombongan kembali bergerak dengan perahu menuju Desa Pasi, Distrik Aimando – Padaido Atas, sebuah tempat yang Indah bagian dari wilayah Taman Wisata Perairan Padaido. Keindahan dan kedamaian kampung ini menambah kesan kedua Menteri dan rombongan. Sungguh luar biasa anugerah Tuhan yang telah diberikan kepada masyarakat Papua ini.

Anugerah sumberdaya laut dan perikanan yang telah Tuhan berikan kepada kita, tentu tidak hanya untuk dinikmati saat ini saja, tetapi juga harus dipikirkan bagaimana keberlanjutannya bagi generasi mendatang untuk anak cucu. Salah satunya, potensi kawasan Taman Wisata Perairan Padaido - Biak, yang saat ini dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan diharapkan dapat mendukung keberlanjutan sumberdaya ikan dan dimanfaatkan untuk tujuan wisata bahari yang mensejahterakan masyarakat Biak secara berkelanjutan.

Taman Wisata Perairan (TWP) Padaido merupakan kawasan konservasi perairan seluas 183.000 hektar yang ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan melalui nomor Kep.68/MEN/2009 pada tanggal 3 September 2009. Kawasan konservasi ini merupakan kawasan yang sebelumnya dikelola Kementerian Kehutanan dan kemudian diserahterimakan pengelolaannya kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI melalui Berita Acara  Berita Acara Serah Terima Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam dari Departemen Kehutanan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan Nomor: BA. 01/Menhut-IV/2009 – BA. 108/MEN.KP/III/2009, tanggal 4 Maret 2009.

Keindahan Taman Wisata Perairan Padaido akan lebih tereksplorasi melalui kegiatan wisata selam maupun snorkelling. Ada banyak biota laut khas, diantaranya ada 95 spesies koral dan 155 spesies ikan, termasuk Ikan Pari Manta yang indah. Ikan pari manta ini populasinya kian menurun, disamping karena lamanya proses berkembangbiak (masa kehamilan selama 12 bulan), juga dikarenakan perburuan oleh manusia. Di Taman Wisata Perairan ini juga terdapat gua bawah laut yang menarik untuk dieksplorasi oleh wisatawan. Lokasi penyelaman yang tidak kalah indah terdapat di Pulau Wundi dan Pulau Urek.

Dari bawah laut, kita juga bisa sekaligus berwisata sejarah. Karena di Kepulauan Padaido terdapat lokasi jatuhnya pesawat pembom Catalina milik sekutu saat perang dunia ke-2. Sensasi menyelam semacam ini tentu saja tidak bisa kita rasakan di tempat lain. Selain indah di laut, kepulaua padaido juga memiliki keindahan dan kekhasan di darat dari perspektif budaya dan adat. Masyarakat kepulauan padaido memiliki budaya tradisional antara lain rumah adat yang disebut Rum Sram dan Rum Som, Tarian Yospan, dan adat perkawinan Sanepen. Rumsom merupakan rumah yang didiami ayah dan ibu senior dengan anak laki-laki yang sudah menikah. Sementara itu, Rumsrom adalah rumah bagi pemuda yang sudah saatnya menikah sehingga tidak boleh lagi tidur/tinggal bersama orangtuanya.. Sementara itu tarian Yospan adalah tarian penyambutan bagi para pendatang yang tiba di wilayah kepulauan Padaido

Pada kesempatan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan juga mengapresiasi pencadangan kawasan konservasi perairan Daerah Kabupaten Biak, yang sekaligus memperluas wilayah konservasi di perairan kepulauan Padaido, Owi dan sekitarnya. Wilayah ini menyimpan potensi keindahan bawah air, berupa terumbu karang, berbagai jenis ikan  termasuk adanya situs bangkai-bangkai kapal laut, pesawat terbang, dan tank yang karam, warisan perang dunia ke-2. Besi-besi tua itu kini menjadi tempat hidup terumbu karang yang menjadi tumpuan seluruh kehidupan laut.  “Kawasan-kawasan konservasi ini selanjutnya dapat dikelola secara kolaboratif antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat” himbau Sharif.

Sharif kembali menegaskan bahwa konservasi bukanlah upaya instan yang bisa kita nikmati saat ini juga, namun KKP sangat menyambut baik setiap langkah konservasi semacam ini yang pada muaranya nanti akan mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Konservasi saat ini telah menjadi fokus penting sebagai harmonisasi kepentingan ekonomi dan kelestarian sumberdaya dalam mendukung perikanan yang berkelanjutan. Upaya ini sekaligus menjadi perwujudan kebijakan Ekonomi Biru yang kita gagas.  Ekonomi Biru (Blue Economy) melalui upaya konservasi diyakini dapat mendorong keberlanjutan stok ikan, menjamin ekosistem dan kesehatan lingkungan, mendorong pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya secara efektif dan berkelanjutan. Apalagi, tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah terkait Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik APEC yang menitikberatkan pada ekonomi biru. Seiring dengan itu, maka prinsip ekonomi biru  harus menjadi salah satu agenda utama yang akan dibahas oleh forum APEC. Titik penting yang diangkat adalah bahwa Indonesia serius akan membawa diskusi Ekonomi Biru pada tingkat bilateral dan multilateral.

Wujud nyata upaya konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil, bagi kesejahetraan masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melaksanakan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP), yang salah satu lokasinya di Kabupaten Biak Numfor ini. Melalui program ini, aktifitas pengelolaan kawasan konservasi perairan dilakukan secara kolaboratif berbasis masyarakat, berbagai mata pencaharian alternatif dikembangkan, monitoring kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang dilakukan secara berkala, serta meningkatkan  kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya secara lestari dan berkelanjutan. Banyak kegiatan yang telah dilaksanakan dan tidak sedikit kucuran dana yang telah dialirkan dalam rangka progarm ini dapat mendukung pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan yang efektif.

Sejak tahun 2005 hingga 2011, lebih dari 54 miliar (54.642.705.000) anggaran COREMAP dialokasikan di Biak Numfor, dan terrealisasi tidak kurang dari 40 Milyar (40.203.990.861). Secara khusus, keberhasilan program COREMAP II telah mendapat apresiasi dari Bank Dunia dengan hasil yang Memuaskan/Satisfactory.

Sharif menyatakan bahwa Program ini akan dilanjutkan, saat ini usulan program COREMAP-CTI sedang digodog dengan pihak donor.  Mudah-mudahan sudah dapat dimulai Oktober tahun 2013. Untuk itu “Saya minta komitmen dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Biak, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan agar dapat konsisten melanjutkan pelaksanaan program ini nantinya dengan baik dan bertanggungjawab” pinta Sharif.

Program COREMAP II memang telah berakhir tahun 2011 kemarin, dan secara khusus ada tambahan dukungan Pusat untuk penguatan pengelolaan kawasan konservasi di Taman Wisata Perairan Padaido, tidak kurang dari 2 Milyar. Berbagai fasilitas dan infrastruktur pendukung pengelolaan, seperti pusat informasi, peralatan komunikasi, kapal pengawasan, alat selam dan monitoring sumberdaya, serta berbagai peralatan pendukung lain telah direalisasikan sejak tahun 2009 kawasan ini diserahkan dari Kementerian Kehutanan, salah satunya floating jetty di Desa Pasi ini, yang dapat digunakan Masyarakat setempat dalam membantu menjalankan aktifitasnya. Untuk penguatan kelembagaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini telah menempatkan SDM Pengelola Taman Wisata Perairan Padaido yang merupakan bagian dari BKKPN Kupang.

Dalam sambutannya, Menteri Kelautan dan Perikanan menuturkan bahwa beberapa waktu lalu, telah menggandeng sejumlah jurnalis untuk menyusun buku tentang wisata bahari, sebagai buah dari upaya konservasi termbu karang dan pengelolaan wilayah pesisir di lokasi-lokasi program COREMAP II, salah satunya di Kabupaten Biak ini, yang diberi judul: “NOSTALGIA BIAK”. Upaya ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi ini, serta keindahan alam dan kekayaan sumberdaya laut Biak Numfor dapat terekspose lebih luas lagi untuk mendongkrak wisata bahari.

Secara khusus, Sharif berharap kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menindaklanjuti dan mendukung upaya pengelolaan kawasan konservasi perairan secara efektif melalui pemanfaatan wisata bahari yang berkelanjutan. Ajakan ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Eka Pangestu. Marie menambahkan bahwa upaya ini sejalan dengan programnya mengembangkan DESA WISATA.  “Kawasan konservasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti  penelitian, pelatihan, pendidikan lingkungan, bisnis, pariwisata, pemberdayaan ekonomi  masyarakat, maupun pemanfaatan jasa lingkungan lainnya secara dioptimal dengan tidak melupakan fungsi konservasi yang sesungguhnya” Imbuh Sharif.

Bersamaan dengan kegiatan pada hari ini juga, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyampaikan sejumlah bantuan antara lain berupa Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan tangkap sebanyak 14 paket senilai 1,4 Milyar. Bantuan penyelenggaraan pendidikan dan penyuluhan senilai Rp.1,394.500.000 dengan perincian : bantuan penyelenggaran pendidikan senilai Rp. 1,205.000.000,-(STP 4 orang, APSOR 13 orang dan SUPM 45 orang), serta bantuan penyelenggaraan penyuluhan sejumlah Rp. 189.500.000,-.  Keseluruhan bantuan yang diserahkan ke masyarakat sejumlah Rp. 2,605.000.000,-

Bantuan yang diserahkan secara simbolis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan ini merupakan bukti nyata bahwa Pemerintah sangat mendukung pengembangan dan pengelolaan perikanan dan kelautan di Kabupaten Biak. Bantuan ini diharapkan dapat lebih mendorong peningkatan produksi dan nilai tambah dari produk kelautan dan perikanan yang dihasilkan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta bersinergi dengan upaya konservasi sumberdaya ikan bagi kesejahteraan masyarakat”. Ujar Sharif dalam sambutannya.

Selain bantuan kepada masyarakat pada kesempatan ini juga akan diserahkan bantuan 1 unit kapal operasional bagi pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Padaido dengan nilai Rp. 1,200.000.000,-.  Kapal operasional ini diharapkan dapat memperkuat upaya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan TWP Padaido.

Sinergi Konservasi, Pariwisata dan Ekonomi yang didukung dengan keterpaduan berbagai pihak, yakni pemerintah/pemerintah daerah masyarakat, LSM (baik lokal maupun internasional), para tokoh masyarakat, masyarakat adat serta para usahawan untuk bekerjasama sekaligus meningkatkan komitmen untuk melindungi dan melestarikan sumberdaya ikan kita, untuk kemudian  dikelola secara lestari dan dimanfaatkan secara bertanggungjawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.. (kkji)

Jumat, 29 April 2011

Pedoman Umum Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan untuk Kegiatan Pariwisata Alam Perairan

Pemanfaatan KKP untuk Pariwisata Alam Perairan(Pasal 33 PP 60 Tahun 2007)

Dapat dilakukan di zona pemanfaatan dan/atau zona perikanan berkelanjutan.
kegiatan wisata alam perairan; dan/atau
pengusahaan pariwisata alam perairan.
wajib memiliki izin, diberikan oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan kewenangannya.
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh izin pariwisata alam perairan di zona pemanfaatan  dan/atau zona perikanan berkelanjutan dalam kawasan konservasi perairan diatur dengan peraturan Menteri.

Pedoman Umum Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan untuk Kegiatan Pariwisata Alam Perairan sebagaimana TERLAMPIR




Pedoman Umum Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan untuk Kegiatan Pariwisata Alam Perairan

Pemanfaatan KKP untuk Pariwisata Alam Perairan(Pasal 33 PP 60 Tahun 2007)

Dapat dilakukan di zona pemanfaatan dan/atau zona perikanan berkelanjutan.
kegiatan wisata alam perairan; dan/atau
pengusahaan pariwisata alam perairan.
wajib memiliki izin, diberikan oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan kewenangannya.
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh izin pariwisata alam perairan di zona pemanfaatan  dan/atau zona perikanan berkelanjutan dalam kawasan konservasi perairan diatur dengan peraturan Menteri.

Pedoman Umum Pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan untuk Kegiatan Pariwisata Alam Perairan sebagaimana TERLAMPIR




Rabu, 23 Desember 2009

Inisiasi 'TURTLE CENTER' di TAMAN PESISIR Pantai PENYU PANGUMBAHAN (PANGUMBAHAN TURTLE PARK) resmi DILUNCURKAN

Penandatanganan Prasasti bergambar penyu oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP), Bapak M. Syamsul Maarif menandai diresmikannya Turtle Center Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park) pada tanggal 22 Desember 2009. Acara Peluncuran ini dihadiri oleh tidak kurang dari 300 peserta yang berasal dari masyarakat sekitar pantai pangumbahan, acara juga dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kemeterian Kelautan dan Perikanan, beberapa pejabat dari Kemeterian dan Dinas sektor terkait, LSM, serta Wartawan Media Cetak dan Elektronik. Pada kesempatan tersebut, juga diserahkan Buku Tabungan PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan serta kartu tanda anggota Nelayan.

Perhelatan yang digelar di area Pangumbahan Turtle Park tersebut, sebelumnya (21 des'09 malam) didahului dengan acara "turtle watching", yakni melihat prosesi Penyu Bertelor. ehm, ternyata sangat luar biasa. Penyu hijau, yang saat itu mendarat ke pantai pukul 00.00 (22 des) menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk membuat lubang... kemudian meletakkan telornya (+150butir)...menutup lubang...dan kembali ke laut..., (bagi penulis, ini merupakan pengalaman pertama melihat prosesi tersebut secara langsung). Sebelum ke laut, penyu hijau yang telah menyarangkan telornya tersebut diberi TANDA... penandaan (TAGGING) penyu dilakukan oleh Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut (KTNL) (Bapak Agus Dermawan)bersama ahli dari WWF (Bapak M. Halim) disaksikan oleh Direktur Marine Program WWF (Bapak Wawan Ridwan) beserta Wartawan media cetak dan elektronik dan belasan peserta (termasuk penulis). melaui penandaan ini, penyu tersebut akan termonitor pada suatu saat nanti si penyu tersebut kembali ke pantai yang sama untuk mendaratkan kembali terlur-telurnya.

Suasana pagi yang cerah di area Pangumbahan Turtle Park. Deburan ombak bergantian menghempas ke pantai menyambut ratusan tukik yang pagi itu dilepaskan oleh Sekretaris Jenderal DKP, Bupati Sukabumi, Direktur KTNL, Kadis KP Sukabumi dan pejabat-pejabat lainnya beserta peserta yang hadir, ada sekitar 300 tukik yang barusaja menetas dan dilepaskan pada pagi itu...

Kehadiran Sekjen DKP beserta Jajaran Pemda pada acara Launching Turtle Center pagi itu disambut oleh Dengung - Lengser khas Sukabumi. setelah prosesi penyambutan selesai, MC segera cuap-cuap mendandai acara sudah dimulai.

Pada Laporannya, Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut selain menyampaikan rangkaian acara dan jumlah peserta yang hadir, beliau juga menyampaikan pentingnya konservasi penyu di Pantai pangumbahan. Sejak belasan tahun lalu, Pantai Pangumbahan dikenal sebagai lokasi bertelurnya penyu secara alami. Kini Pantai Pangumbahan statusnya telah dicadangkan sebagai Taman Pesisir sesuai dengan SK Bupati no: 523/Kep.639-Dislutkan/2008. Jenis penyu yang banyak terdapat di Pantai Pangumbahan adalah jenis Penyu hijau atau Chelonia mydas dan beberapa laporan menunjukkan adanya peneluran penyu sisik di wilayah tersebut. Ungkap beliau pada laporannya.

Selanjutnya, Bupati Sukabumi (H. Sukmawijaya) dalam sambutannya menekankan pada Langkah-langkah yang telah dan sedang dilakukan dalam pelestarian penyu tidak akan berjalan sesuai harapan apabila tidak mendapat dukungan dan peran serta masyarakat, para pecinta lingkungan, perguruan tinggi, dunia usaha pemerintah provinsi dan pemerintah pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan. "Kami menyadari bahwa upaya yang telah dilakukan belum optimal, namun pemerintah pusat (DKP) telah memberikan apresiasi kepada kami berupa “Piagam penghargaan atas komitmen dan dedikasi yang tinggi terhadap pengembangan kawasan konservasi perairan daerah dari Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan pada side event World Ocean Conference (WOC) dan CTI Summit di Manado tanggal 13 Mei 2009, begitu pula pada rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup tingkat Provinsi Jawa Barat pada Bulan November 2009 kami pun dianugerahi penghargaan dari Bapak Gubernur Jawa Barat atas upaya kami dalam pengelolaan kawasan konservasi penyu". lanjut Beliau.  Apresiasi tersebut menambah semangat untuk mewujudkan kelestarian penyu dan habitatnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku terlebih lagi bahwa masyarakat Kabupaten Sukabumi menjadikan penyu sebagai lambang pemerintah daerahnya.

Ditinjau dari sisi kewenangan pemerintah daerah yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerntah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota serta peraturan perundangan lainnya, kami bercita-cita mengembangkan kawasan ujunggenteng

pangumbahan menjadi obyek wisata andalan dengan penyu hijau sebagai daya tarik utamanya. Harapan kami ke depan upaya pelestarian penyu tersebut dapat bermanfaat dan berkontribusi terhadap pembangunan Kabupaten Sukabumi, terutama masyarakat sekitarnya memperoleh manfaat ekonomi tak langsung dari upaya pelestarian penyu tersebut. Di akhir sambutannya, beliau berharap, Mudah-mudahan cita-cita kami mendapat restu dan dukungan dari semua pihak terutama dari Departemen Kelautan dan Perikanan yang menjadikan kawasan Pangumbahan sebagai “Turtle Centre Taman Pesisir Pantai Pengumbahan”.

 

Gubernur Jawa Barat, pada sambutannya yang sampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan mendukung upaya konservasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi, melalui pencadangan Kawasan Konservasi laut daerah serta pengembangan pariwisata berbasis konservasi penyu. Lebih lanjut, disampaikan bahwa di Provinsi Jawa Barat terdapat 3 (tiga) lokasi Kawasan Konservasi Perairan (laut) daerah, yaitu di Pulau Biawak-Indramayu, Ciamis, dan Sukabumi. Upaya konservasi penyu serupa yang dilakukan di Sukabumi juga akan dilakukan di Kawasan konservasi Perairan Kabupaten Ciamis, yang juga mempunyai potensi penyu.

 

Sekjen DKP yang juga sebagai Plt. Dirjen KP3K, mewakili menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan sambutan sebelum secara resmi menandatangani prasasti sebagai simbol dimulainya pengembangan Turtle Center di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park). Beliau menyampaikan permintaan maaf ketidakhadiran Bapak Menteri karena masih dalam perjalanan mengikuti COP 15 di Copenhagen. Dalam sambutannya, Pertama-tama, menyampaikan ucapan terima kasih, dukungan dan penghargaan yang tinggi kepada Bupati Sukabumi beserta jajarannya yang telah membantu mengawali proses inisiasi pencadangan Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir Pangumbahan dengan telah ditetapkannya Surat Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 523/Kep.639-Dislutkan/2008 tanggal 31 Desember 2008 dengan kategori Taman Pesisir.  Beliau sangat menghargai dan mendukung komitmen Pemerintah Daerah Sukabumi untuk mengelola pantai Pangumbahan ini sebagai Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park),  sehingga terselenggaranya acara Peluncuran Turtle Center’ tersebut.

 

Lebih lanjut, Kutipan sambutan beliau sebagai berikut: Dengan disahkannya Undang-Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan beserta perubahannnya yang tertuang dalam Undang-Undang No. 45 tahun 2009, Undang-undang 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Nomor 02 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan konservasi Perairan, Departemen Kelautan dan Perikanan  sebagai departemen teknis memiliki visi dan misi serta kewenangan di bidang kelautan dan perikanan  termasuk didalamnya pengelolaan konservasi sumberdaya ikan dan lingkungannya, maka pengelolaan kawasan konservasi perairan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Keanekaragaman hayati laut Indonesia sudah terkenal di dunia sehingga dikenal sebagai mega-biodiversity country, terletak di pusat segi tiga terumbu karang (coral triangle). Oleh karenanya Presiden RI Bapak SBY telah mendeklarasikan Coral Triangle Initiative (CTI) pada konferensi Asean Pacific Economic Conference (APEC) tahun 2007 di Australia.

Deklarasi CTI tersebut menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia.

Sebagai inisiator CTI, Pemerintah Republik Indonesia mengajak negara-negara tetangga yang memiliki kekayaan sumberdaya laut seperti Malaysia, Philipine, Papua New Guinea, Timor Leste, Solomon Islands  untuk bahu membahu mengembangkan pemanfaatan laut secara berkelanjutan, sehingga sepatutnyalah kita semua mencurahkan perhatian dan energi untuk pengelolaan pesisir dan laut yang lestari dan bijaksana bagi kesejahteraan masyarakat kita.

Visi Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai Penghasil Produk Perikanan dan Kelautan terbesar pada 2015 dengan misi ‘Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan’ perlu kita dukung dengan fokus pada pencapaian tujuannya, salah satunya adalah ‘Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan’,

Pencadangan Kawasan konservasi laut daerah Sukabumi merupakan bagian komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program 10 juta Ha kawasan konservasi laut tahun 2010 yang telah disampaikan pada sambutan tertulis Presiden RI di kesempatan konferensi internasional Convention on Biological Biodiversity di Brazil pada

bulan Maret 2006.

Kawasan konservasi laut daerah ini merupakan bentuk pengelolaan kawasan laut dengan sistem zonasi sehingga sangat terbuka untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan baik untuk penelitian berbagai aspek, pendidikan generasi muda, aktifitas perikanan, pariwisata bahari dan kegiatan lainnya yang mendukung pengembangan ekonomi lokal berbasis konservasi.

Dengan dideklarasikannya Turtle Center di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan ini, komitmen pengelolaan sumberdaya laut secara berkelanjutan telah terlaksana  untuk ditindaklanjuti oleh berbagai sektor terkait sehingga hasilnya diharapkan dapat lebih nyata, khususnya bagi masyarakat pesisir Sukabumi.  

Adanya turtle center di kawasan pesisir pantai penyu pangumbahan ini diharapkan dapat menjadi simbol atau icon Kabupaten Sukabumi menjadi lebih dikenal dunia Internasional. Saya himbau  agar pemanfaatan turtle center untuk berbagai kegiatan seperti Pusat Penelitian, pelatihan, pendidikan lingkungan, bisnis, pariwisata, pemberdayaan

ekonomi  masyarakat, maupun pemanfaatan jasa lingkungan dapat dioptimalkan dengan tidak melupakan fungsi konservasi penyu yang sesungguhnya.

Pengelolaan kawasan konservasi Taman Pesisir  Pantai Penyu Pangumbahan ini, saya harapkan dapat bersinergi dengan program-program lainnya, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri KP) maupun program lainnya sehingga benar-benar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pada akhirnya saya mengajak seluruh jajaran Pemerintah kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal maupun internasional, para tokoh masyarakat serta para usahawan untuk bekerjasama menyusun perencanaan pengelolaan Taman Pesisir ini secara terpadu, untuk kemudian  dikelola secara lestari dan bertanggungjawab.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim,  maka Turtle Center  Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park)

dengan ini saya resmikan. 

 

Demikianlah... resmi sudah TURTLE CENTER diresmikan oleh Bapak Sekjen DKP... sebelum acara berakhir, secara seksama Bupati Sukabumi menjelaskan Maket rencana Pengembangan Turtle Center di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park)... hmm.. akhirnya, penulis berharap semoga turtle center yang dicanangkan, pada akhirnya nanti dapat mencapai tujuannya dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.  amiin