meniti langkah.... dulu, kini dan nanti... hidup adalah perjuangan... hidup adalah petualangan berliku yang teramat indah untuk dinikmati...
Kamis, 23 Juni 2011
Jumat, 29 April 2011
MengenaL potensi kawasan konservasi perairan nasional - PROFIL KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
MengenaL potensi kawasan konservasi perairan nasional - PROFIL KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
Rabu, 22 September 2010
Kumpulan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pencadangan dan/atau Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Kumpulan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pencadangan dan/atau Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Rabu, 15 September 2010
Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I
Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I
Rabu, 03 Februari 2010
MERENCANAKAN DARI DESA
merencanakan dari desa - PEMBELAJARAN DARI PROGRAM PLBPM, selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR
MERENCANAKAN DARI DESA
merencanakan dari desa - PEMBELAJARAN DARI PROGRAM PLBPM, selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR
PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU
BUKU PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU, SELENGKAPNYA SEBAGAIMANA TERLAMPIR
PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU
BUKU PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU, SELENGKAPNYA SEBAGAIMANA TERLAMPIR
Rabu, 25 November 2009
BAJO Berumah di Laut Nusantara
Judul Buku: BAJO Berumah di Laut Nusantara
Pengarang: Sudirman Saad
Kutipan dari Pengantar Penerbit - BAJO, berumah di laut Nusantara - COREMAP II, 2009.
Penerbitan buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” tak dapat dilepaskan dari upaya mengidentifikasi berbagai aspek sosialbudaya, ekonomi dan aspirasi masyarakat pesisir dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. Dalam hal ini, tak dapat dipungkiri, Suku Bajo sebagai komunitas yang tidak bisa dipisahkan dengan laut, memiliki tradisi unik dan amat kaya dalam hubungannya dengan laut. Tentu kekayaan budaya ini berbedabeda di berbagai tempat di mana komunitas Bajo berada, sesuai dengan pengaruh faktor teritorial dan geneologis mereka. Tapi ada satu kesamaan, yaitu sukubangsa ini memiliki kearifan lingkungan sebagai hasil dari suatu proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara terus-menerus. Dari proses yang berlangsung puluhan tahun, bahkan ratusan tahun itu, akhirnya membentuk semacam mekanisme pemecahan masalah.
Buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” yang ditulis Sudirman Saad dan kawan-kawan mencoba mengangkat masalah sosial-budaya dan sosialekonomi laut Suku Bajo, terutama dengan kehadirannya Taman Nasional Laut Wakatobi, sebagai referensi bagi para pengambil kebijakan pembangunan masyarakat pesisir. Dalam konteks Taman Nasional, apa yang terkandung dalam buku ini diharapkan dapat memperkuat pendapat bahwa suatu prakarsa konservasi melalui kehadiran sebuah taman nasional dapat dikatakan berhasil bila masyarakat setempat dilibatkan langsung. Kalau tidak, perlawanan akan terus menguat dan akan menghambat keberhasilan pengelolaan kawasan. Apalagi, kemunculan gerakan konservasi di Wakatobi lebih berdasarkan agenda ilmiah, yang untuk sebagian besar masyarakat setempat, khususnya Suku Bajo salah satu pemangku kepentingan laut Wakatobi, pikiran-pikiran ilmiah tidak dipahami mereka. Bahkan pikiran-pikiran yang dimunculkan dalam rangka konservasi tersebut sangat berbeda dengan alam pemikiran tradisional mereka tentang laut. Kondisi ini dapat menimbulkan konflik dalam diri setiap orang Bajo. Dengan demikian pendidikan menjadi sangat penting untuk menyertai pelaksanaan konservasi. Padahal inilah satu persoalan besar di lingkungan masyarakat Bajo di Wakatobi dewasa ini.
Semoga buku ini dapat memperkaya khasanah kepustakaan yang ada tentang masyarakat Bajo. Selamat membaca.
BUKU - BAJO Berumah di Laut Nusantara, selengkapnya dapat diperoleh di Sekretariat COREMAP II - Jl. Tebet Timur Dalam II No. 45 Jakarta Selatan, pdf buku dapat diunduh pada Lampiran berikut ini.
BAJO Berumah di Laut Nusantara
Judul Buku: BAJO Berumah di Laut Nusantara
Pengarang: Sudirman Saad
Kutipan dari Pengantar Penerbit - BAJO, berumah di laut Nusantara - COREMAP II, 2009.
Penerbitan buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” tak dapat dilepaskan dari upaya mengidentifikasi berbagai aspek sosialbudaya, ekonomi dan aspirasi masyarakat pesisir dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. Dalam hal ini, tak dapat dipungkiri, Suku Bajo sebagai komunitas yang tidak bisa dipisahkan dengan laut, memiliki tradisi unik dan amat kaya dalam hubungannya dengan laut. Tentu kekayaan budaya ini berbedabeda di berbagai tempat di mana komunitas Bajo berada, sesuai dengan pengaruh faktor teritorial dan geneologis mereka. Tapi ada satu kesamaan, yaitu sukubangsa ini memiliki kearifan lingkungan sebagai hasil dari suatu proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara terus-menerus. Dari proses yang berlangsung puluhan tahun, bahkan ratusan tahun itu, akhirnya membentuk semacam mekanisme pemecahan masalah.
Buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” yang ditulis Sudirman Saad dan kawan-kawan mencoba mengangkat masalah sosial-budaya dan sosialekonomi laut Suku Bajo, terutama dengan kehadirannya Taman Nasional Laut Wakatobi, sebagai referensi bagi para pengambil kebijakan pembangunan masyarakat pesisir. Dalam konteks Taman Nasional, apa yang terkandung dalam buku ini diharapkan dapat memperkuat pendapat bahwa suatu prakarsa konservasi melalui kehadiran sebuah taman nasional dapat dikatakan berhasil bila masyarakat setempat dilibatkan langsung. Kalau tidak, perlawanan akan terus menguat dan akan menghambat keberhasilan pengelolaan kawasan. Apalagi, kemunculan gerakan konservasi di Wakatobi lebih berdasarkan agenda ilmiah, yang untuk sebagian besar masyarakat setempat, khususnya Suku Bajo salah satu pemangku kepentingan laut Wakatobi, pikiran-pikiran ilmiah tidak dipahami mereka. Bahkan pikiran-pikiran yang dimunculkan dalam rangka konservasi tersebut sangat berbeda dengan alam pemikiran tradisional mereka tentang laut. Kondisi ini dapat menimbulkan konflik dalam diri setiap orang Bajo. Dengan demikian pendidikan menjadi sangat penting untuk menyertai pelaksanaan konservasi. Padahal inilah satu persoalan besar di lingkungan masyarakat Bajo di Wakatobi dewasa ini.
Semoga buku ini dapat memperkaya khasanah kepustakaan yang ada tentang masyarakat Bajo. Selamat membaca.
BUKU - BAJO Berumah di Laut Nusantara, selengkapnya dapat diperoleh di Sekretariat COREMAP II - Jl. Tebet Timur Dalam II No. 45 Jakarta Selatan, pdf buku dapat diunduh pada Lampiran berikut ini.
Kamis, 23 April 2009
KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN DI INDONESIA (buku)
KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN DI INDONESIA (buku)
Jumat, 30 Januari 2009
Konsep dan Panduan Restorasi Terumbu
|
sumber: www.terangi.or.id , (c) yayasan terangi http://www.terangi.or.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=39 Restorasi adalah tindakan untuk membawa ekosistem yang telah terdegradasi kembali menjadi semirip mungkin dengan kondisi aslinya sedangkan tujuan utama restorasi terumbu karang adalah untuk peningkatan kualitas terumbu yang terdegradasi dalam hal struktur dan fungsi ekosistem. Dalam bahasan disini mencakup restorasi fisik dan restorasi biologi. Yang membedakan restorasi fisik, yang mengutamakan perbaikan terumbu dengan fokus pendekatan teknik, dan restorasi biologis yang terfokus untuk mengembalikan biota berikut proses ekologis ke keadaan semula. g merusak seperti kandasnya perahu, penambangan karang, dan pengeboman ikan dapat menyebabkan kerusakan fisik yang besar pada kerusakan struktur terumbu atau menyebabkan terbentuknya kawasan dengan pecahan karang yang tidak stabil serta dasaran berpasir yang luas dimana kondisi ini tidak akan pulih setelah bertahun-tahun kecuali dilakukan restorasi fisik.
Klik disini untuk mengunduh (PDF 6,24 MB) apabila tidak dapat diunduh, silahkan KLIK DISINI |
Konsep dan Panduan Restorasi Terumbu
|
sumber: www.terangi.or.id , (c) yayasan terangi http://www.terangi.or.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=39 Restorasi adalah tindakan untuk membawa ekosistem yang telah terdegradasi kembali menjadi semirip mungkin dengan kondisi aslinya sedangkan tujuan utama restorasi terumbu karang adalah untuk peningkatan kualitas terumbu yang terdegradasi dalam hal struktur dan fungsi ekosistem. Dalam bahasan disini mencakup restorasi fisik dan restorasi biologi. Yang membedakan restorasi fisik, yang mengutamakan perbaikan terumbu dengan fokus pendekatan teknik, dan restorasi biologis yang terfokus untuk mengembalikan biota berikut proses ekologis ke keadaan semula. g merusak seperti kandasnya perahu, penambangan karang, dan pengeboman ikan dapat menyebabkan kerusakan fisik yang besar pada kerusakan struktur terumbu atau menyebabkan terbentuknya kawasan dengan pecahan karang yang tidak stabil serta dasaran berpasir yang luas dimana kondisi ini tidak akan pulih setelah bertahun-tahun kecuali dilakukan restorasi fisik.
Klik disini untuk mengunduh (PDF 6,24 MB) apabila tidak dapat diunduh, silahkan KLIK DISINI |
Rabu, 31 Desember 2008
himpunan peraturan perundangan - DKP -
sumber: www. dkp.go.id
http://www.dkp.go.id/upload/jica/book_file/03_HimpunanPeraturan.pdf
silahkan download buku terlampir
himpunan peraturan perundangan - DKP -
sumber: www. dkp.go.id
http://www.dkp.go.id/upload/jica/book_file/03_HimpunanPeraturan.pdf
silahkan download buku terlampir