Sabtu, 15 Maret 2008

Merangkul Nelayan, Menyelamatkan Terumbu Karang

Merangkul Nelayan, Menyelamatkan Terumbu Karang
 
Rabu, 12 Maret 2008 | 02:19 WIB

Oleh DWI AS SETIANINGSIH

Kehidupan masyarakat Bajo yang lekat dengan laut menjadikan keberadaan masyarakat setempat itu diakui dunia internasional sebagai bagian tak terpisahkan dari kelestarian laut.

Penyelamatan terumbu karang yang kini terus digenjot pemerintah melalui program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (Coral Reef Rehabilitation and Management Project/ Coremap) melibatkan banyak komunitas nelayan, salah satunya masyarakat Bajo.

Di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), populasi masyarakat Bajo mencapai 380.000 jiwa. Mereka tersebar di 328 desa di seluruh Sultra, menggantungkan hidup dari laut sejak berpuluh- puluh tahun lalu.

Di Kabupaten Wakatobi, nelayan Bajo kini aktif menjadi motivator dalam hal pelestarian terumbu karang. Penyelamatan terumbu karang di Wakatobi memiliki peran penting karena luas areal terumbu karang Wakatobi yang merupakan bagian dari segitiga karang dunia mencapai 90.000 hektar terdiri dari 750 jenis terumbu karang.

Jumlah itu mencapai 90 persen dari terumbu karang dunia yang saat ini sekitar 850 jenis. Sekitar 942 jenis ikan hidup di laut Wakatobi. Selain tuna dan cakalang, salah satu spesies laut yang hingga kini hanya ditemukan di laut Wakatobi adalah kuda laut moncong babi (pigmy sea horse).

Dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Wakatobi adalah jantung segitiga karang dunia. Menyelamatkan terumbu karang di Wakatobi sama artinya dengan menyelamatkan mayoritas jenis terumbu karang di dunia.

Terumbu karang sangat besar perannya sebagai tempat bagi banyak spesies ikan untuk bertumbuh kembang. Tidak hanya itu, terumbu karang juga bermanfaat sebagai sumber bahan obat dan medis. Menyelamatkan terumbu karang, berarti menjaga ketersediaan ikan bagi kelangsungan kehidupan.

Aktivitas pengeboman yang banyak dilakukan nelayan, termasuk nelayan Bajo, diakui mengakibatkan terumbu karang rusak, bahkan mati. Padahal, kerusakan dan matinya terumbu karang merupakan lonceng kematian bagi spesies ikan di dalamnya.

Saat ini, kerusakan terumbu karang juga mengancam jantung terumbu karang dunia Wakatobi. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra menunjukkan, kerusakan terumbu karang di seluruh Sultra diperkirakan 80 persen.

Kerusakan itu selain diakibatkan bom dan sianida, juga karena pemangsa alami terumbu karang seperti bulu babi atau mahkota berduri. Pemanasan global yang tengah menjadi pembicaraan dunia turut andil menyebabkan kerusakan terumbu karang karena mengakibatkan pemutihan.

Rustam (39), nelayan Bajo yang kini dirangkul Coremap, adalah satu dari sekian nelayan Bajo yang sekitar 15 tahun lalu menggunakan bom dan sianida untuk mencari ikan. Dengan bom dan sianida, kakek satu cucu ini mengakui, hasil laut yang diperoleh jauh lebih besar daripada hanya mengandalkan alat tangkap tradisional, seperti pancing dan jaring.

Dalam satu hari Rustam bisa mendapat uang Rp 100.000. Namun, menurut dia, keuntungan lebih besar justru dinikmati penampung. ”Sementara risiko yang kami hadapi jauh lebih besar,” kata Rustam.

Nelayan seperti Rustam memang tidak paham jika menangkap ikan menggunakan bom dan sianida dapat membahayakan terumbu karang, yang berakibat mengurangi ketersediaan ikan. Bagi mereka, selama hasil tangkapan ikan melimpah, segala cara akan ditempuh.

Kesadaran pentingnya kelestarian terumbu karang yang menjadi ”rumah” bagi ratusan jenis ikan baru timbul sejak Rustam dirangkul Coremap sebagai motivator. Perlahan tetapi pasti, Rustam paham bahwa mengelola terumbu karang dengan baik dan berkesinambungan menjadi hal penting demi keberlanjutan kehidupan masyarakat Bajo yang mengandalkan hidup dari laut.

Sebagai motivator, kini Rustam aktif memotivasi nelayan Bajo untuk menghentikan penggunaan bom dan sianida. Kesadaran akan pentingnya kelestarian terumbu karang ditularkan Rustam kepada nelayan lainnya. Sebagai penopang penghasilan, Rustam dan nelayan lainnya kini belajar membudidayakan ikan menggunakan karamba yang difasilitasi Coremap. Hasil panen karamba per enam bulan sekali itu bisa dijadikan tabungan, di sela-sela aktivitas mencari ikan-ikan karang sebagai pekerjaan utama.

Setidaknya, saat ini setiap hari Rustam bisa mendapat uang dari hasil tangkapan ikan, Rp 50.000. Baru-baru ini hasil yang diperoleh bahkan cukup fantastis, Rp 12 juta dalam 10 hari. Itu diraih dari hasil penjualan ikan karang yang ditangkap seiring dengan kondisi terumbu karang yang semakin baik.

Kondisi itu menyadarkan Rustam bahwa tanpa menggunakan bom dan sianida pun hasil tangkapan tetap berlimpah asalkan terumbu karang tetap terjaga.

Kaum perempuan di komunitas Bajo, yang juga menjadi garda depan ekonomi masyarakat Bajo, tidak luput dari upaya pemberdayaan yang dilakukan Coremap. Pada saat kaum lelaki sibuk mencari ikan di laut, perempuan-perempuan Bajo juga diajari membuka usaha, di antaranya membuka kios.

Nurjanah (31), motivator untuk kaum ibu, mengatakan, upaya itu tidak mudah. ”Ibu-ibu juga banyak yang ke laut mencari teripang,” paparnya.

Kelak, kaum ibu akan diarahkan membentuk koperasi simpan pinjam dan arisan sebagai salah satu upaya mengelola keuangan keluarga. Dengan upaya itu, kehidupan masyarakat Bajo menjadi lebih baik tanpa harus merusak terumbu karang yang menjadi komponen penting keanekaragaman hayati laut Indonesia.

Tidak mudah

Berbeda dengan nelayan di Wakatobi, yang mulai tergerak turut serta dalam penyelamatan terumbu karang, kaum nelayan di Pulau Kapoposang, Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, mengaku sulit menularkan kesadaran untuk menghentikan penggunaan bom dan sianida. Sekelompok nelayan yang ditemui di Desa Mattiro Ujung, Pangkep, menyatakan hal itu.

Borahima (32), nelayan asal Pulau Satando, yang berjarak empat jam perjalanan laut dari Kapoposang, mengatakan sulit mencegah nelayan di sekitar Taman Laut Kapoposang untuk mengubah tabiat mereka. Pasalnya, mencari ikan dengan bom dan sianida berhubungan erat dengan mata pencarian nelayan.

”Jadi, meskipun tahu mereka menggunakan bom atau sianida, kami tidak bisa menegur mereka. Kami sama-sama nelayan, kami paham bagaimana sulitnya hidup dari laut,” ujar Borahima. Kerusakan terumbu karang di wilayah Pangkep diperkirakan 70-80 persen.

Menurut Borahima, kesadaran akan pentingnya kelestarian terumbu karang memang sudah ada. Apalagi sejak Coremap menyasar Pangkep untuk membangun kesadaran masyarakat, banyak informasi diterima nelayan.

Namun, kembali karena mencari ikan di laut adalah mata pencarian mereka, sulit bagi nelayan menghentikan ketergantungan mereka pada penggunaan bom dan sianida. Bagi sebagian besar masyarakat nelayan, bom dan sianida dianggap mampu meningkatkan pendapatan mereka.

Kesadaran semakin sulit dibangun karena, menurut Zaenal (26), juga dari Pulau Satando, banyak aparat keamanan yang tidak sungguh-sungguh menindak pelaku pengeboman dan pembiusan. Akibatnya, aktivitas pengeboman dan pembiusan sulit dicegah dan dihentikan.

Meski demikian, di tengah pesimisme kalangan nelayan, saat ini kondisi terumbu karang di Kapoposang mulai menunjukkan peningkatan. Salah satu indikasi, sebagaimana diungkapkan Ketua Pengawas Masyarakat Kapoposang Haruna, jumlah ikan di salah satu titik meningkat dari 5 menjadi 10 ekor.

Kerja keras untuk membangun kesadaran nelayan agar terlibat dalam penyelamatan terumbu karang memang masih panjang. Tidak hanya bagi nelayan, tetapi juga bagi semua lapisan masyarakat yang berpotensi menjadi perusak kelestarian terumbu karang.

Tidak ada komentar: