Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

MengenaL potensi kawasan konservasi perairan nasional - PROFIL KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL

Pengertian konservasi, khususnya konservasi sumberdaya ikan telah dipahami sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan. Nyata bahwa konservasi bukan hanya upaya perlindungan semata, namun juga secara seimbang melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumberdaya ikan yang pada akhirnya berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
Konservasi sumberdaya ikan tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan perikanan secara keseluruhan. Konservasi sumberdaya ikan mencakup konservasi ekosistem, jenis dan genetik ikan. Penetapan Kawasan konservasi perairan merupakan salah satu upaya konservasi ekosistem yang dapat dilakukan terhadap semua tipe ekosistem, yaitu terhadap satu atau beberapa tipe ekosistem penting untuk dikonservasi berdasarkan kriteria ekologi, sosial budaya dan ekonomi. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, mengemban tugas untuk melakukan konservasi sumberdaya ikan yang berkelanjutan di Indonesia. Tugas ini tidaklah mudah mengingat kekayaan bahari nusantara yang berlimpah dan meliputi wilayah yang sangat luas dari Sabang hingga Merauke. Keberhasilan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan tidak bisa hanya dilihat dari kemampuan melindungi sumberdaya alam hayati yang ada di dalamnya. Lebih dari itu, kawasan konservasi perairan pun harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di
sekitarnya.
Hingga tahun 2010, tercatat seluas 13,9 juta hektar kawasan konservasi perairan laut di Indonesia, melebihi target yang ditetapkan pemerintah yakni 10 juta Hektar kawasan konservasi perairan pada tahun 2010. Jumlah luasan tersebut termasuk 8 (delapan) Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Perlindungan Alam yang diserahterimakan pengelolaannya dari Kementerian Kehutanan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan. .
Penyusunan buku profil kawasan konservasi perairan nasional ini juga merupakan bagian dari upaya pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia oleh pemerintah. Buku ini berisi data fisik kawasan, kondisi geografis, sosial ekonomi dan informasi lainnya. Buku ini menyajikan profil kawasan konservasi perairan nasional, antara lain: Laut Sawu; Kepulauan Aru bagian tenggara; Kepulauan Raja Ampat; Kepulaun Waigeo sebelah Barat; Kepulauan Kapoposang; Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan; Kepulauan Padaido; Laut Banda; Pulau Pieh; serta calon kawasan konservasi perairan Kepulauan Anambas. Pencetakan buku ini diharapkan dapat memberikan informasi potensi sekaligus pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya kawasan konservasi perairan di Indonesia.
Semoga di masa mendatang, upaya-upaya seperti ini terus dilakukan untuk kepentingan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan

MengenaL potensi kawasan konservasi perairan nasional
PROFIL KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL, selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR
Attachment: Profil KKPN.pdf

MengenaL potensi kawasan konservasi perairan nasional - PROFIL KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL

Pengertian konservasi, khususnya konservasi sumberdaya ikan telah dipahami sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan. Nyata bahwa konservasi bukan hanya upaya perlindungan semata, namun juga secara seimbang melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumberdaya ikan yang pada akhirnya berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
Konservasi sumberdaya ikan tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan perikanan secara keseluruhan. Konservasi sumberdaya ikan mencakup konservasi ekosistem, jenis dan genetik ikan. Penetapan Kawasan konservasi perairan merupakan salah satu upaya konservasi ekosistem yang dapat dilakukan terhadap semua tipe ekosistem, yaitu terhadap satu atau beberapa tipe ekosistem penting untuk dikonservasi berdasarkan kriteria ekologi, sosial budaya dan ekonomi. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, mengemban tugas untuk melakukan konservasi sumberdaya ikan yang berkelanjutan di Indonesia. Tugas ini tidaklah mudah mengingat kekayaan bahari nusantara yang berlimpah dan meliputi wilayah yang sangat luas dari Sabang hingga Merauke. Keberhasilan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan tidak bisa hanya dilihat dari kemampuan melindungi sumberdaya alam hayati yang ada di dalamnya. Lebih dari itu, kawasan konservasi perairan pun harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di
sekitarnya.
Hingga tahun 2010, tercatat seluas 13,9 juta hektar kawasan konservasi perairan laut di Indonesia, melebihi target yang ditetapkan pemerintah yakni 10 juta Hektar kawasan konservasi perairan pada tahun 2010. Jumlah luasan tersebut termasuk 8 (delapan) Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Perlindungan Alam yang diserahterimakan pengelolaannya dari Kementerian Kehutanan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan. .
Penyusunan buku profil kawasan konservasi perairan nasional ini juga merupakan bagian dari upaya pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia oleh pemerintah. Buku ini berisi data fisik kawasan, kondisi geografis, sosial ekonomi dan informasi lainnya. Buku ini menyajikan profil kawasan konservasi perairan nasional, antara lain: Laut Sawu; Kepulauan Aru bagian tenggara; Kepulauan Raja Ampat; Kepulaun Waigeo sebelah Barat; Kepulauan Kapoposang; Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan; Kepulauan Padaido; Laut Banda; Pulau Pieh; serta calon kawasan konservasi perairan Kepulauan Anambas. Pencetakan buku ini diharapkan dapat memberikan informasi potensi sekaligus pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya kawasan konservasi perairan di Indonesia.
Semoga di masa mendatang, upaya-upaya seperti ini terus dilakukan untuk kepentingan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan

MengenaL potensi kawasan konservasi perairan nasional
PROFIL KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL, selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR
Attachment: Profil KKPN.pdf

Rabu, 22 September 2010

Kumpulan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pencadangan dan/atau Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional

1. KEP. 38/MEN/2009 TENTA NG PENCADANGAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL LAUT SA WU DAN
SEKITAR NYA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR ........................ 2

2. KEP.63/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN AR U BAGIAN
TENGGARA DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI MALUKU........ 13

3. KEP.64/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN RA JA AMPAT
DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI PAPUA BARAT ................ 21

4. KEP.65/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN WAIGEO SEBELAH
BARAT DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI PAPUA BARAT ...... 29

5. KEP.66/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN KAPOPOSA NG
DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI SULAWESI SELATA N ....... 37

6. KEP.67/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N KONSERVAS I
PERA IRA N NAS IONAL PULAU GILI AYER, GILI MENO, DAN GILI
TRA WANGAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT ..................... 45

7. KEP.68/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN PADAIDO
DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI PAPUA ........................... 53

8. KEP.69/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N KONSERVAS I
PERA IRA N NAS IONAL LAUT BANDA DI PROVINSI MALUKU ............ 61

9. KEP.70/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL PULAU PIEH DAN LAUT
DI SEKITAR NYA DI PROVINSI SUMAT ERA BARAT .......................... 69

Kumpulan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pencadangan dan/atau Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional

1. KEP. 38/MEN/2009 TENTA NG PENCADANGAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL LAUT SA WU DAN
SEKITAR NYA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR ........................ 2

2. KEP.63/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN AR U BAGIAN
TENGGARA DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI MALUKU........ 13

3. KEP.64/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN RA JA AMPAT
DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI PAPUA BARAT ................ 21

4. KEP.65/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN WAIGEO SEBELAH
BARAT DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI PAPUA BARAT ...... 29

5. KEP.66/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN KAPOPOSA NG
DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI SULAWESI SELATA N ....... 37

6. KEP.67/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N KONSERVAS I
PERA IRA N NAS IONAL PULAU GILI AYER, GILI MENO, DAN GILI
TRA WANGAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT ..................... 45

7. KEP.68/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL KEPULAUAN PADAIDO
DAN LAUT DI SEKITAR NYA DI PROVINSI PAPUA ........................... 53

8. KEP.69/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N KONSERVAS I
PERA IRA N NAS IONAL LAUT BANDA DI PROVINSI MALUKU ............ 61

9. KEP.70/MEN/2009 TENTA NG PENETA PAN KAWASA N
KONSERVAS I PERA IRA N NAS IONAL PULAU PIEH DAN LAUT
DI SEKITAR NYA DI PROVINSI SUMAT ERA BARAT .......................... 69

Rabu, 15 September 2010

Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I

Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I

Pengertian konservasi, khususnya konservasi sumberdaya ikan telah dipahami
sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan,
termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan,
dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai
dan keanekaragaman sumber daya ikan. Nyata bahwa konservasi bukan hanya upaya
perlindungan semata, namun juga secara seimbang melestarikan dan memanfaatkan
secara berkelanjutan sumberdaya ikan yang pada akhirnya berdampak bagi kesejahteraan
masyarakat.
Konservasi sumberdaya ikan mencakup konservasi ekosistem, jenis dan genetik ikan.
Penetapan Kawasan konservasi perairan merupakan salah satu upaya konservasi ekosistem
yang dapat dilakukan terhadap semua tipe ekosistem, yaitu terhadap satu atau beberapa
tipe ekosistem penting untuk dikonservasi berdasarkan kriteria ekologi, sosial budaya
dan ekonomi. Saat ini, tercatat seluas 13,5 juta hektar kawasan konservasi perairan laut di
Indonesia, termasuk Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah (KKLD) yang tersebar di 35
Kabupaten/Kota di Ind onesia, di antaranya 8 (delapan) KKLD/Marine Managemant Area
(MMA) di wilayah Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP II)
yang kami sajikan dalam buku ini.
Buku ini merupakan salah satu rangkaian seri Kebijakan dan Pengembangan Kawasan
Konservasi Perairan yang berisi ulasan singkat potensi kawasan konservasi perairan laut
daerah. Pada Volume-I ini menyajikan profil Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah
Natuna, Batam, Bintan, Lingga, Kepulauan Mentawai, Tapanuli Tengah, Nias dan Nias
Selatan. Kiranya deskripsi singkat yang disajikan dalam buku ini dapat dikenali dan diambil
manfaatnya serta dijadikan sebagai dasar dalam mengelola secara berkelanjutan kawasan
konservasi perairan di daerah.
Akhirnya, kami mengucapkan Puji Syukur kepada Allah SWT atas terselesaikannya
buku “Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (laut) Daerah (VOLUME – I)”. Ucapan
terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada semua
pihak yang telah membantu pengumpulan materi, penulisan dan penyelesaian penyusunan
buku ini. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 2009
Tim Penyusun

Buku "Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I" selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR 

Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I

Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I

Pengertian konservasi, khususnya konservasi sumberdaya ikan telah dipahami
sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan,
termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan,
dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai
dan keanekaragaman sumber daya ikan. Nyata bahwa konservasi bukan hanya upaya
perlindungan semata, namun juga secara seimbang melestarikan dan memanfaatkan
secara berkelanjutan sumberdaya ikan yang pada akhirnya berdampak bagi kesejahteraan
masyarakat.
Konservasi sumberdaya ikan mencakup konservasi ekosistem, jenis dan genetik ikan.
Penetapan Kawasan konservasi perairan merupakan salah satu upaya konservasi ekosistem
yang dapat dilakukan terhadap semua tipe ekosistem, yaitu terhadap satu atau beberapa
tipe ekosistem penting untuk dikonservasi berdasarkan kriteria ekologi, sosial budaya
dan ekonomi. Saat ini, tercatat seluas 13,5 juta hektar kawasan konservasi perairan laut di
Indonesia, termasuk Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah (KKLD) yang tersebar di 35
Kabupaten/Kota di Ind onesia, di antaranya 8 (delapan) KKLD/Marine Managemant Area
(MMA) di wilayah Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP II)
yang kami sajikan dalam buku ini.
Buku ini merupakan salah satu rangkaian seri Kebijakan dan Pengembangan Kawasan
Konservasi Perairan yang berisi ulasan singkat potensi kawasan konservasi perairan laut
daerah. Pada Volume-I ini menyajikan profil Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah
Natuna, Batam, Bintan, Lingga, Kepulauan Mentawai, Tapanuli Tengah, Nias dan Nias
Selatan. Kiranya deskripsi singkat yang disajikan dalam buku ini dapat dikenali dan diambil
manfaatnya serta dijadikan sebagai dasar dalam mengelola secara berkelanjutan kawasan
konservasi perairan di daerah.
Akhirnya, kami mengucapkan Puji Syukur kepada Allah SWT atas terselesaikannya
buku “Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (laut) Daerah (VOLUME – I)”. Ucapan
terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada semua
pihak yang telah membantu pengumpulan materi, penulisan dan penyelesaian penyusunan
buku ini. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 2009
Tim Penyusun

Buku "Mengenal Potensi Kawasan Konservasi Perairan (Laut) Daerah - Volume I" selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR 

Rabu, 03 Februari 2010

MERENCANAKAN DARI DESA

merencanakan dari desa - PEMBELAJARAN DARI PROGRAM PLBPM, selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR

MERENCANAKAN DARI DESA

merencanakan dari desa - PEMBELAJARAN DARI PROGRAM PLBPM, selengkapnya sebagaimana TERLAMPIR

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU

BUKU PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU, SELENGKAPNYA SEBAGAIMANA TERLAMPIR

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU

BUKU PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KONSERVASI PENYU, SELENGKAPNYA SEBAGAIMANA TERLAMPIR

Rabu, 25 November 2009

BAJO Berumah di Laut Nusantara

Judul Buku: BAJO Berumah di Laut Nusantara

Pengarang: Sudirman Saad

Kutipan dari Pengantar Penerbit - BAJO, berumah di laut Nusantara - COREMAP II, 2009.

Penerbitan buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” tak dapat dilepaskan dari upaya mengidentifikasi berbagai aspek sosialbudaya, ekonomi dan aspirasi masyarakat pesisir dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. Dalam hal ini, tak dapat dipungkiri, Suku Bajo sebagai komunitas yang tidak bisa dipisahkan dengan laut, memiliki tradisi unik dan amat kaya dalam hubungannya dengan laut. Tentu kekayaan budaya ini berbedabeda di berbagai tempat di mana komunitas Bajo berada, sesuai dengan pengaruh faktor teritorial dan geneologis mereka. Tapi ada satu kesamaan, yaitu sukubangsa ini memiliki kearifan lingkungan sebagai hasil dari suatu proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara terus-menerus. Dari proses yang berlangsung puluhan tahun, bahkan ratusan tahun itu, akhirnya membentuk semacam mekanisme pemecahan masalah.

Buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” yang ditulis Sudirman Saad dan kawan-kawan mencoba mengangkat masalah sosial-budaya dan sosialekonomi laut Suku Bajo, terutama dengan kehadirannya Taman Nasional Laut Wakatobi, sebagai referensi bagi para pengambil kebijakan pembangunan masyarakat pesisir. Dalam konteks Taman Nasional, apa yang terkandung dalam buku ini diharapkan dapat memperkuat pendapat bahwa suatu prakarsa konservasi melalui kehadiran sebuah taman nasional dapat dikatakan berhasil bila masyarakat setempat dilibatkan langsung. Kalau tidak, perlawanan akan terus menguat dan akan menghambat keberhasilan pengelolaan kawasan. Apalagi, kemunculan gerakan konservasi di Wakatobi lebih berdasarkan agenda ilmiah, yang untuk sebagian besar masyarakat setempat, khususnya Suku Bajo salah satu pemangku kepentingan laut Wakatobi, pikiran-pikiran ilmiah tidak dipahami mereka. Bahkan pikiran-pikiran yang dimunculkan dalam rangka konservasi tersebut sangat berbeda dengan alam pemikiran tradisional mereka tentang laut. Kondisi ini dapat menimbulkan konflik dalam diri setiap orang Bajo. Dengan demikian pendidikan menjadi sangat penting untuk menyertai pelaksanaan konservasi. Padahal inilah satu persoalan besar di lingkungan masyarakat Bajo di Wakatobi dewasa ini.

Semoga buku ini dapat memperkaya khasanah kepustakaan yang ada tentang masyarakat Bajo. Selamat membaca.

BUKU - BAJO Berumah di Laut Nusantara, selengkapnya dapat diperoleh di Sekretariat COREMAP II - Jl. Tebet Timur Dalam II No. 45 Jakarta Selatan, pdf buku dapat diunduh pada Lampiran berikut ini.

BAJO Berumah di Laut Nusantara

Judul Buku: BAJO Berumah di Laut Nusantara

Pengarang: Sudirman Saad

Kutipan dari Pengantar Penerbit - BAJO, berumah di laut Nusantara - COREMAP II, 2009.

Penerbitan buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” tak dapat dilepaskan dari upaya mengidentifikasi berbagai aspek sosialbudaya, ekonomi dan aspirasi masyarakat pesisir dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan. Dalam hal ini, tak dapat dipungkiri, Suku Bajo sebagai komunitas yang tidak bisa dipisahkan dengan laut, memiliki tradisi unik dan amat kaya dalam hubungannya dengan laut. Tentu kekayaan budaya ini berbedabeda di berbagai tempat di mana komunitas Bajo berada, sesuai dengan pengaruh faktor teritorial dan geneologis mereka. Tapi ada satu kesamaan, yaitu sukubangsa ini memiliki kearifan lingkungan sebagai hasil dari suatu proses adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara terus-menerus. Dari proses yang berlangsung puluhan tahun, bahkan ratusan tahun itu, akhirnya membentuk semacam mekanisme pemecahan masalah.

Buku “Bajo Berumah di Laut Nusantara” yang ditulis Sudirman Saad dan kawan-kawan mencoba mengangkat masalah sosial-budaya dan sosialekonomi laut Suku Bajo, terutama dengan kehadirannya Taman Nasional Laut Wakatobi, sebagai referensi bagi para pengambil kebijakan pembangunan masyarakat pesisir. Dalam konteks Taman Nasional, apa yang terkandung dalam buku ini diharapkan dapat memperkuat pendapat bahwa suatu prakarsa konservasi melalui kehadiran sebuah taman nasional dapat dikatakan berhasil bila masyarakat setempat dilibatkan langsung. Kalau tidak, perlawanan akan terus menguat dan akan menghambat keberhasilan pengelolaan kawasan. Apalagi, kemunculan gerakan konservasi di Wakatobi lebih berdasarkan agenda ilmiah, yang untuk sebagian besar masyarakat setempat, khususnya Suku Bajo salah satu pemangku kepentingan laut Wakatobi, pikiran-pikiran ilmiah tidak dipahami mereka. Bahkan pikiran-pikiran yang dimunculkan dalam rangka konservasi tersebut sangat berbeda dengan alam pemikiran tradisional mereka tentang laut. Kondisi ini dapat menimbulkan konflik dalam diri setiap orang Bajo. Dengan demikian pendidikan menjadi sangat penting untuk menyertai pelaksanaan konservasi. Padahal inilah satu persoalan besar di lingkungan masyarakat Bajo di Wakatobi dewasa ini.

Semoga buku ini dapat memperkaya khasanah kepustakaan yang ada tentang masyarakat Bajo. Selamat membaca.

BUKU - BAJO Berumah di Laut Nusantara, selengkapnya dapat diperoleh di Sekretariat COREMAP II - Jl. Tebet Timur Dalam II No. 45 Jakarta Selatan, pdf buku dapat diunduh pada Lampiran berikut ini.

Kamis, 23 April 2009

KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN DI INDONESIA (buku)

buku KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN DI INDONESIA, selengkapnya sebagaimana terlampir

KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN DI INDONESIA (buku)

buku KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN DI INDONESIA, selengkapnya sebagaimana terlampir

Jumat, 30 Januari 2009

Konsep dan Panduan Restorasi Terumbu

sumber: www.terangi.or.id , (c) yayasan terangi

http://www.terangi.or.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=39

Restorasi adalah tindakan untuk membawa ekosistem yang telah terdegradasi kembali menjadi semirip mungkin dengan kondisi aslinya sedangkan tujuan utama restorasi terumbu karang adalah untuk peningkatan kualitas terumbu yang terdegradasi dalam hal struktur dan fungsi ekosistem. Dalam bahasan disini mencakup restorasi fisik dan restorasi biologi. Yang membedakan restorasi fisik, yang mengutamakan perbaikan terumbu dengan fokus pendekatan teknik, dan restorasi biologis yang terfokus untuk mengembalikan biota berikut proses ekologis ke  keadaan semula.

g merusak seperti kandasnya perahu, penambangan karang, dan pengeboman ikan dapat menyebabkan kerusakan fisik yang besar pada kerusakan struktur terumbu atau menyebabkan terbentuknya kawasan dengan pecahan karang yang tidak stabil serta dasaran berpasir yang luas dimana kondisi ini tidak akan pulih setelah bertahun-tahun kecuali dilakukan restorasi fisik.
 Kegiatan restorasi biologis bisa dilakukan dengan budidaya karang misalnya propogansi karang secara aseksual dan seksual serta transplantasi karang. Dalam membudidayakan terdapat beberapa jenis karang yang cepat tumbuh dan mudah untuk difragmentasi tetapi sensitif bila dibandingkan jenis yang lambat tumbuh seperti submasif atau masif. Dalam melakukan transplantasi waktu memiliki peran, sebaiknya hindari pada saat karang mengalami tekanan yang tinggi yaitu pada bulan-bulan terpanas, dimana pemutihan terjadi. Setelah restorasi dilakukan maka pemantauan dan perawatan sama pentingnya dalam berhasil atau tidaknyBeberapa kegiatan yang merusak seperti kandasnya perahu, penambangan karang, dan pengeboman ikan dapat menyebabkan kerusakan fisik yang besar pada kerusakan struktur terumbu atau menyebabkan terbentuknya kawasan dengan pecahan karang yang tidak stabil serta dasaran berpasir yang luas dimana kondisi ini tidak akan pulih setelah bertahun-tahun kecuali dilakukan restorasi fisik.


 Kegiatan restorasi biologis bisa dilakukan dengan budidaya karang misalnya propogansi karang secara aseksual dan seksual serta transplantasi karang. Dalam membudidayakan terdapat beberapa jenis karang yang cepat tumbuh dan mudah untuk difragmentasi tetapi sensitif bila dibandingkan jenis yang lambat tumbuh seperti submasif atau masif. Dalam melakukan transplantasi waktu memiliki peran, sebaiknya hindari pada saat karang mengalami tekanan yang tinggi yaitu pada bulan-bulan terpanas, dimana pemutihan terjadi. Setelah restorasi dilakukan maka pemantauan dan perawatan sama pentingnya dalam berhasil atau tidaknya restorasi yang telah dilakukan.


Keefektifan biaya antar kegiatan dan metode yang digunakan dapat dibandingkan dengan meihat biaya setiap koloni karang hingga dewasa. Informasi dari kegiatan restorasi akibat tertabrak kapal di Karibia, yang melibatkan perubahan fisik melibatkan perubahan fisik, memerlukan biaya antara US$ 2 – 6,5 juta per hektar. Informasi dari kegiatan restorasi biologis biologis di Tanzania, Fiji dan Filipina, memerlukan biaya antara US$ 2.000 – 13.000 per hektar.


Untuk kegiatan restorasi kecil berbasis masyarakat, pemasukan yang didapat dari terumbu setelah direstorasi masih dibutuhkan hingga beberapa tahun untuk menutupi biaya restorasi, baik restorasi biologis maupun restorasi fisik.
Kegiatan restorasi terumbu karang saat ini hanya mencakup area yang sangat kecil, dan lebih berfokus untuk penelitian. Maka timbulah pertanyaan, apakah dengan  merestorasi terumbu karang dalam skala kecil menyebabkan ekosistem terumbu karang dapat pulih kembali. Bila suatu area kecil kita restorasi akan mempengaruhi wilayah sekitarnya. Pada saat ini untuk menjawab pertanyaan itu masih sulit, karena unutk memenuhi kesenjangan antara skala restorasi dan degradasi terumbu karang, perlu sebuah penelitian dan kombinasi antara proses ekologi, keterhubungan dalam skala luas dan proses oseanografi, dan pemodelan akan menawarkan sebuah harapan.a restorasi yang telah dilakukan.


Keefektifan biaya antar kegiatan dan metode yang digunakan dapat dibandingkan dengan meihat biaya setiap koloni karang hingga dewasa. Informasi dari kegiatan restorasi akibat tertabrak kapal di Karibia, yang melibatkan perubahan fisik melibatkan perubahan fisik, memerlukan biaya antara US$ 2 – 6,5 juta per hektar. Informasi dari kegiatan restorasi biologis biologis di Tanzania, Fiji dan Filipina, memerlukan biaya antara US$ 2.000 – 13.000 per hektar.


Untuk kegiatan restorasi kecil berbasis masyarakat, pemasukan yang didapat dari terumbu setelah direstorasi masih dibutuhkan hingga beberapa tahun untuk menutupi biaya restorasi, baik restorasi biologis maupun restorasi fisik.
Kegiatan restorasi terumbu karang saat ini hanya mencakup area yang sangat kecil, dan lebih berfokus untuk penelitian. Maka timbulah pertanyaan, apakah dengan  merestorasi terumbu karang dalam skala kecil menyebabkan ekosistem terumbu karang dapat pulih kembali. Bila suatu area kecil kita restorasi akan mempengaruhi wilayah sekitarnya. Pada saat ini untuk menjawab pertanyaan itu masih sulit, karena unutk memenuhi kesenjangan antara skala restorasi dan degradasi terumbu karang, perlu sebuah penelitian dan kombinasi antara proses ekologi, keterhubungan dalam skala luas dan proses oseanografi, dan pemodelan akan menawarkan sebuah harapan.

 

Klik disini untuk mengunduh (PDF 6,24 MB)

apabila tidak dapat diunduh, silahkan KLIK DISINI

Konsep dan Panduan Restorasi Terumbu

sumber: www.terangi.or.id , (c) yayasan terangi

http://www.terangi.or.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=39

Restorasi adalah tindakan untuk membawa ekosistem yang telah terdegradasi kembali menjadi semirip mungkin dengan kondisi aslinya sedangkan tujuan utama restorasi terumbu karang adalah untuk peningkatan kualitas terumbu yang terdegradasi dalam hal struktur dan fungsi ekosistem. Dalam bahasan disini mencakup restorasi fisik dan restorasi biologi. Yang membedakan restorasi fisik, yang mengutamakan perbaikan terumbu dengan fokus pendekatan teknik, dan restorasi biologis yang terfokus untuk mengembalikan biota berikut proses ekologis ke  keadaan semula.

g merusak seperti kandasnya perahu, penambangan karang, dan pengeboman ikan dapat menyebabkan kerusakan fisik yang besar pada kerusakan struktur terumbu atau menyebabkan terbentuknya kawasan dengan pecahan karang yang tidak stabil serta dasaran berpasir yang luas dimana kondisi ini tidak akan pulih setelah bertahun-tahun kecuali dilakukan restorasi fisik.
 Kegiatan restorasi biologis bisa dilakukan dengan budidaya karang misalnya propogansi karang secara aseksual dan seksual serta transplantasi karang. Dalam membudidayakan terdapat beberapa jenis karang yang cepat tumbuh dan mudah untuk difragmentasi tetapi sensitif bila dibandingkan jenis yang lambat tumbuh seperti submasif atau masif. Dalam melakukan transplantasi waktu memiliki peran, sebaiknya hindari pada saat karang mengalami tekanan yang tinggi yaitu pada bulan-bulan terpanas, dimana pemutihan terjadi. Setelah restorasi dilakukan maka pemantauan dan perawatan sama pentingnya dalam berhasil atau tidaknyBeberapa kegiatan yang merusak seperti kandasnya perahu, penambangan karang, dan pengeboman ikan dapat menyebabkan kerusakan fisik yang besar pada kerusakan struktur terumbu atau menyebabkan terbentuknya kawasan dengan pecahan karang yang tidak stabil serta dasaran berpasir yang luas dimana kondisi ini tidak akan pulih setelah bertahun-tahun kecuali dilakukan restorasi fisik.


 Kegiatan restorasi biologis bisa dilakukan dengan budidaya karang misalnya propogansi karang secara aseksual dan seksual serta transplantasi karang. Dalam membudidayakan terdapat beberapa jenis karang yang cepat tumbuh dan mudah untuk difragmentasi tetapi sensitif bila dibandingkan jenis yang lambat tumbuh seperti submasif atau masif. Dalam melakukan transplantasi waktu memiliki peran, sebaiknya hindari pada saat karang mengalami tekanan yang tinggi yaitu pada bulan-bulan terpanas, dimana pemutihan terjadi. Setelah restorasi dilakukan maka pemantauan dan perawatan sama pentingnya dalam berhasil atau tidaknya restorasi yang telah dilakukan.


Keefektifan biaya antar kegiatan dan metode yang digunakan dapat dibandingkan dengan meihat biaya setiap koloni karang hingga dewasa. Informasi dari kegiatan restorasi akibat tertabrak kapal di Karibia, yang melibatkan perubahan fisik melibatkan perubahan fisik, memerlukan biaya antara US$ 2 – 6,5 juta per hektar. Informasi dari kegiatan restorasi biologis biologis di Tanzania, Fiji dan Filipina, memerlukan biaya antara US$ 2.000 – 13.000 per hektar.


Untuk kegiatan restorasi kecil berbasis masyarakat, pemasukan yang didapat dari terumbu setelah direstorasi masih dibutuhkan hingga beberapa tahun untuk menutupi biaya restorasi, baik restorasi biologis maupun restorasi fisik.
Kegiatan restorasi terumbu karang saat ini hanya mencakup area yang sangat kecil, dan lebih berfokus untuk penelitian. Maka timbulah pertanyaan, apakah dengan  merestorasi terumbu karang dalam skala kecil menyebabkan ekosistem terumbu karang dapat pulih kembali. Bila suatu area kecil kita restorasi akan mempengaruhi wilayah sekitarnya. Pada saat ini untuk menjawab pertanyaan itu masih sulit, karena unutk memenuhi kesenjangan antara skala restorasi dan degradasi terumbu karang, perlu sebuah penelitian dan kombinasi antara proses ekologi, keterhubungan dalam skala luas dan proses oseanografi, dan pemodelan akan menawarkan sebuah harapan.a restorasi yang telah dilakukan.


Keefektifan biaya antar kegiatan dan metode yang digunakan dapat dibandingkan dengan meihat biaya setiap koloni karang hingga dewasa. Informasi dari kegiatan restorasi akibat tertabrak kapal di Karibia, yang melibatkan perubahan fisik melibatkan perubahan fisik, memerlukan biaya antara US$ 2 – 6,5 juta per hektar. Informasi dari kegiatan restorasi biologis biologis di Tanzania, Fiji dan Filipina, memerlukan biaya antara US$ 2.000 – 13.000 per hektar.


Untuk kegiatan restorasi kecil berbasis masyarakat, pemasukan yang didapat dari terumbu setelah direstorasi masih dibutuhkan hingga beberapa tahun untuk menutupi biaya restorasi, baik restorasi biologis maupun restorasi fisik.
Kegiatan restorasi terumbu karang saat ini hanya mencakup area yang sangat kecil, dan lebih berfokus untuk penelitian. Maka timbulah pertanyaan, apakah dengan  merestorasi terumbu karang dalam skala kecil menyebabkan ekosistem terumbu karang dapat pulih kembali. Bila suatu area kecil kita restorasi akan mempengaruhi wilayah sekitarnya. Pada saat ini untuk menjawab pertanyaan itu masih sulit, karena unutk memenuhi kesenjangan antara skala restorasi dan degradasi terumbu karang, perlu sebuah penelitian dan kombinasi antara proses ekologi, keterhubungan dalam skala luas dan proses oseanografi, dan pemodelan akan menawarkan sebuah harapan.

 

Klik disini untuk mengunduh (PDF 6,24 MB)

apabila tidak dapat diunduh, silahkan KLIK DISINI