Rabu, 19 September 2007

TENTANG KANKER USUS

dari berbagai sumber:
Sakit perut. Itulah keluhan yang kerap dirasakan Prasetyo, 45 tahun, selama tiga tahun sebelum akhirnya divonis menderita kanker kolorektal (usus besar). Awalnya, dia dinyatakan dokter menderita radang usus, sehingga hanya diberi obat antiradang, penghilang rasa sakit, dan antibiotik. Namun, obat-obatan itu tak pernah mampu menghilangkan keluhannya secara tuntas. Alhasil, sakit perut itu berulang, dan selalu berulang. Sampai suatu ketika, ia merasakan sakit yang hebat di perutnya. Prasetyo pun kembali ke dokter. Kali ini, dokter mengatakan, ada perlengketan di usus besarnya sehingga harus dilakukan pembedahan. Sebagian usus besarnya pun dipotong. Selesai masalah? Ternyata tidak. Prasetyo yang perokok berat ini masih sering merasakan sakit di perut. Tubuhnya pun makin kurus, dan kerap mengalami diare. Penyebab dari sakit perut itu akhirnya diketahui lewat pemeriksaan di sebuah rumah sakit besar di Bandung. Kanker dipastikan telah bersarang di usus besar Prasetyo, dan telah mencapai stadium IV. Empat bulan setelah mendengar vonis ini, Prasetyo berpulang untuk selama-lamanya.Kanker usus besar adalah salah satu jenis kanker yang cukup sering ditemui, utamanya pada pria dan wanita berusia 50 tahun atau lebih. Pada pria, kanker usus besar menempati urutan ketiga sebagai kanker tersering yang ditemui setelah kanker prostat dan paru-paru. Sementara pada wanita, kanker ini pun menempati urutan ketiga setelah kanker payudara dan paru-paru. ''Dari berbagai laporan, di Indonesia terdapat kenaikan jumlah kasus (kanker usus besar), meskipun belum ada data yang pasti. Data di Departemen Kesehatan didapati angka 1,8 per 100 ribu penduduk,'' tutur dokter Adil S Pasaribu, SpB KBD, spesialis bedah dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Kanker usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum. Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau adenoma, yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, adenoma dapat diangkat dengan mudah. Hanya saja pada stadium awal ini, seringkali adenoma tidak menampakkan gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama. Padahal, adenoma yang awalnya tak menimbulkan keluhan apapun ini, pada suatu saat bisa berkembang menjadi kanker yang menggerogoti semua bagian dari usus besar.Gejala awal yang tidak khas ini membuat banyak penderita kanker usus besar datang ke rumah sakit ketika perjalanan penyakit sudah demikian lanjut. Upaya pengobatan pun menjadi sulit. Padahal, seperti dikatakan Ketua Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, dokter Aru Sudoyo SpPD KHOM, kunci utama keberhasilan penanganan kanker usus besar adalah ditemukannya kanker dalam stadium dini, sehingga terapi dapat dilaksanakan secara bedah kuratif. Sayangnya, hal seperti ini sangat jarang. Yang kerap terjadi adalah kasus seperti dialami Prasetyo, yakni kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga harapan penderita untuk bertahan hidup menjadi sangat kecil. Jika kanker usus besar ditemukan pada stadium I, peluang penderita untuk hidup hingga lima tahun mencapai 85-95 persen. Sementara bila ditemukan pada stadium II, peluang itu mencapai 60-80 persen, pada stadium III sekitar 30-60 persen, dan stadium IV sekitar 25 persen. ''Ini artinya, bila ada 100 penderita kanker usus besar stadium IV, maka yang masih hidup sampai lima tahun hanya lima orang,'' ucap Aru. Deteksi diniUntuk menghindari kemungkinan terburuk, seperti dialami Prasetyo, deteksi dini merupakan hal yang sangat penting. ''Deteksi dini atau skrining terhadap kanker ini, dapat menyelamatkan hidup,'' tegas Adil. Dengan deteksi dini dapat ditemukan adanya polip prakanker, yaitu suatu pertumbuan abnormal pada usus besar atau rektum yang dapat segera dibuang sebelum berubah menjadi kanker. ''Jika semua orang yang berumur 50 tahun atau lebih melakukan skrining secara teratur, maka sebanyak 60 persen kematian akibat kanker kolorektal dapat dihindari,'' tuturnya.Deteksi dini adalah investigasi pada individu asimtomatik (tanpa gejala) yang bertujuan untuk mendeteksi adanya penyakit pada stadium dini sehingga dapat dilakukan terapi kuratif. Secara umum, urai Adil, deteksi dini dapat dilakukan pada dua kelompok, yaitu populasi umum dan kelompok risiko tinggi. Deteksi dini pada kelompok populasi umum dilakukan kepada individu yang berusia di atas 40 tahun. Sedangkan mereka yang tergolong kelompok berisiko tinggi, antara lain adalah mereka yang pernah menjalani polipektomi untuk adenoma di usus besar, dan orang-orang yang berasal dari keluarga dengan riwayat penyakit ini. Terkait dengan riwayat keluarga, Anda tak perlu khawatir berlebihan jika berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar. Menurut Adil, faktor genetik memang bisa menjadi penyebab munculnya penyakit ini, tapi faktor tersebut bisa dipersempit. Caranya, ubahlah pola makan Anda dan lakukan deteksi dini. Penyebab dan gejalaSejauh ini, penyebab kanker usus besar memang belum diketahui secara pasti. Hanya saja, ada beberapa hal yang diduga kuat berpotensi memunculkan penyakit ganas ini, yaitu: cara diet yang salah (terlalu banyak mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan protein, serta rendah serat), obesitas (kegemukan), pernah terkena kanker usus besar, berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker usus besar, pernah memiliki polip di usus, umur (risiko meningkat pada usia di atas 50 tahun), jarang melakukan aktivitas fisik, sering terpapar bahan pengawet makanan maupun pewarna yang bukan untuk makanan, dan merokok.Dalam buku Panduan Pengelolaan Adenokarsinoma Kolorektal disebutkan bahwa meskipun penelitian awal tidak menunjukkan hubungan merokok dengan kejadian kanker usus besar, namun penelitian terbaru menunjukkan, perokok jangka lama (30-40 tahun) mempunyai risiko berkisar 1,5-3 kali. Diperkirakan, satu dari lima kasus kanker usus besar di Amerika Serikat bisa diatributkan kepada perokok. Penelitian kohort dan kasus-kontrol dengan desain yang baik menunjukkan, merokok berhubungan dengan kenaikan risiko terbentuknya adenoma dan juga kenaikan risiko perubahan adenoma menjadi kanker usus besar. ''Karena itu untuk mencegah kejadian kejadian kanker usus besar dianjurkan untuk tidak merokok,'' kata Aru. Mengenai gejala kanker usus besar, Aru menyebut beberapa hal yang kerap dikeluhkan para penderita, yaitu:
*
Perdarahan pada usus besar yang ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar.
*
Perubahan pada fungsi usus (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas, lebih dari enam minggu.
*
Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
*
Rasa sakit di perut atau bagian belakang.
*
Perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar.
*
Rasa lelah yang terus-menerus
*
Kadang-kadang kanker dapat menjadi penghalang dalam usus besar yang tampak pada beberapa gejala seperti sembelit, rasa sakit, dan rasa kembung di perut.
Untuk menangani kanker usus besar, menurut Aru, terapi bedah merupakan cara yang paling efektif, utamanya bila dilakukan pada penyakit yang masih terlokalisir. Namun, bila sudah terjadi metastasis (penyebaran), penanganan menjadi lebih sulit. Tetapi, dengan berkembangnya kemoterapi dan radioterapi pada saat ini, memungkinkan penderita stadium lanjut atau pada kasus kekambuhan untuk menjalani terapi adjuvan. Terapi adjuvan adalah kemoterapi yang diberikan setelah tindakan operasi pada pasien kanker stadium III guna membunuh sisa-sisa sel kanker.Saat ini, terapi adjuvan bisa dilakukan tanpa suntik (infus), melainkan dengan oral/tablet (Capacitabine). Ketersediaan capacitabine tablet memungkinkan pasien untuk menjalani kemoterapi di rumah yang tentu saja efektivitasnya lebih baik. ''Capacitabine juga merupakan kemoterapi oral yang aman dan bekerja sampai ke sel kanker,'' kata Aru yang juga menjabat sebagai ketua Komisi Terapi Adjuvan, Kelompok Kerja Adenokarsinoma Kolorektal Indonesia.Jurus Menangkal Kanker Usus BesarMencegah jauh lebih baik ketimbang mengobati. Hal itu juga berlaku pada kanker usus besar. Agar tak sampai terjamah penyakit mematikan ini, lakukan upaya pencegahan. Simak tips pencegahan dari dokter Adil S Pasaribu SpB KBD berikut ini:
*
Hindari makanan tinggi lemak, protein, kalori, serta daging merah. Jangan lupakan konsumsi kalsium dan asam folat.
*
Setelah menjalani polipektomi adenoma disarankan pemberian suplemen kalsium.
*
Disarankan pula suplementasi vitamin E, dan D.
*
Makan buah dan sayuran setiap hari.
*
Pertahankan Indeks Massa Tubuh antara 18,5 - 25,0 kg/m2 sepanjang hidup.
*
Lakukan aktivitas fisik, semisal jalan cepat paling tidak 30 menit dalam sehari.
*
Hindari kebiasaan merokok.
*
Segera lakukan kolonoskopi dan polipektomi pada pasien yang ditemukan adanya polip.
*
Lakukan deteksi dini dengan tes darah samar sejak usia 40 tahun.
(nri/bur ) Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=266724&kat_id=123


Makanan Cepat Saji Picu Kanker Usus Besar
JAKARTA – Kebiasaan menyantap makanan cepat saji seolah menjadi tren saat ini. Iklan dan promosinya memang lumayan menggoda selera, tapi kalau sampai berlebihan, kanker usus besar bisa mengintai.Walau belum menjadi momok mengerikan seperti jenis kanker lain, kanker usus besar lumayan berbahaya. Situs berita HealthDaysNews belum lama ini menyatakan tahun ini di Amerika Serikat (AS) saja sudah ada 57.000 orang meninggal akibat kanker usus besar. Mayoritas (97 persen) penderitanya adalah mereka yang berusia di atas 40 tahun. Di Indonesia pasiennya belum terdeteksi secara pasti. Namun Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menyatakan setiap tahun menerima 50 pasien baru penderita kanker usus besar.Sedemikian besarnya risiko kanker usus besar ini kian mengintai, sampai-sampai di di AS bulan Maret ini ditetapkan sebagai bulan kewaspadaan terhadap kanker usus besar. Hal tersebut diakibatkan semakin banyaknya orang di AS yang mengonsumsi makanan siap saji yang notabene memiliki kandungan serat sangat rendah. Kepada mereka yang sudah punya gejala kanker usus besar, diharuskan mengonsumsi banyak sayuran, buah dan zat besi. ”Tapi yang paling penting adalah kedisiplinan mereka,” ujar Dr. David A. Johnson, kepala bagian gastrieoterologi di Eastern Virginia School of Medicine.Siapa yang berpotensi kena kanker usus besar? Tentu saja mereka yang paling sering mengonsumsi makanan berlemak seperti yang disajikan pada rumah makan cepat saji. Makanan berlemak seperti hamburger, ayam goreng, kentang goreng, dan sejenisnya hanya akan memperlambat waktu transit makanan. Zat karsinogenik yang terkandung dalam makanan tadi akan lama mengendap di dinding usus sehingga memicu pertumbuhan kanker di sana.Penelitian tentang hubungan antara konsurnsi serat dengan pencegahan kanker usus terus dilakukan di banyak negara. Temuan terbaru tahun 2003 di Eropa, disebutkan bahwa peningkatan konsumsi serat pada masyarakat Eropa hingga 30 gram per hari dari sebelumnya hanya 15 gram per hari, terbukti dapat mengurangi risiko pembentukan kanker usus hingga 40 persen. Deteksi DiniLangkah terbaik adalah, pada usia antara 30-40 tahun mulai memeriksakan diri ke dokter. Ini bermanfaat bagi deteksi dini pertumbuhan kanker usus besar. Gejala kanker ini nyaris mirip dengan diare, yaitu adanya darah dalam tinja. Gejala akhir termasuk pucat, sakit pada umumnya, malnutrisi, lemah, kurus, terjadi cairan di dalam rongga perut, pembesaran hati, serta pelebaran saluran limpa.Kalau memang ditemukan tanda-tanda tersebut dokter akan mengambil tindakan berupa kolonoskopu, sigmoidoskopi atau tes darah. Kolonoskopi adalah prosedur memasukkan tabung panjang berkamera ke dalam usus besar melalui lubang anus. Dari sini bisa terlihat jelas bagian mana saja yang sudah terkena kanker. Sedangkan sigmoidoskopi merupakan prosedur yang hampir serupa yang terbatas memonitor bagian usus yang bernama sigmoid. Daripada harus mengikuti prosedur ”mengerikan” seperti di atas, bukankah sebaiknya kita membiasakan diri dengan pola makan sehat? Sebenarnya mudah saja, kata kuncinya adalah makanan berserat. Mengkonsumsi makanan berserat banyak manfaatnya. Serat merupakan bagian dari tumbuhan yang tak sepenuhnya dapat diserap, sehingga menambah massa dalam tinja. Hal ini akan memicu pergerakan tinja dalam usus, yang akan menimbulkan keteraturan pergerakan usus. Dengan banyak makan makanan berserat, maka jadwal buang air besar akan lebih teratur. Buang air besar yang teratur akan memperpendek lamanya tinja berada di usus, sehingga memperkecil penyerapan zat-zat berbahaya oleh dinding usus. Hal ini akan mengurangi kemungkinan mendapat kanker usus di kemudian hari. Serat dapat diperoleh dari beras, sayuran, beras merah, gandum, kacang, popcorn, dan tentunya dari sayuran dan buah-buahan. Tentu saja, semua bahan makanan itu jauh lebih murah daripada harga makanan di restoran cepat saji. (SH/merry magdalena)



Copyright © Sinar Harapan 2003


Deteksi Dini, Turunkan Angka Kanker Usus Besar
Jakarta - Kecenderungan mengonsumsi makanan cepat saji yang memiliki kandungan serat rendah, mengakibatkan meningkatnya kasus kanker usus besar (colon). Di Amerika Serikat, berdasarkan laporan American Cancer Society, kanker usus besar adalah penyakit kedua penyebab kematian akibat keganasan. Sedangkan di Indonesia, meskipun belum ada data pasti, angka kanker usus besar juga cukup besar. Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta mengatakan, setiap tahun menerima 50 pasien baru penderita kanker usus besar. Selain mengonsumsi makanan tinggi serat, masyarakat juga disarankan melakukan deteksi dini, terutama bagi yang berusia 40-an.Pentingnya deteksi dini untuk menghadapi kanker usus besar itu dikemukakan Patricia M. Widjaja dari Bagian Radiologi RS Husada, dalam simposium di Jakarta, akhir pekan lalu. ”Kanker usus besar saat ini merupakan penyebab kematian kedua dari kematian karena keganasan. Awal terjadinya kanker itu berkaitan dengan munculnya polip di usus besar. Deteksi dini dan pengangkatan polip terbukti menurunkan angka kanker usus besar,” ujarnya. Gejala kanker ini nyaris mirip dengan diare, yaitu adanya darah dalam tinja. Gejala akhir termasuk pucat, sakit pada umumnya, malnutrisi, lemah, kurus, terjadi cairan di dalam rongga perut, pembesaran hati, serta pelebaran saluran limpa.Pemeriksaan ada tidaknya kanker usus besar itu biasanya dilakukan dengan fiberoptik kolonoskopi. Pemeriksaan itu dilakukan dengan memasukkan sejenis pipa terbuat dari serat optik ke dalam usus melalui anus (dubur). Kamera yang terdapat pada alat itu bisa digunakan untuk melakukan pemeriksaan apakah dalam usus terdapat polip atau tidak. Sayangnya, fiberoptik kolonoskopi memakan waktu cukup lama dan tidak nyaman bagi pasien. Selain itu, ada risiko komplikasi meskipun tak besar, yakni sebesar 0,3 %. Selain fiberoptik kolonoskopi, lanjut Patricia, pemeriksaan kanker usus juga bisa dilakukan dengan CT-Scan. Tahun 1980-an, CT-scan memang tidak banyak digunakan untuk mendeteksi polip pada usus besar karena alat itu tidak bisa mengatasi keterbatasan teknis seperti ketebalan potongan dan kecepatan scan. Tetapi selama 8 tahun terakhir, dengan ditemukannya MultiDetectorsCT (MSCT), kolonoskopi bisa dilakukan secara cepat dan lebih nyaman bagi pasien. Hasil yang diperoleh pun relatif akurat, karena alat itu mampu menghasilkan 16 slice, sehingga pemeriksaan lebih detail. Alat itu, menurut Patricia, bisa mendeteksi polip yang berukuran 10 mm atau lebih besar. Dibandingkan dengan fiberoptik kolonoskopik, ujar Patricia, pasien tidak perlu melakukan sedasi, pemeriksaan hanya berlangsung selama beberapa menit, dan pasien dapat meninggalkan rumah sakit setelah pemeriksaan selesai dilakukan. Kekurangannya, pencernaan pasien harus benar-benar dalam kondisi bersih saat pemeriksaan dilakukan, agar pengambilan gambar tak terganggu. Kalau perlu, pasien harus mengonsumsi obat pencuci perut. Selain itu, pemeriksaan menggunakan alat tersebut biayanya cukup mahal.(SH/ruth hesti utami)



Copyright © Sinar Harapan 2003

Tidak ada komentar: