Tampilkan postingan dengan label pangumbahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pangumbahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

Penyu untuk Indonesia - Race for Turtle Savior

http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Astra_Daihatsu_Penyu.jpg

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -PT Astra Daihatsu Motor (ADM)selenggarakan acara bertajuk “All New Xenia Race for Turtle Saviour” di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta. Aktifitas gathering ini merupakan puncak Program “Penyu Untuk Indonesia” yang telah dilaksanakan sejak 9 Febuari 2011. Sebuah program penghimpunan dana untuk membantu upaya konservasi penyu di Indonesia.

Event yang diikuti sekitar 300-an anggota klub beserta keluarganya dari ke-9 Klub Komunitas Pengguna Daihatsu yaitu: Avanza Xenia Indonesia Club (AXIC), Terios Rush Club Indonesia (TERUCI), Daihatsu Taruna Club (DTC), Ceria Club Indonesia (CCI), Gran Max Luxio Club (MAXXIO), Zebra Club (ZEC), Classy Winner Indonesia Club (CWINDO), Sirion Indonesia Club (SIC) dan Taruna Owners (TO), bersama dengan 700 orang donatur perorangan terpilih yang telah berpartisipasi dalam program ini. Turut hadir sejumlah perwakilan dari perusahaan Grup Astra yang turut memberikan donasi.Sabtu (19/11/2011)

Berbagai acara digelar, antara lain : Turtle Water Race untuk memilih 48 pemenang berhadiah kunjungan ke area konservasi pelestarian penyu di Pulau Serangan, Bali. Juga Xenia Race untuk mengexplore kelebihan All New Xenia dengan hadiah mendapatkan uang saku perjalanan, kemudian Fun Games dengan berbagai hadiah yang sangat menarik dan Kids Creativity Competition untuk anak-anak yang hadir dalam event tersebut.

Hingga saat ini nilai penerimaan donasi dari aktifitas adopsi boneka penyu ini sudah mencapai lebih dari Rp 300 juta. Donasi ini akan disumbangkan ke lima konservasi Penyu di Indonesia yaitu konservasi penyu Ujung Genteng, Sukabumi; Way Tembulih, Lampung; Pantai Rancak, Bali; Alas Purwo, Banyuwangi; dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Donasi berasal dari para karyawan Daihatsu, anggota ke-9 Klub Daihatsu, serta sumbangan donasi dari karyawan dan Perusahaan Grup Astra lainnya.

Dalam acara “All New Xenia Race for Turtle Saviour” ini, ADM melakukan penyerahan donasi secara simbolis kepada perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang diwakili oleh Riyanto Basuki, Kasubdit Konservasi Kawasan, Direktorat Kawasan dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Direktur Marketing ADM Amelia Tjandra mengatakan “Event ini merupakan puncak penyelenggaraan program ‘Penyu Untuk Indonesia’ sebagai apresiasi kami atas partisipasi masyarakat yang telah mendukung pelestarian Penyu. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yg telah berpartisipasi dalam program ‘Penyu untuk Indonesia’ ini.”

Acara puncak program “Penyu Untuk Indonesia” ini berlangsung sehari penuh dan diwarnai dengan berbagai kegiatan, termasuk Test Drive All New Xenia untuk memberikan frist drive experience kepada para loyal customer yaitu member Klub Daihatsu merasakan kenyamanan mengendarai All New Xenia.


Penulis: Budi Prasetyo  |  Editor: Budi Prasetyo

Penyu untuk Indonesia - Race for Turtle Savior

http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Astra_Daihatsu_Penyu.jpg

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -PT Astra Daihatsu Motor (ADM)selenggarakan acara bertajuk “All New Xenia Race for Turtle Saviour” di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta. Aktifitas gathering ini merupakan puncak Program “Penyu Untuk Indonesia” yang telah dilaksanakan sejak 9 Febuari 2011. Sebuah program penghimpunan dana untuk membantu upaya konservasi penyu di Indonesia.

Event yang diikuti sekitar 300-an anggota klub beserta keluarganya dari ke-9 Klub Komunitas Pengguna Daihatsu yaitu: Avanza Xenia Indonesia Club (AXIC), Terios Rush Club Indonesia (TERUCI), Daihatsu Taruna Club (DTC), Ceria Club Indonesia (CCI), Gran Max Luxio Club (MAXXIO), Zebra Club (ZEC), Classy Winner Indonesia Club (CWINDO), Sirion Indonesia Club (SIC) dan Taruna Owners (TO), bersama dengan 700 orang donatur perorangan terpilih yang telah berpartisipasi dalam program ini. Turut hadir sejumlah perwakilan dari perusahaan Grup Astra yang turut memberikan donasi.Sabtu (19/11/2011)

Berbagai acara digelar, antara lain : Turtle Water Race untuk memilih 48 pemenang berhadiah kunjungan ke area konservasi pelestarian penyu di Pulau Serangan, Bali. Juga Xenia Race untuk mengexplore kelebihan All New Xenia dengan hadiah mendapatkan uang saku perjalanan, kemudian Fun Games dengan berbagai hadiah yang sangat menarik dan Kids Creativity Competition untuk anak-anak yang hadir dalam event tersebut.

Hingga saat ini nilai penerimaan donasi dari aktifitas adopsi boneka penyu ini sudah mencapai lebih dari Rp 300 juta. Donasi ini akan disumbangkan ke lima konservasi Penyu di Indonesia yaitu konservasi penyu Ujung Genteng, Sukabumi; Way Tembulih, Lampung; Pantai Rancak, Bali; Alas Purwo, Banyuwangi; dan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Donasi berasal dari para karyawan Daihatsu, anggota ke-9 Klub Daihatsu, serta sumbangan donasi dari karyawan dan Perusahaan Grup Astra lainnya.

Dalam acara “All New Xenia Race for Turtle Saviour” ini, ADM melakukan penyerahan donasi secara simbolis kepada perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang diwakili oleh Riyanto Basuki, Kasubdit Konservasi Kawasan, Direktorat Kawasan dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Direktur Marketing ADM Amelia Tjandra mengatakan “Event ini merupakan puncak penyelenggaraan program ‘Penyu Untuk Indonesia’ sebagai apresiasi kami atas partisipasi masyarakat yang telah mendukung pelestarian Penyu. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yg telah berpartisipasi dalam program ‘Penyu untuk Indonesia’ ini.”

Acara puncak program “Penyu Untuk Indonesia” ini berlangsung sehari penuh dan diwarnai dengan berbagai kegiatan, termasuk Test Drive All New Xenia untuk memberikan frist drive experience kepada para loyal customer yaitu member Klub Daihatsu merasakan kenyamanan mengendarai All New Xenia.


Penulis: Budi Prasetyo  |  Editor: Budi Prasetyo

Kamis, 10 Februari 2011

Penyu Untuk Indonesia Media Indonesia

Program CSR Daihatsu
Rabu, 09 Februari 2011 19:30 WIB
Penyu untuk Indonesia
Penulis : chadie
Penyu untuk Indonesia

MI/CHADIE

MELIHAT nasib satwa penyu yang jumlahnya kian menyusut baik dari populasi maupun jenisnya, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menggelar program bertajuk 'Penyu untuk Indonesia' yang diresmikan pada Rabu (9/2). 

Program yang digelar ADM bekerjasama dengan MetroTV, National Geographic Indonesia, AutoBild Indonesia, MRA Media Group dan Harian Seputar Indonesia ini dilatar belakangi oleh adanya kesamaan visi dalam pelestarian lingkungan yang dimiliki oleh kelima perusahaan tersebut. 

Dalam hal ini, penyu dipilih karena enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia memiliki habitat di Indonesia, yaitu penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricata), penyu tempayan (caretta caretta), penyu pipih (natator depressus) dan penyu lekang(lepidochelys olivacea). 

Tragisnya, hewan yang merupakan salah satu jenis reptil peninggalan zaman purbakala itu kian langka populasinya akibat proses seleksi alam, namun yang paling parah disebabkan oleh perilaku manusia. 

Kasubid Konservasi Kawasan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Rianto Basuki yang hadir dalam acara itu mengatakan, "Penyu tertua yang pernah ditemukan memiliki usia 162 tahun. Meskipun memiliki umur yang panjang, hewan ini memiliki kemungkinan hidup yang sangat minim akibat seleksi alam. Menurut penelitian, dari 1.000 telur yang menetas, hanya 1 yang dapat mencapai dewasa hingga usia 20-50 tahun." 

Sejak dari masih jadi telur, lanjutnya, ancaman sudah menghadang dari para predator seperti tikus, musang dan sebagainya. Ketika telur menetas menjadi tukik dan keluar sarang menuju laut, ancaman lain sudah menanti dari biawak, burung elang dan berbagai predator lain. Begitu pula saat tukik masuk dalam air. 

Keunikan lain dari hewan luar biasa ini ada pada kemampuan migrasi yang sanggup menjelajah hingga mencapai jarak hampir 5.000 km dari tempat ia ditetaskan. Dan yang paling menakjubkan adalah, hewan ini pasti akan kembali ke tempat ia ditetaskan saat musim bertelur antara usia 20-50 tahun untuk meletakkan telur-telur mereka. 

Riyanto Basuki juga menambahkan bahwa alasan lain pentingnya melestarikan penyu adalah untuk menyeimbangkan ekosistem alam. Jika penyu-penyu ini punah, maka terdapat rantai makanan yang terputus dan berdampak secara luas pada ekosistem. 

Dalam upaya melestarikan penyu, program 'Penyu untuk Indonesia' dikemas dalam konsep 'fund raising' berupa penggalangan dana dari para donatur mulai dari para pelanggan dan komunitas maupun masyarakat umum dengan cara adopsi dan donasi. 

Maksudnya para donatur diharapkan untuk 'mengadopsi' boneka penyu yang lucu dengan menyumbang sebesar Rp50 ribu. Seluruh dana yang terkumpul langsung dikumpulkan di rekening Bank BCA cabang Wahid Hasyim bernomor rekening 478-302-2730 atas nama PT Media Nusantara Informasi. 

Dana tersebut kemudian di salurkan ke-5 lokasi konservasi penyu yaitu di Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng, Prancak-Bali, Alas Purwo-Banyuwangi Selatan, Way Tembulih-Lampung Barat dan Pulau Berau-Derawan-Kalimnatan Timur. 

Mewakili Daihatsu, Suparno Djasmin mengatakan,"Kami memperkirakan program ini akan mendatangkan dana dengan target awal sekitar Rp750 juta dari pengadopsi dan donatur, di mana dana yang terkumpul akan disumbangkan dalam bentuk bahan dan peralatan pendukung operasional di 5 lokasi konservasi terpilih," 

Program ini merupakan program terintegrasi selama satu tahun yang diawali dengan acara 'kick off' yang akan berlangsung 12 Februari di lokasi konservasi penyu Ujung Genteng-Sukabumi. 

Selama perjalan ke lokasi tersebut, 100 orang peserta yang merupakan perwakilan dari komunitas Daihatsu dan perwakilan dari penyelenggara program ini, dapat merasakan kenyamanan dan ketangguhan Daihatsu Luxio dan The New Terios. 

Sesampainya di lokasi, mereka akan mendapatkan sosialisasi sekaligus melihat langsung program pelestarian penyu. Harapannya, mereka akan dapat menjadi endorser/agen penggerak kampanye untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program 'Penyu untuk Indonesia'. (OL-07) 

Penyu Untuk Indonesia Media Indonesia

Program CSR Daihatsu
Rabu, 09 Februari 2011 19:30 WIB
Penyu untuk Indonesia
Penulis : chadie
Penyu untuk Indonesia

MI/CHADIE

MELIHAT nasib satwa penyu yang jumlahnya kian menyusut baik dari populasi maupun jenisnya, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menggelar program bertajuk 'Penyu untuk Indonesia' yang diresmikan pada Rabu (9/2). 

Program yang digelar ADM bekerjasama dengan MetroTV, National Geographic Indonesia, AutoBild Indonesia, MRA Media Group dan Harian Seputar Indonesia ini dilatar belakangi oleh adanya kesamaan visi dalam pelestarian lingkungan yang dimiliki oleh kelima perusahaan tersebut. 

Dalam hal ini, penyu dipilih karena enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia memiliki habitat di Indonesia, yaitu penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricata), penyu tempayan (caretta caretta), penyu pipih (natator depressus) dan penyu lekang(lepidochelys olivacea). 

Tragisnya, hewan yang merupakan salah satu jenis reptil peninggalan zaman purbakala itu kian langka populasinya akibat proses seleksi alam, namun yang paling parah disebabkan oleh perilaku manusia. 

Kasubid Konservasi Kawasan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Rianto Basuki yang hadir dalam acara itu mengatakan, "Penyu tertua yang pernah ditemukan memiliki usia 162 tahun. Meskipun memiliki umur yang panjang, hewan ini memiliki kemungkinan hidup yang sangat minim akibat seleksi alam. Menurut penelitian, dari 1.000 telur yang menetas, hanya 1 yang dapat mencapai dewasa hingga usia 20-50 tahun." 

Sejak dari masih jadi telur, lanjutnya, ancaman sudah menghadang dari para predator seperti tikus, musang dan sebagainya. Ketika telur menetas menjadi tukik dan keluar sarang menuju laut, ancaman lain sudah menanti dari biawak, burung elang dan berbagai predator lain. Begitu pula saat tukik masuk dalam air. 

Keunikan lain dari hewan luar biasa ini ada pada kemampuan migrasi yang sanggup menjelajah hingga mencapai jarak hampir 5.000 km dari tempat ia ditetaskan. Dan yang paling menakjubkan adalah, hewan ini pasti akan kembali ke tempat ia ditetaskan saat musim bertelur antara usia 20-50 tahun untuk meletakkan telur-telur mereka. 

Riyanto Basuki juga menambahkan bahwa alasan lain pentingnya melestarikan penyu adalah untuk menyeimbangkan ekosistem alam. Jika penyu-penyu ini punah, maka terdapat rantai makanan yang terputus dan berdampak secara luas pada ekosistem. 

Dalam upaya melestarikan penyu, program 'Penyu untuk Indonesia' dikemas dalam konsep 'fund raising' berupa penggalangan dana dari para donatur mulai dari para pelanggan dan komunitas maupun masyarakat umum dengan cara adopsi dan donasi. 

Maksudnya para donatur diharapkan untuk 'mengadopsi' boneka penyu yang lucu dengan menyumbang sebesar Rp50 ribu. Seluruh dana yang terkumpul langsung dikumpulkan di rekening Bank BCA cabang Wahid Hasyim bernomor rekening 478-302-2730 atas nama PT Media Nusantara Informasi. 

Dana tersebut kemudian di salurkan ke-5 lokasi konservasi penyu yaitu di Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng, Prancak-Bali, Alas Purwo-Banyuwangi Selatan, Way Tembulih-Lampung Barat dan Pulau Berau-Derawan-Kalimnatan Timur. 

Mewakili Daihatsu, Suparno Djasmin mengatakan,"Kami memperkirakan program ini akan mendatangkan dana dengan target awal sekitar Rp750 juta dari pengadopsi dan donatur, di mana dana yang terkumpul akan disumbangkan dalam bentuk bahan dan peralatan pendukung operasional di 5 lokasi konservasi terpilih," 

Program ini merupakan program terintegrasi selama satu tahun yang diawali dengan acara 'kick off' yang akan berlangsung 12 Februari di lokasi konservasi penyu Ujung Genteng-Sukabumi. 

Selama perjalan ke lokasi tersebut, 100 orang peserta yang merupakan perwakilan dari komunitas Daihatsu dan perwakilan dari penyelenggara program ini, dapat merasakan kenyamanan dan ketangguhan Daihatsu Luxio dan The New Terios. 

Sesampainya di lokasi, mereka akan mendapatkan sosialisasi sekaligus melihat langsung program pelestarian penyu. Harapannya, mereka akan dapat menjadi endorser/agen penggerak kampanye untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program 'Penyu untuk Indonesia'. (OL-07) 

Penyu Untuk Indonesia

Daihatsu Galang Dana "Penyu Untuk Indonesia"

Acara peluncuran Penyu untuk Indonesia di Jakarta, Rabu (9/2). (Dok. ADM)

TEMPO InteraktifJakarta - Dalam rangka ikut merestarikan lingkungan, PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) meluncurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk "Penyu untuk Indonesia" di Jakarta, Rabu (9/2). Program ini bertujuan mengumpulkan dana untuk mengembangkan konservasi penyu.


Kenapa penyu? "Penyu merupakan hewan khas Indonesia yang hampir punah. Tak banyak yang tahu jika 6 dari 7 jenis penyu di dunia habitatnya berada di Indonesia. Populasi penyu berkurang drastis baik karena proses alam maupun perilaku merusak manusia," kata Suparno Djasmin CEO PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) dalam keterangan persnya.

Program "Penyu untuk Indonesia" ini dikemas dalam konsep 'Fund Raising' berupa pengumpulan dana dari pelanggan masing-masing perusahaan penyelenggara program dan masyarakat umum dengan cara adopsi dan donasi. Seluruh dana sumbangan akan dikumpulkan dalam rekening Bank BCA cabang Wahid Hasyim dengan nomor rekening 4783022730 atas nama PT Media Nusantara Informasi.

Nantinya, dana yang terkumpul akan digunakan untuk mengembangkan tempat-tempat konservasi penyu yang ada di Indonesia. Lima lokasi konservasi terpilih yaitu Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng, Prancak-Bali, Alas Purwo Banyuwangi Selatan, Way Tembulih Lampung Barat dan Pulau Berau Derawan di Kalimantan Timur.
 
"Kami memperkirakan program ini akan bisa mendatangkan dana dengan target awal sekitar Rp 750 juta dari pengadopsi dan donatur," tambah Suparno Djasmin.

Program kerjasama Daihatsu, Autobild Indonesia, National Geographic Indonesia, Harian Seputar Indonesia, Metro TV dan MRA Media Group ini dilakukan terintegrasi selama satu tahun. Diawali di konservasi penyu, Ujung Genteng Sukabumi, 12 Februari mendatang.

RAJU FEBRIAN

Penyu Untuk Indonesia

Daihatsu Galang Dana "Penyu Untuk Indonesia"

Acara peluncuran Penyu untuk Indonesia di Jakarta, Rabu (9/2). (Dok. ADM)

TEMPO InteraktifJakarta - Dalam rangka ikut merestarikan lingkungan, PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) meluncurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk "Penyu untuk Indonesia" di Jakarta, Rabu (9/2). Program ini bertujuan mengumpulkan dana untuk mengembangkan konservasi penyu.


Kenapa penyu? "Penyu merupakan hewan khas Indonesia yang hampir punah. Tak banyak yang tahu jika 6 dari 7 jenis penyu di dunia habitatnya berada di Indonesia. Populasi penyu berkurang drastis baik karena proses alam maupun perilaku merusak manusia," kata Suparno Djasmin CEO PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) dalam keterangan persnya.

Program "Penyu untuk Indonesia" ini dikemas dalam konsep 'Fund Raising' berupa pengumpulan dana dari pelanggan masing-masing perusahaan penyelenggara program dan masyarakat umum dengan cara adopsi dan donasi. Seluruh dana sumbangan akan dikumpulkan dalam rekening Bank BCA cabang Wahid Hasyim dengan nomor rekening 4783022730 atas nama PT Media Nusantara Informasi.

Nantinya, dana yang terkumpul akan digunakan untuk mengembangkan tempat-tempat konservasi penyu yang ada di Indonesia. Lima lokasi konservasi terpilih yaitu Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng, Prancak-Bali, Alas Purwo Banyuwangi Selatan, Way Tembulih Lampung Barat dan Pulau Berau Derawan di Kalimantan Timur.
 
"Kami memperkirakan program ini akan bisa mendatangkan dana dengan target awal sekitar Rp 750 juta dari pengadopsi dan donatur," tambah Suparno Djasmin.

Program kerjasama Daihatsu, Autobild Indonesia, National Geographic Indonesia, Harian Seputar Indonesia, Metro TV dan MRA Media Group ini dilakukan terintegrasi selama satu tahun. Diawali di konservasi penyu, Ujung Genteng Sukabumi, 12 Februari mendatang.

RAJU FEBRIAN

Penyu Untuk Indonesia - Headline News


http://www.metrotvnews.com/read/newscatvideo/sosbud/2011/02/10/122204/Metro-TV-untuk-Pelestarian-Penyu
MELIHAT nasib satwa penyu yang jumlahnya kian menyusut baik dari populasi maupun jenisnya, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menggelar program bertajuk 'Penyu untuk Indonesia' yang diresmikan pada Rabu (9/2).

Program yang digelar ADM bekerjasama dengan MetroTV, National Geographic Indonesia, AutoBild Indonesia, MRA Media Group dan Harian Seputar Indonesia ini dilatar belakangi oleh adanya kesamaan visi dalam pelestarian lingkungan yang dimiliki oleh kelima perusahaan tersebut.

Dalam hal ini, penyu dipilih karena enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia memiliki habitat di Indonesia, yaitu penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricata), penyu tempayan (caretta caretta), penyu pipih (natator depressus) dan penyu lekang (lepidochelys olivacea).

Tragisnya, hewan yang merupakan salah satu jenis reptil peninggalan zaman purbakala itu kian langka populasinya akibat proses seleksi alam, namun yang paling parah disebabkan oleh perilaku manusia.

Kasubid Konservasi Kawasan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Rianto Basuki yang hadir dalam acara itu mengatakan, "Penyu tertua yang pernah ditemukan memiliki usia 162 tahun. Meskipun memiliki umur yang panjang, hewan ini memiliki kemungkinan hidup yang sangat minim akibat seleksi alam. Menurut penelitian, dari 1.000 telur yang menetas, hanya 1 yang dapat mencapai dewasa hingga usia 20-50 tahun."

Sejak dari masih jadi telur, lanjutnya, ancaman sudah menghadang dari para predator seperti tikus, musang dan sebagainya. Ketika telur menetas menjadi tukik dan keluar sarang menuju laut, ancaman lain sudah menanti dari biawak, burung elang dan berbagai predator lain. Begitu pula saat tukik masuk dalam air.

Keunikan lain dari hewan luar biasa ini ada pada kemampuan migrasi yang sanggup menjelajah hingga mencapai jarak hampir 5.000 km dari tempat ia ditetaskan. Dan yang paling menakjubkan adalah, hewan ini pasti akan kembali ke tempat ia ditetaskan saat musim bertelur antara usia 20-50 tahun untuk meletakkan telur-telur mereka.

Riyanto Basuki juga menambahkan bahwa alasan lain pentingnya melestarikan penyu adalah untuk menyeimbangkan ekosistem alam. Jika penyu-penyu ini punah, maka terdapat rantai makanan yang terputus dan berdampak secara luas pada ekosistem.

Dalam upaya melestarikan penyu, program 'Penyu untuk Indonesia' dikemas dalam konsep 'fund raising' berupa penggalangan dana dari para donatur mulai dari para pelanggan dan komunitas maupun masyarakat umum dengan cara adopsi dan donasi.

Maksudnya para donatur diharapkan untuk 'mengadopsi' boneka penyu yang lucu dengan menyumbang sebesar Rp50 ribu. Seluruh dana yang terkumpul langsung dikumpulkan di rekening Bank BCA cabang Wahid Hasyim bernomor rekening 478-302-2730 atas nama PT Media Nusantara Informasi.

Dana tersebut kemudian di salurkan ke-5 lokasi konservasi penyu yaitu di Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng, Prancak-Bali, Alas Purwo-Banyuwangi Selatan, Way Tembulih-Lampung Barat dan Pulau Berau-Derawan-Kalimnatan Timur.

Mewakili Daihatsu, Suparno Djasmin mengatakan,"Kami memperkirakan program ini akan mendatangkan dana dengan target awal sekitar Rp750 juta dari pengadopsi dan donatur, di mana dana yang terkumpul akan disumbangkan dalam bentuk bahan dan peralatan pendukung operasional di 5 lokasi konservasi terpilih,"

Program ini merupakan program terintegrasi selama satu tahun yang diawali dengan acara 'kick off' yang akan berlangsung 12 Februari di lokasi konservasi penyu Ujung Genteng-Sukabumi.

Selama perjalan ke lokasi tersebut, 100 orang peserta yang merupakan perwakilan dari komunitas Daihatsu dan perwakilan dari penyelenggara program ini, dapat merasakan kenyamanan dan ketangguhan Daihatsu Luxio dan The New Terios.

Sesampainya di lokasi, mereka akan mendapatkan sosialisasi sekaligus melihat langsung program pelestarian penyu. Harapannya, mereka akan dapat menjadi endorser/agen penggerak kampanye untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program 'Penyu untuk Indonesia'. (OL-07)

Penyu Untuk Indonesia - Headline News


http://www.metrotvnews.com/read/newscatvideo/sosbud/2011/02/10/122204/Metro-TV-untuk-Pelestarian-Penyu
MELIHAT nasib satwa penyu yang jumlahnya kian menyusut baik dari populasi maupun jenisnya, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menggelar program bertajuk 'Penyu untuk Indonesia' yang diresmikan pada Rabu (9/2).

Program yang digelar ADM bekerjasama dengan MetroTV, National Geographic Indonesia, AutoBild Indonesia, MRA Media Group dan Harian Seputar Indonesia ini dilatar belakangi oleh adanya kesamaan visi dalam pelestarian lingkungan yang dimiliki oleh kelima perusahaan tersebut.

Dalam hal ini, penyu dipilih karena enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia memiliki habitat di Indonesia, yaitu penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricata), penyu tempayan (caretta caretta), penyu pipih (natator depressus) dan penyu lekang (lepidochelys olivacea).

Tragisnya, hewan yang merupakan salah satu jenis reptil peninggalan zaman purbakala itu kian langka populasinya akibat proses seleksi alam, namun yang paling parah disebabkan oleh perilaku manusia.

Kasubid Konservasi Kawasan, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Rianto Basuki yang hadir dalam acara itu mengatakan, "Penyu tertua yang pernah ditemukan memiliki usia 162 tahun. Meskipun memiliki umur yang panjang, hewan ini memiliki kemungkinan hidup yang sangat minim akibat seleksi alam. Menurut penelitian, dari 1.000 telur yang menetas, hanya 1 yang dapat mencapai dewasa hingga usia 20-50 tahun."

Sejak dari masih jadi telur, lanjutnya, ancaman sudah menghadang dari para predator seperti tikus, musang dan sebagainya. Ketika telur menetas menjadi tukik dan keluar sarang menuju laut, ancaman lain sudah menanti dari biawak, burung elang dan berbagai predator lain. Begitu pula saat tukik masuk dalam air.

Keunikan lain dari hewan luar biasa ini ada pada kemampuan migrasi yang sanggup menjelajah hingga mencapai jarak hampir 5.000 km dari tempat ia ditetaskan. Dan yang paling menakjubkan adalah, hewan ini pasti akan kembali ke tempat ia ditetaskan saat musim bertelur antara usia 20-50 tahun untuk meletakkan telur-telur mereka.

Riyanto Basuki juga menambahkan bahwa alasan lain pentingnya melestarikan penyu adalah untuk menyeimbangkan ekosistem alam. Jika penyu-penyu ini punah, maka terdapat rantai makanan yang terputus dan berdampak secara luas pada ekosistem.

Dalam upaya melestarikan penyu, program 'Penyu untuk Indonesia' dikemas dalam konsep 'fund raising' berupa penggalangan dana dari para donatur mulai dari para pelanggan dan komunitas maupun masyarakat umum dengan cara adopsi dan donasi.

Maksudnya para donatur diharapkan untuk 'mengadopsi' boneka penyu yang lucu dengan menyumbang sebesar Rp50 ribu. Seluruh dana yang terkumpul langsung dikumpulkan di rekening Bank BCA cabang Wahid Hasyim bernomor rekening 478-302-2730 atas nama PT Media Nusantara Informasi.

Dana tersebut kemudian di salurkan ke-5 lokasi konservasi penyu yaitu di Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng, Prancak-Bali, Alas Purwo-Banyuwangi Selatan, Way Tembulih-Lampung Barat dan Pulau Berau-Derawan-Kalimnatan Timur.

Mewakili Daihatsu, Suparno Djasmin mengatakan,"Kami memperkirakan program ini akan mendatangkan dana dengan target awal sekitar Rp750 juta dari pengadopsi dan donatur, di mana dana yang terkumpul akan disumbangkan dalam bentuk bahan dan peralatan pendukung operasional di 5 lokasi konservasi terpilih,"

Program ini merupakan program terintegrasi selama satu tahun yang diawali dengan acara 'kick off' yang akan berlangsung 12 Februari di lokasi konservasi penyu Ujung Genteng-Sukabumi.

Selama perjalan ke lokasi tersebut, 100 orang peserta yang merupakan perwakilan dari komunitas Daihatsu dan perwakilan dari penyelenggara program ini, dapat merasakan kenyamanan dan ketangguhan Daihatsu Luxio dan The New Terios.

Sesampainya di lokasi, mereka akan mendapatkan sosialisasi sekaligus melihat langsung program pelestarian penyu. Harapannya, mereka akan dapat menjadi endorser/agen penggerak kampanye untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program 'Penyu untuk Indonesia'. (OL-07)

Jumat, 17 Desember 2010

Berkunjung ke Pusat Peneluran Penyu PANGUMBAHAN

sumber: http://tourismindonesiaonline.com/berkunjung-ke-pusat-peneluran-penyu-pangumbahan/

December 9th, 2010 | 6:58 pm | author : TIO



Pantai Pangumbahan di kawasan Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, sudah lama menjadi tempat peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Secara alami hewan-hewan langka ini memilih tempat ini karena pasirnya yang lembut dan bersih dari karang-karang. Walaupun begitu tempat ini penuh dengan ancaman berbagai predator, baik biawak, burung, bahkan manusia.

Pangumbahan sendiri diambil dari kata Kumbah, artinya memandikan. Jaman dulu telur-telur yang menetas diambil dan dimandikan terlebih dahulu sebelum diternakkan atau dikonsumsi. Maka dari itu kawasan sekitar pantai ini disebut kawan pesisir Pangumbahan.

Di pusat peneluran Penyu Pangumbahan ini, setiap malam, banyak tamu datang berkunjung. Dalam sebulan, sebanyak 1000-1500 orang datang untuk melihat mahluk unik ini. Dengan luas 2.500m2 kawasan ini terdiri dari 6 pos yang berjarak setiap 400 meter dan dikelilingi tembok setinggi 3 meter sepanjang 3 kilometer untuk menutup area peneloran ke arah darat.

Berdasarkan keterangan Pak Cecep Penyu, begitu panggilan akrab pemandu berumur 55 tahun ini, baru 12 karyawan dan 3 pengawas yang resmi pegawai DKP. Sisanya pemandu sebagai pekerja lepas mendapat pemasukan dari para pengunjung yang datang.

Untuk pengunjung, pos 1 dan 2 saja yang diijinkan untuk dikunjungi. Dengan membayar Rp 5.000 pengunjung dapat melihat 2 atraksi yaitu pelepasan Penyu dan melihat Penyu bertelur.   Setiap sore pukul 17.30, tukik-tukik yang baru menetas dilepas oleh petugas  bersama para pengunjung. Malamnya pukul 21.00 pengunjung yang datang beramai-ramai melihat proses peneluran Punyu secara alami, juga bersama dengan para petugas. Awalnya pengunjung berkumpul terlebih dahulu di ruangan yang telah disediakan sebelum dipersilahkan oleh para petugas untuk melihat proses peneluran.  Kemudian setelah Penyu telah mulai bertelur, para pengunjung berangkat dipandu petugas.

Di tengah kegelapan pantai, puluhan orang menyusuri pantai sambil menyalakan senter menuju tempat sang Penyu bertelur. Beberapa larangan seperti tidak boleh mengarahkan sinar senter ke arah pantai dan mengarahkan sinar senter ke sisi depan atau kepala Penyu berkali-kali diingatkan petugas.  Tampak seekor Penyu di sebuah cekungan pasir sedang menelurkan telur-telurnya ke arah lobang yang sudah ia buat. Selama 15-20 menit, 100 telor dihasilkan. Selanjutnya telur-telur tersebut diambil oleh petugas untuk di tempat di lubang-lubang penetasan yang lebih aman. Dengan rata-rata kedalaman lubang 70cm, selama 40-60 hari telor tersebut akan  menetaskan dan dilepas ke laut. Lamanya pengeraman oleh kehangatan pasir tergantung oleh cuaca. Jika cuaca cerah akan semakin cepat penetasannya, jika banyak mendung atau hujan akan lebih lama.

Antusias para pengunjung tampaknya agak kurang diimbangi dengan kesadaran pengunjung sendiri untuk menaati peraturan yang disampaikan para petugas. Kadang banyak pengunjung mengarahkan sinar senternya ke sisi kepala Penyu. Apalagi para pengunjung ingin berfoto dengan hewan langka ini. Hasilnya situasi riuh mewarnai proses peneluran yang seharusnya tenang.

Mungkin dengan fasilitas yang ada seperti Aula, kantor, penginapan dan rumah karyawan, pelayanan untuk pengunjung bisa dimaksimalkan. Pengunjung dapat diberikan briefing sejenak sambil menungggu kesiapan sang Penyu. Bisa dengan diberi wawasan dan pengetahuan  baik berupa cerita atau pemutaran video seputar Penyu, sehingga pengunjung yang datang melihat  tidak saling berebut foto dan bertanya-tanya kepada petugas, bahkan jika perlu diberlakukan quota atau jumlah pengunjung yang melihat aktifitas Penyu,  agar kenyamanan dan keamanan, baik untuk pengunjung dan Penyu itu sendiri  tetap terjaga.

Namun secara umum dengan diambil alih oleh pemerintah dalam hal pengelolaannya,  Penyu-Penyu yang bertelur di sini semakin terjaga baik jumlahnya. “ Penduduk di sini semakin banyak yang sadar akan kelestarian Penyu dan ikut menjaga.., “ cerita Pak Cecep. Tentunya jika dimaksimalkan fasilitas dan rangkaian paket perjalanan pengunjung  dikemas lebih baik lagi, bukan tak mungkin nantinya Pangumbahan tidak hanya menjadi destinasi wisata wisawatan Nusantara tetapi juga Mancanegara.

Berkunjung ke Pusat Peneluran Penyu PANGUMBAHAN

sumber: http://tourismindonesiaonline.com/berkunjung-ke-pusat-peneluran-penyu-pangumbahan/

December 9th, 2010 | 6:58 pm | author : TIO



Pantai Pangumbahan di kawasan Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, sudah lama menjadi tempat peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Secara alami hewan-hewan langka ini memilih tempat ini karena pasirnya yang lembut dan bersih dari karang-karang. Walaupun begitu tempat ini penuh dengan ancaman berbagai predator, baik biawak, burung, bahkan manusia.

Pangumbahan sendiri diambil dari kata Kumbah, artinya memandikan. Jaman dulu telur-telur yang menetas diambil dan dimandikan terlebih dahulu sebelum diternakkan atau dikonsumsi. Maka dari itu kawasan sekitar pantai ini disebut kawan pesisir Pangumbahan.

Di pusat peneluran Penyu Pangumbahan ini, setiap malam, banyak tamu datang berkunjung. Dalam sebulan, sebanyak 1000-1500 orang datang untuk melihat mahluk unik ini. Dengan luas 2.500m2 kawasan ini terdiri dari 6 pos yang berjarak setiap 400 meter dan dikelilingi tembok setinggi 3 meter sepanjang 3 kilometer untuk menutup area peneloran ke arah darat.

Berdasarkan keterangan Pak Cecep Penyu, begitu panggilan akrab pemandu berumur 55 tahun ini, baru 12 karyawan dan 3 pengawas yang resmi pegawai DKP. Sisanya pemandu sebagai pekerja lepas mendapat pemasukan dari para pengunjung yang datang.

Untuk pengunjung, pos 1 dan 2 saja yang diijinkan untuk dikunjungi. Dengan membayar Rp 5.000 pengunjung dapat melihat 2 atraksi yaitu pelepasan Penyu dan melihat Penyu bertelur.   Setiap sore pukul 17.30, tukik-tukik yang baru menetas dilepas oleh petugas  bersama para pengunjung. Malamnya pukul 21.00 pengunjung yang datang beramai-ramai melihat proses peneluran Punyu secara alami, juga bersama dengan para petugas. Awalnya pengunjung berkumpul terlebih dahulu di ruangan yang telah disediakan sebelum dipersilahkan oleh para petugas untuk melihat proses peneluran.  Kemudian setelah Penyu telah mulai bertelur, para pengunjung berangkat dipandu petugas.

Di tengah kegelapan pantai, puluhan orang menyusuri pantai sambil menyalakan senter menuju tempat sang Penyu bertelur. Beberapa larangan seperti tidak boleh mengarahkan sinar senter ke arah pantai dan mengarahkan sinar senter ke sisi depan atau kepala Penyu berkali-kali diingatkan petugas.  Tampak seekor Penyu di sebuah cekungan pasir sedang menelurkan telur-telurnya ke arah lobang yang sudah ia buat. Selama 15-20 menit, 100 telor dihasilkan. Selanjutnya telur-telur tersebut diambil oleh petugas untuk di tempat di lubang-lubang penetasan yang lebih aman. Dengan rata-rata kedalaman lubang 70cm, selama 40-60 hari telor tersebut akan  menetaskan dan dilepas ke laut. Lamanya pengeraman oleh kehangatan pasir tergantung oleh cuaca. Jika cuaca cerah akan semakin cepat penetasannya, jika banyak mendung atau hujan akan lebih lama.

Antusias para pengunjung tampaknya agak kurang diimbangi dengan kesadaran pengunjung sendiri untuk menaati peraturan yang disampaikan para petugas. Kadang banyak pengunjung mengarahkan sinar senternya ke sisi kepala Penyu. Apalagi para pengunjung ingin berfoto dengan hewan langka ini. Hasilnya situasi riuh mewarnai proses peneluran yang seharusnya tenang.

Mungkin dengan fasilitas yang ada seperti Aula, kantor, penginapan dan rumah karyawan, pelayanan untuk pengunjung bisa dimaksimalkan. Pengunjung dapat diberikan briefing sejenak sambil menungggu kesiapan sang Penyu. Bisa dengan diberi wawasan dan pengetahuan  baik berupa cerita atau pemutaran video seputar Penyu, sehingga pengunjung yang datang melihat  tidak saling berebut foto dan bertanya-tanya kepada petugas, bahkan jika perlu diberlakukan quota atau jumlah pengunjung yang melihat aktifitas Penyu,  agar kenyamanan dan keamanan, baik untuk pengunjung dan Penyu itu sendiri  tetap terjaga.

Namun secara umum dengan diambil alih oleh pemerintah dalam hal pengelolaannya,  Penyu-Penyu yang bertelur di sini semakin terjaga baik jumlahnya. “ Penduduk di sini semakin banyak yang sadar akan kelestarian Penyu dan ikut menjaga.., “ cerita Pak Cecep. Tentunya jika dimaksimalkan fasilitas dan rangkaian paket perjalanan pengunjung  dikemas lebih baik lagi, bukan tak mungkin nantinya Pangumbahan tidak hanya menjadi destinasi wisata wisawatan Nusantara tetapi juga Mancanegara.

Selasa, 29 Desember 2009

SI TUKIK...Siap Mengarungi Ganasnya Samudera




...tukik-tukik - selamat berjuang...
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya
bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa
Jangan Menyerah... (taken from "jangan menyerah" d'masiv)

SI TUKIK...Siap Mengarungi Ganasnya Samudera




...tukik-tukik - selamat berjuang...
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya
bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa
Jangan Menyerah... (taken from "jangan menyerah" d'masiv)

Rabu, 23 Desember 2009

inisiasi TURTLE CENTER di Taman Pesisir Pantai Penyu PANGUMBAHAN resmi DILUNCURKAN

Penandatanganan Prasasti bergambar penyu oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP), Bapak M. Syamsul Maarif menandai diresmikannya Turtle Center Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park) pada tanggal 22 Desember 2009. Acara Peluncuran ini dihadiri oleh tidak kurang dari 300 peserta yang berasal dari masyarakat sekitar pantai pangumbahan, acara juga dihadiri oleh para pejabat Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kemeterian Kelautan dan Perikanan, beberapa pejabat dari Kemeterian dan Dinas sektor terkait, LSM, serta Wartawan Media Cetak dan Elektronik. Pada kesempatan tersebut, juga diserahkan Buku Tabungan PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan serta kartu tanda anggota Nelayan.

Perhelatan yang digelar di area Pangumbahan Turtle Park tersebut, sebelumnya (21 des'09 malam) didahului dengan acara "turtle watching", yakni melihat prosesi Penyu Bertelor. ehm, ternyata sangat luar biasa. Penyu hijau, yang saat itu mendarat ke pantai pukul 00.00 (22 des) menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk membuat lubang... kemudian meletakkan telornya (+150butir)...menutup lubang...dan kembali ke laut..., (bagi penulis, ini merupakan pengalaman pertama melihat prosesi tersebut secara langsung). Sebelum ke laut, penyu hijau yang telah menyarangkan telornya tersebut diberi TANDA... penandaan (TAGGING) penyu dilakukan oleh Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut (KTNL) (Bapak Agus Dermawan)bersama ahli dari WWF (Bapak M. Halim) disaksikan oleh Direktur Marine Program WWF (Bapak Wawan Ridwan) beserta Wartawan media cetak dan elektronik dan belasan peserta (termasuk penulis). melaui penandaan ini, penyu tersebut akan termonitor pada suatu saat nanti si penyu tersebut kembali ke pantai yang sama untuk mendaratkan kembali terlur-telurnya.


Suasana pagi yang cerah di area Pangumbahan Turtle Park. Deburan ombak bergantian menghempas ke pantai menyambut ratusan tukik yang pagi itu dilepaskan oleh Sekretaris Jenderal DKP, Bupati Sukabumi, Direktur KTNL, Kadis KP Sukabumi dan pejabat-pejabat lainnya beserta peserta yang hadir, ada sekitar 300 tukik yang barusaja menetas dan dilepaskan pada pagi itu...
Kehadiran Sekjen DKP beserta Jajaran Pemda pada acara Launching Turtle Center pagi itu disambut oleh Dengung - Lengser khas Sukabumi. setelah prosesi penyambutan selesai, MC segera cuap-cuap mendandai acara sudah dimulai.


Pada Laporannya, Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut selain menyampaikan rangkaian acara dan jumlah peserta yang hadir, beliau juga menyampaikan pentingnya konservasi penyu di Pantai pangumbahan. Sejak belasan tahun lalu, Pantai Pangumbahan dikenal sebagai lokasi bertelurnya penyu secara alami. Kini Pantai Pangumbahan statusnya telah dicadangkan sebagai Taman Pesisir sesuai dengan SK Bupati no: 523/Kep.639-Dislutkan/2008. Jenis penyu yang banyak terdapat di Pantai Pangumbahan adalah jenis Penyu hijau atau Chelonia mydas dan beberapa laporan menunjukkan adanya peneluran penyu sisik di wilayah tersebut. Ungkap beliau pada laporannya.

Selanjutnya, Bupati Sukabumi (H. Sukmawijaya) dalam sambutannya menekankan pada Langkah-langkah yang telah dan sedang dilakukan dalam pelestarian penyu tidak akan berjalan sesuai harapan apabila tidak mendapat dukungan dan peran serta masyarakat, para pecinta lingkungan, perguruan tinggi, dunia usaha pemerintah provinsi dan pemerintah pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan. "Kami menyadari bahwa upaya yang telah dilakukan belum optimal, namun pemerintah pusat (DKP) telah memberikan apresiasi kepada kami berupa “Piagam penghargaan atas komitmen dan dedikasi yang tinggi terhadap pengembangan kawasan konservasi perairan daerah dari Bapak Menteri Kelautan dan Perikanan pada side event World Ocean Conference (WOC) dan CTI Summit di Manado tanggal 13 Mei 2009, begitu pula pada rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup tingkat Provinsi Jawa Barat pada Bulan November 2009 kami pun dianugerahi penghargaan dari Bapak Gubernur Jawa Barat atas upaya kami dalam pengelolaan kawasan konservasi penyu". lanjut Beliau. Apresiasi tersebut menambah semangat untuk mewujudkan kelestarian penyu dan habitatnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku terlebih lagi bahwa masyarakat Kabupaten Sukabumi menjadikan penyu sebagai lambang pemerintah daerahnya.
Ditinjau dari sisi kewenangan pemerintah daerah yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerntah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota serta peraturan perundangan lainnya, kami bercita-cita mengembangkan kawasan ujunggenteng

pangumbahan menjadi obyek wisata andalan dengan penyu hijau sebagai daya tarik utamanya. Harapan kami ke depan upaya pelestarian penyu tersebut dapat bermanfaat dan berkontribusi terhadap pembangunan Kabupaten Sukabumi, terutama masyarakat sekitarnya memperoleh manfaat ekonomi tak langsung dari upaya pelestarian penyu tersebut. Di akhir sambutannya, beliau berharap, Mudah-mudahan cita-cita kami mendapat restu dan dukungan dari semua pihak terutama dari Departemen Kelautan dan Perikanan yang menjadikan kawasan Pangumbahan sebagai “Turtle Centre Taman Pesisir Pantai Pengumbahan”.



Gubernur Jawa Barat, pada sambutannya yang sampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan mendukung upaya konservasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi, melalui pencadangan Kawasan Konservasi laut daerah serta pengembangan pariwisata berbasis konservasi penyu. Lebih lanjut, disampaikan bahwa di Provinsi Jawa Barat terdapat 3 (tiga) lokasi Kawasan Konservasi Perairan (laut) daerah, yaitu di Pulau Biawak-Indramayu, Ciamis, dan Sukabumi. Upaya konservasi penyu serupa yang dilakukan di Sukabumi juga akan dilakukan di Kawasan konservasi Perairan Kabupaten Ciamis, yang juga mempunyai potensi penyu.



Sekjen DKP yang juga sebagai Plt. Dirjen KP3K, mewakili menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan sambutan sebelum secara resmi menandatangani prasasti sebagai simbol dimulainya pengembangan Turtle Center di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park). Beliau menyampaikan permintaan maaf ketidakhadiran Bapak Menteri karena masih dalam perjalanan mengikuti COP 15 di Copenhagen. Dalam sambutannya, Pertama-tama, menyampaikan ucapan terima kasih, dukungan dan penghargaan yang tinggi kepada Bupati Sukabumi beserta jajarannya yang telah membantu mengawali proses inisiasi pencadangan Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir Pangumbahan dengan telah ditetapkannya Surat Keputusan Bupati Sukabumi Nomor 523/Kep.639-Dislutkan/2008 tanggal 31 Desember 2008 dengan kategori Taman Pesisir. Beliau sangat menghargai dan mendukung komitmen Pemerintah Daerah Sukabumi untuk mengelola pantai Pangumbahan ini sebagai Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park), sehingga terselenggaranya acara ‘Peluncuran Turtle Center’ tersebut.



Lebih lanjut, Kutipan sambutan beliau sebagai berikut: Dengan disahkannya Undang-Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan beserta perubahannnya yang tertuang dalam Undang-Undang No. 45 tahun 2009, Undang-undang 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Peraturan Menteri Nomor 02 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan konservasi Perairan, Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai departemen teknis memiliki visi dan misi serta kewenangan di bidang kelautan dan perikanan termasuk didalamnya pengelolaan konservasi sumberdaya ikan dan lingkungannya, maka pengelolaan kawasan konservasi perairan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan perikanan berkelanjutan.
Keanekaragaman hayati laut Indonesia sudah terkenal di dunia sehingga dikenal sebagai mega-biodiversity country, terletak di pusat segi tiga terumbu karang (coral triangle). Oleh karenanya Presiden RI Bapak SBY telah mendeklarasikan Coral Triangle Initiative (CTI) pada konferensi Asean Pacific Economic Conference (APEC) tahun 2007 di Australia.

Deklarasi CTI tersebut menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia.

Sebagai inisiator CTI, Pemerintah Republik Indonesia mengajak negara-negara tetangga yang memiliki kekayaan sumberdaya laut seperti Malaysia, Philipine, Papua New Guinea, Timor Leste, Solomon Islands untuk bahu membahu mengembangkan pemanfaatan laut secara berkelanjutan, sehingga sepatutnyalah kita semua mencurahkan perhatian dan energi untuk pengelolaan pesisir dan laut yang lestari dan bijaksana bagi kesejahteraan masyarakat kita.

Visi Departemen Kelautan dan Perikanan sebagai Penghasil Produk Perikanan dan Kelautan terbesar pada 2015 dengan misi ‘Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan’ perlu kita dukung dengan fokus pada pencapaian tujuannya, salah satunya adalah ‘Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan’,
Pencadangan Kawasan konservasi laut daerah Sukabumi merupakan bagian komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program 10 juta Ha kawasan konservasi laut tahun 2010 yang telah disampaikan pada sambutan tertulis Presiden RI di kesempatan konferensi internasional Convention on Biological Biodiversity di Brazil pada

bulan Maret 2006.

Kawasan konservasi laut daerah ini merupakan bentuk pengelolaan kawasan laut dengan sistem zonasi sehingga sangat terbuka untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan baik untuk penelitian berbagai aspek, pendidikan generasi muda, aktifitas perikanan, pariwisata bahari dan kegiatan lainnya yang mendukung pengembangan ekonomi lokal berbasis konservasi.



Dengan dideklarasikannya Turtle Center di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan ini, komitmen pengelolaan sumberdaya laut secara berkelanjutan telah terlaksana untuk ditindaklanjuti oleh berbagai sektor terkait sehingga hasilnya diharapkan dapat lebih nyata, khususnya bagi masyarakat pesisir Sukabumi.
Adanya turtle center di kawasan pesisir pantai penyu pangumbahan ini diharapkan dapat menjadi simbol atau icon Kabupaten Sukabumi menjadi lebih dikenal dunia Internasional. Saya himbau agar pemanfaatan turtle center untuk berbagai kegiatan seperti Pusat Penelitian, pelatihan, pendidikan lingkungan, bisnis, pariwisata, pemberdayaan

ekonomi masyarakat, maupun pemanfaatan jasa lingkungan dapat dioptimalkan dengan tidak melupakan fungsi konservasi penyu yang sesungguhnya.

Pengelolaan kawasan konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan ini, saya harapkan dapat bersinergi dengan program-program lainnya, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri KP) maupun program lainnya sehingga benar-benar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.



Pada akhirnya saya mengajak seluruh jajaran Pemerintah kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal maupun internasional, para tokoh masyarakat serta para usahawan untuk bekerjasama menyusun perencanaan pengelolaan Taman Pesisir ini secara terpadu, untuk kemudian dikelola secara lestari dan bertanggungjawab.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, maka Turtle Center Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park)

dengan ini saya resmikan.



Demikianlah... resmi sudah TURTLE CENTER diresmikan oleh Bapak Sekjen DKP... sebelum acara berakhir, secara seksama Bupati Sukabumi menjelaskan Maket rencana Pengembangan Turtle Center di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan (Pangumbahan Turtle Park)... hmm.. akhirnya, penulis berharap semoga turtle center yang dicanangkan, pada akhirnya nanti dapat mencapai tujuannya dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. amiin